Halloween party ideas 2015

Gambar dari nonstop-online.com
Anggun rupanya sudah memebaca reaksi rakyat Indonesia atas surat terbukanya. Surat yang dia tulis sebelumnya berisi penyesalannya atas praktik hukuman mati di Indonesia. Di situ, dia menyatakan ketidaksetujuannya atas hukuman mati. Dia juga memohon kepada presiden RI untuk tidak mempraktikkan hukuman mati ini. Surat itu pun ibarat petir di siang bolong bagi warga dunia maya.

Warga dunia maya dari Indonesia memberi tanggapan. Banyak yang setuju dan sependapat dengan Anggun. Ada juga yang tidak setuju. Ada yang bahkan mengecam isi surat itu. Ada juga yang mempertanyakan latar belakang surat itu. Ada yang menduga, surat itu ditulis karena ada warga Prancis yang jadi calon terpidana mati di Indonesia. Dengan demikian, Anggun tentunya ingin membela warga negaranya ini. Anggun yang berdarah Indonesia-Jawa ini sudah pindah ke Prancis. Dalam suratnya dia memaparkan latar belakang budaya aslinya dan kemudian seperti membanggakan bahwa dia sudah lama tinggal di Prancis. Dia memang sudah warga Prancis. Seperti kita ketahui, Indonesia tidak mengenal kewarganegaraan ganda. Maka, Anggun yang berkewarganegaraan Prancis itu, di Indonesia tidak dianggap sebagai WNI lagi. Entah, di Prancis sana dia juga masih dianggap WNI.

Hari ini, Anggun menulis tanggapan lagi. Tanggapannya ditulis dalam bahasa Indonesia dan diberi judul bahasa Inggris. Entah mengapa demikian. Dipahami saja, Anggun ‘orang internasional’ yang tinggal di Prancis. Tapi, dalam surat itu tidak satu kata pun bahasa Prancis. Malah, bahasa Inggris dan sebagian besar bahasa Indonesia.

Isi Surat Anggun
Menarik menyimak surat Anggun kali ini. Dia mengatakan sekali lagi, dia mendukung pemberantasan narkoba. Dia mengecam koruptor yang membantu memasukkan agen narkoba ke Indonesia. Dia juga ingin mendukung proyek untuk membantu keluarga korban narkoba. Dia mendukung hukuman seberat-beratnya kepada gembong narkoba. Tetapi, dia tidak setuju jika gembong narkoba dibunuh. Dia berargumen, nyawa manusia hanya bisa dicabut oleh Allah saja.

Tampak Anggun menghormati hak hidup manusia. Hak hidup yang menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Anggun memang bekerja sama dengan PBB sebagai pembela HAM. Kiranya tidak ada yang membantah misi Anggun sebagai pembela HAM, juga misi PBB. Namun, benarkah Anggun pembela HAM?

Mempertanyakan peran Anggun sebagai Pembela HAM
Katanya, Anggun adalah pembela HAM. Dia katakan dengan jelas dalam suratnya. Bisa dipahami jika Anggun juga ikut membela warga Prancis yang jadi calon terpidana mati di Indonesia. Jelas juga jika Anggun membelanya karena calon korban adalah teman warga negaranya. Tetapi, pertanyaannya mengapa Anggun hanya membela calon itu? Jika benar pembela HAM, mengapa tidak membela yang lainnya? Mengapa Anggun yang berdarah Indonesia-Jawa itu tidak ikut membela warga Negara Indonesia yang ikut terbunuh di luar negeri?

Salut dengan pembelaan Anggun terhadap kehidupan terpidana. Tetapi, semestinya Anggun dan rekan kerjanya PBB membela sampai tuntas. Jangan hanya membela untuk warganya saja. PBB itu badan internasional dan sebaiknya bekerja di level internasional. Jangan bekerja sampai penduduk dunia memberi kesan PBB bekerja sebagian saja.

Seperti PBB, Anggun juga mestinya demikian. Jika darahmu Indonesia-Jawa, bela dunk warga Negara Indonesia yang terancam hukuman mati. Jangan hanya membela warga negaramu saja. Dan, lebih dari membela calon korban terpidana, sebaiknya Anggun bekerja dalam metode yang lain juga.

Anggun sebagai pembela HAM sebaiknya ikut memberi penyuluhan agar narkoba tidak merajalela seperti barang dagangan. Anggun sebaiknya ikut memberantas perdagangan narkoba. Begitu kan Anggun, kalau mau benar-benar jadi pembela HAM.

