Halloween party ideas 2015

Puasa Katolik: Ampun Seribu Ampun
 
FOTO: cantualeantonianum.com
Hanya debulah aku
Di alas kaki-Mu Tuhan
Hauskan titik embun
Sabda penuh ampun

Ampun seribu ampun
Hapuskan dosaku
Segunung sesal ini
Kuhunjuk pada-Mu

Syair ini adalah penggalan lagu berjudul “Hanya debulah aku”. Lagu ini bernada lambat penuh sesal dan bergaya Sunda. Inilah salah satu lagu yang paling tenar—di Gereja Katolik Indonesia—selama masa puasa. Masa puasa ini akan berlangsung selama 40 hari sampai pada Pesta Paskah nanti. Tahun ini, masa Puasa atau juga disebut Prapaskah ini dimulai pada tanggal 1 Maret kemarin.

Lagu di atas menggambarkan sejarah awal manusia. Manusia berasal dari debu. Tampak seperti tidak ada apa-apanya. Nilainya hanya sebatas nilai debu. Memang, manusia tidak bernilai apa-apa terutama di bandingkan dengan Tuhan. Nilainya hanya sebatas debu. Di mata manusia, debu hanyalah sebuah wujud ringan yang mudah terbang ke sana ke mari oleh angin. Debu yang tak bernilai ini rupanya menjadi sesuatu yang bernilai di mata Tuhan. Ya, manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.

Tuhan kiranya tidak salah memilih debu menjadi sarana untuk membentuk manusia. Debu bersifat ringan sehingga mudah terbang. Manusia kadang lupa akan sifat asalinya ini. Manusia kadang menjadi berat sekali. Berat untuk membantu sesama, untuk mengambil inisiatif, untuk mengakui kesalahan sendiri, untuk berdiam sejenak sebelum berkomentar, dan berat-berat lainnya. Manusia yang berat—dengan demikian—adalah manusia yang lupa akan dirinya.

Manusia hanyalah sebuah butiran debu sehingga mestinya ringan. Kalau menjadi berat, boleh jadi manusia itu menampung debu lain yang tak berguna. Debu yang kotor biasanya lengket dan akan menjadi tebal. Ketebalan ini membuat debu menjadi makin berat.

FOTO: globalplus.thearda.com

Dalam Gereja Katolik, masa puasa sering diidentikkan dengan masa untuk berubah. Dalam bahasa rohaninya disebut masa untuk bertobat. Perubahan inilah yang diperjuangkan oleh umat Katolik selama 40 hari. Berubah terutama dari yang buruk menjadi yang baik. Maka, perubahan yang utama adalah yang berasal dari diri sendiri. Masa puasa dengan demikian bukan masa untuk menunjuk pada orang lain tetapi terutama dan pertama-tama menunjuk pada diri sendiri.

Inilah perubahan yang asli dan murni. Karena asli dan murni, umat Katolik pun tidak boleh melarang orang lain untuk tidak menjual makanan yang enak dan menggoda selama masa puasa. Puasanya akan makin baik jika Anda melihat makanan itu dan tidak tergoda untuk memakanannya dengan penuh nafsu. Tetapi, jika Anda melarang orang lain untuk berjualan, ini bukan puasa lagi. Ini namanya membatasi kebebasan orang lain. Dan, ini tentu saja bertolak belakang dengan nilai masa puasa yakni berjalan menuju pembebasan.

Di Italia—negara bermayoritas Katolik—tidak ada larangan menjual makanan selama masa puasa. Mereka tahu, kalau ada larangan, roda perekonomian berhenti berputar. Gereja Katolik sendiri memang tidak melarang hal ini. Malahan, Gereja memberi kebebasan pada umatnya untuk menikmati semuanya ini dalam semangat berpuasa. Maksudnya, Anda tetap berpuasa dalam situasi seperti ini. Sebab, bukan mereka yang berpuasa tetapi Anda, sehingga Anda mesti menyesuaikan diri dengan mereka, dan bukan sebaliknya. Menarik sekali.

Perubahan erat kaitannya dengan pengharapan. Hanya mereka yang punya harapan-lah yang biasa berubah. Atau sebaliknya, orang yang mau berubah adalah orang yang memiliki pengharapan. Maka, seberat apa pun kesalahan itu, selalu ada kemungkinan untuk dimaafkan. Inilah pengharapan. Lagu di atas tadi—khususnya bait ke-2—menggambarkan pengharapan ini. Manusia memohon ampun atas kesalahannya dan pada akhirnya dia akan kembali pada jalan yang Tuhan tunjukkan.

Pengharapan ini menjadi salah satu tema penting dalam puasa umat Katolik. Paus Fransiskus dalam audiensi Rabu-an kemarin menyinggung soal ini. Paus bilang bahwa masa puasa adalah sebuah jalan pengharapan. Jalan ini kadang berat. Bayangkan selama 40 hari, umat Katolik mesti berpuasa. Puasa ini konkretnya dalam 3 bentuk yakni berpantang, berdoa, dan memberi sedekah. Berpantang di sini tidak terkait dengan larangan minum dan makan ini atau itu. Pantang yang dianjurkan oleh Gereja Katolik adalah pantang makan daging terutama sekali pada Rabu Abu (awal masa puasa) dan Jumat Agung (jelang akhir).
 
