Halloween party ideas 2015

FOTO ILUSTRASI dari sini
Tak butuh waktu lama
Hanya dalam lima menit
Waktu yang begitu singkat
Seperti serba instan

Memang butuh cepat
Dunia modern bekerja dalam kecepatan
Tentu dengan kualitas
Bukan kecepatan tanpa kualitas

Lima menit langsung hangat
Memang sedang butuh air hangat
Kulitku dingin sekali
Entah kenapa cuaca tiba-tiba berubah

Mungkin alam punya rencana lain
Hari-hari ini sedang hangat-hangat bahkan sedikit panas
Sudah senang-senang menikmati hangatnya dunia Eropa
Tapi semua berubah dalam dua hari

Dua hari yang dingin sekali
Dua hari yang seperti ke musim dingin lagi
Padahal sudah enggan kembali ke musim itu lagi
Sudah tak tahan menikmati musim berikutnya

Tapi ya tetap saja dua hari ini terasa dingin
Tak cukup satu baju penutup tubuh
Minimal dua atau tiga
Ini untuk bagian luar

Bagian dalam tentu butuh penghangat
Makanya butuh air hangat juga
Biar perut tetap hangat
Tidak masuk angin dan kedinginan

Air hangat itu didapat dalam lima menit
Sudah seratus derajat celcius
Tinggal diminum saja
Kelak perut ini jadi hangat

Air hangat selain menghangatkan tubuh
Juga membersihkan kototran dalam tubuh
Terutama kotoran yang masuk berupa minyak
Minyak dalam makanan seperti daging dan juga pada minuman beralkohol

Air hangat ini kiranya melepas semua sarang penyakit ini
Kelak tubuh juga akan hangat dengan sendirinya
Jika lepas dari lekatan minyak dalam tubuh
Betapa air hangat ini berguna bagi tubuh ini

PRM, 23/5/15
Gordi

FOTO, di sini
Pingin nulis puisi
Tapi kadang tidak bisa
Kata orang asal ada keinginan
Realisasinya pasti bisa

Untuk itu aku berusaha
Agar bisa menulis puisi
Tak perlu yang sulit-sulit
Mulai saja menggores satu dua baris

Ini sebagai langkah awal
Kalau sudah sering-sering membuatnya
Lama-lama pasti aku bisa
Ala bisa karena biasa

Supaya bisa berpuisi memang harus ada usaha
Usaha yang kadang sulit dibayangkan
Tapi kalau langsung dimulai
Alhasil pasti bisa

Ini juga jadi puisi
Goresan sederhana
Yang mungkin tak berarti
Tapi setiap orang bisa menilai

Salam fiksiana

PRM, 23/5/15
Gordi

FOTO, thefwa.com
Lihat-lihat rupanya bisa jadi sumber ide untuk menulis. Melihat memang bukan tugas berat. Cukup sederhana. Tidak butuh alat bantu. Asal punya mata terang. Kalau mata rusak pun bisa dibantu dengan kaca mata atau lensa mata. Melihat-lihat yang mudah itu rupanya bisa jadi bahan tulisan. Tulisan ini pun demikian. Lahir dari melihat-lihat. Tulisan ini memang tidak dimaksudkan untuk membahas hal yang sulit. Cukup membahas yang ringan saja. Toh melihat-lihat juga hanya tindakan sederhana dan cukup ringan.

Tulisan yang ringan ini bisa saja dibuat jadi rumit. Atau yang populer ini bisa jadi karya ilmiah. Bisa saja. Tapi, kali ini cukup yang ringan saja. Maklum, melihat-lihatnya juga tadi hanya melihat yang ringan-ringan. Dengan melihat-lihat saja sudah jadi dua paragraf. Apalagi kalau mau bahas apa yang dilihat. Berapa yang dilihat. Bagaimana Anda melihatnya. Tapi ya, tak usah panjang lebar. Pertanyaan ini memang bisa membuat tulisan jadi lebih panjang. Dan, ada saatnya jika membahas menjadi lebih panjang.

Melihat-lihat sejatinya adalah sebuah relasi. Antara dia dan aku. Antara aku dan objek yang saya lihat. Atau, antara aku dan kamu. Atau, antara aku dan foto, gambar, tulisan, koran, buku. Dalam melihat-lihat itulah ada relasi. Relasi yang tak mesti saling bereaksi. Relasi antara dua manusia memang tampak seperti bereaksi (timbal-balik). Maksudnya, relasi antara penanya dan penjawab. Tapi, relasi di sini, tidak mesti seperti itu. Katakanlah relasi pasif. Seperti saya yang melihat-lihat tulisan di kompasiana, di sini relasinya pasif. Saya hanya mengklik, membaca, atau bahkan melihat judulnya, lalu selesai. Tidak ada reaksi timbal balik. Sampai di sini tulisan jadi tiga paragraf. Saya mau tutup sampai paragraf terakhir. Paragraf penutup. Sesuai janji saya untuk membuat tulisan ringan.

Jadi, kalau mau menulis cukup melihat-lihat saja dulu. Untuk menulis, tidak ada kata terlambat atau keluhan ‘tidak ada ide’. Hal ini kiranya sudah dibahas oleh penulis hebat dan senior di mana pun. Di Indonesia bahkan di kompasiana, soal ini sudah dibahas berkali-kali. Jadi, jangan bilang ‘tidak ada ide’. Buat saja tulisan yang idenya dari ‘tidak ada ide’ itu. Sebab ‘tidak ada ide’ bisa jadi dasar sebuah tulisan. ‘Tidak ada ide’ juga adalah ide. Ide yang bisa jadi tulisan. Cukup bertanya mengapa tidak ada ide? Itu sudah jadi ide utama. Tinggal dikembangkan. Demikian dengan rentetan tulisan lainnya.

PRM, 22/5/15
Gordi

Powered by Blogger.