PRM, 2/5/15
Gordi


Il mondo cambia, il modo d’evangelizzare bisogna cambia. Ma, è vero o no, se il modo d’evangelizzare cambia, automaticamente può evangelizzare in modo giusto?

Enzo Bianchi in questo libro ci spiega che per l’evangelizzazione occorra saper mostrare un cristianesimo umano, dunque fedele alla terra (p. 46). In questo senso, io credo che un vero evangelizzatore sia un uomo. Non dipende pienamente dal media.

Nella pagina cinquantuno autore di questo libro ancora ci spiega che l’evangelizzazione non è significa convertire pure ma la testimonianza. Ogni cristiani devono testimoniare la sua fede. .. in ogni caso, al cristiano è chiesto non tanto di convertire, quanto di testimoniare nella carità la speranza che abita in lui grazie alla fede (p. 51).

Autore:        Enzo Bianchi
Titolo:          COME EVANGELIZZARE OGGI
Edizione:    edizioni Qiqajon, 1997
Pagine:        64


INDICE
Pagina
7               CHE COS’E’ L’EVANGELIZZAZIONE
11            IL TERRENO DELL’EVANGELIZZAZIONE
25           IL CONTENUTO DELL’EVANGELIZAZIONE
25                              Cristianesimo come fede
31                              Non tacere sulle questioni ultime
35                              Annunciare le remissione dei peccati
39          LA FORMA DELL’EVANGELIZAZIONE
39                             Evangelizzare come minoranza, ma nella compagnia degli uomini
43                             Ostacoli all’evangelizzazione
44                             Testimonianza cellulare
46                             Un cristianesimo fedele alla terra
51            CONCLUSIONE


La vita di Anselm Grùn è molto interessante. Lui è un grande scrittore spirituale. È origine di Monaco e vive in Germania nell’Abbazia dei Beneditini di Mùnsterschwarzach. Dalla Germania ha fatto il viaggio in tutto il mondo a fare la testimonianza o dare il seminario. In questo libro (Anselm Grùn. La sua Vita) è raccontata la vita del Padre Anselm sin dalla sua infanzia fino alla sua vita nel  convento. Freddy Derwahl, autore del libro ci racconta con le frasi corti. Per me è un bel libro e un bel racconto. Derwahl è un grande scrittore soprattutto nella lingua tedesca e anche un giornalista. Ha scritto i libri su Papa Giovanni XXIII e Papa Benedetto XVI.

È interessante anche vedere le attività di Padre Anselm soprattutto il suo modo di leggere e scrivere.  Padre Anselm ha un tempo stretto per scrivere cioè ogni martedì e giovedì dalle 6 alle 8 del mattino. Quindi, lui scrive al mattino. Poi, una volta alla settimana, dalle 8 alle 10 della sera si inchina suoi manoscritto (Pagina 18). Scrivere e rileggere. Ha anche un tempo per leggere. Padre Anselm legge ogni giorno dalle 100 alle 150 pagine (P. 90). Ci vuole più di un’oretta per avere questa mira.

Indice del libro
1.       Dov’è Anselm?............................................................................................................... 7 
2.      Il funerale dell’uccellino............................................................................................ 24
3.      Crisi tra le mura del monastero............................................................................... 42
4.      Il noviziato: “Ascolta, figlio mio”............................................................................. 60
5.      L’abate con la giacca di pelle...................................................................................... 75
6.      Vincoli familiari, Karl Rahner e il buon Dio.......................................................... 91
7.      Il conte e i demoni.................................................................................................... 108
8.     Il dirigente senza stipendio...................................................................................... 125
9.      In tutto il mondo....................................................................................................... 142
10.  L’arte della semplicità.............................................................................................. 158
11.   L’uomo di mezza età................................................................................................. 175
12.  La casa per ritrovare se stessi.................................................................................. 191
13.  Anselm Grùn, monaco............................................................................................. 207
14.  Dentro al mondo....................................................................................................... 223
15.   Epilogo con il padre abate........................................................................................ 233



Titolo                             : Anselm Grùn. La sua Vita (Anselm Grùn. Sein Leben).
Traduzione Italiana da Sandra Zebretto
Autore               : Freddy Derwahl
Editrice                          : MESSAGGERO DI SAN’ANTONIO, 2011,    PADOVA
Pagine                : 253


Powered by Blogger.