Billy Ray Harris, seorang pengemis di Kansas City, FOTO: scuolazoo.com

Namun, pantang dalam bentuk lainnya bisa dipilih sendiri. Asal niatnya jelas untuk berubah. Maka, umat Katolik pun misalnya bisa pilih pantang rokok selama masa puasa, pantang makanan tertentu yang paling ia sukai, pantang judi—jika ia penjudi. Pantang di sini bertujuan agar dia menyadari keadaannya dan berubah ke jalan yang baik. Maka, inti dari pantang adalah kembali menjadi diri sendiri yang berubah. Pantang—dengan demikian—bukan sekadar tidak berbuat ini dan itu tetapi lebih pada motif mengapa saya mesti menanggalkan kebiasaan ini dan itu.

Hal yang sama berlaku untuk berdoa dan bersedekah. Berdoa mestinya ditingkatkan selama masa puasa. Jika selama ini mungkin hanya berdoa untuk diri sendiri, di masa puasa diusahakan berdoa juga untuk orang lain, untuk negara, dunia, gereja, warga yang terkena bencana, yang kelaparan, yang susah mendapat layanan pendidikan, yang terkena gizi buruk, yang hidup dalam peperangan, dan sebagainya. Berdoa model ini tidak berpusat pada diri sendiri tetapi pada orang lain. Oleh karena itu, doa ini mesti lahir dari lubuk hati yang paling dalam.

Bersedekah juga menjadi satu dari tiga hal yang dianjurkan selama masa puasa. Bersedekah di sini lebih berarti memerhatikan keadaan orang lain. Jika dalam berdoa, perhatian ini terutama dijiwai dengan doa, dalam bersedekah perhatian ini menjadi nyata. Maka, memberi—sebesar atau sekecil apa pun—menjadi amat penting. Bersedekah—dengan demikian—bukan terutama pada jumlah bantuan tetapi pada kerelaan hati untuk memberi.

Rasa-rasanya puasa seperti ini sulit sekali. Umat Katolik pun tentunya merasakan sulitnya. Maka, jika Anda tidak ingin merasakan keadaan yang sulit, jangan memilih menjadi orang Katolik. Kesulitan ini rasa-rasanya seperti berjalan dalam gelap. Paus Fransiskus pun menggambarkan kesulitan ini seperti berjalan dalam kegelapan. Tetapi—menurut Paus—di ujung jalan ini ada terang. Itulah sebabnya, Paus menamai masa puasa sebagai masa pengharapan.

Pengaharapan ini—lanjut Paus Fransiskus—nyata dalam perjalanan dari gelap menuju terang. Dalam sejarahnya, masa puasa 40 hari ini mau menggambarkan perjalanan umat Israel menuju Tanah Terjanji. Umat Israel—sebagaimana diceritakan dalam Perjanjian Lama—bahkan berjalan lebih dari 40 hari. Perjalanan mereka disimbolkan dengan angka 40 tahun. Ini berarti makin lama lagi. Ini memang hanya angka simbolis saja. Maka, Gereja Katolik memilih untuk menyimbolkannya juga dengan 40 hari dalam setiap tahunnya.

Perjalanan ini selain melelahkan tentu melewati lorong-lorong gelap. Dalam gelap, biasanya akan kelihatan jati diri manusia. Menurut Paus Fransiskus, jati diri manusia adalah rapuh dan penuh dosa. Dosa-dosa dan kerapuhan ini disimbolkan dalam perjalanan selama 40 tahun ini. Dosa—tegas Paus—pada umumnya mengikat manusia. Maka, begitu jatuh dalam dosa, sulit sekali untuk bangkit.
 
Abu di dahi, FOTO: duepuntotre.it
Manusia—betapa pun dia jatuh—mestinya bisa bangun lagi. Proses bangun kembali ini adalah masa untuk mencari kebebasan. Jika dosa bersifat memikat, perjalanan dalam gelap ini bersifat membebaskan. Puasa dengan demikian adalah perjalanan menuju pembebasan. Jika umat Israel ingin bebas dari perbudakan, umat Katolik berjalan dan ingin bebas dari budak dosa.

Perjalanan menuju pembebasan ini butuh waktu panjang. Tidak bisa bebas dalam waktu singkat. Itulah sebabnya, Paus Fransiskus mengatakan masa puasa hendaknya dibuat setiap hari. Perjalanan menuju pembebasan mesti dibarui setiap hari. Hanya dengan ini, perjalanan panjang ini tidak akan terasa berat.

Selamat berpuasa untuk umat Katolik. Inilah ramadhan bagi mereka. Semoga menjadi masa yang betul-betul memperbarui diri sendiri. Ingat, jalannya berat, gelap, tetapi mestinya tetap ingat akan pengharapan. Sebab, di ujung sana ada terang. Seperti Yesus yang mengalami sengsara, pada akhirnya nanti akan bangkit pada Minggu Paskah. Sengsara Yesus diingatkan terus dan bahkan dihidupi lagi setiap hari Jumat selama masa Prapaskah dengan ibadat Jalan Salib. Salib bagi orang Yahudi adalah simbol kegagalan dan kejahatan, namun bagi orang Katolik, Salib adalah simbol kemenangan. Menang dari dosa. Sebab, Salib bukan akhir tetapi jalan menuju kebangkitan alias hidup kembali.

Selamat ber-ramadhan ria bagi umat Katolik.

BACA JUGA: ABU DI DAHI TANDA PERTOBATAN

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 2/3/2017
Gordi

*Dari postingan saya di sini

Post a Comment

Powered by Blogger.