Halloween party ideas 2015


Hari Minggu ini (21 Nov.), kita merayakan pesta Raja Semesta Alam. Raja itu adalah Yesus. Seorang raja adalah seorang yang memiliki kuasa. Yesus memiliki kuasa. Kuasa atas seluruh jagat raya, seluruh alam semesta. Meski demikian, tampaknya Yesus agak aneh. Betulkah Yesus aneh? Sangat aneh kalau kita melihatnya dari kacamata manusiawi belaka. Bagaimana mungkin seorang raja disalibkan? Di mana kuasanya? Bukankah hanya penjahat kelas kakap (mungkin juga kelas teri) yang wajar disalibkan? Bukankah para koruptor saja yang menerima hukuman sesadis penyaliban iu?

Yesus mungkin keliru kalau kita hanya melihatnya dari sisi manusiawi saja. Ada dua pilihan bagi Yesus ketika Ia berada (digantung) di salib. Pertama, Ia turun dari salib supaya selamat. Kedua, Ia tetap tergantung di salib, menderita, dan meninggal. Berhadapan dengan pilihan ini, manusia (saya dan Anda) mungkin cenderung memilih yang pertama. Bisikan manusia bergema, “Turun saja dari salib, mumpung saya punya kuasa untuk menyelamatkan diri.” Mengapa harus menderita kalau memang ada kesempatan untuk membebaskan diri sendiri? Lagi pula, pilihan pertama risikonya kecil dibandingkan kedua (nyawa melayang). Lalu, mengapa Yesus memilih yang kedua? Mungkinkah Yesus keliru? Bukankah pengandaian moral mengatakan pilihlah pilihan yang risikonya kecil dari semua pilihan yang ada.

Teman-teman, Yesus memilih yang kedua karena Ia sadar akan keberadaan dirinya. Dia sadar dan tahu, Dia adalah utusan Bapa. Dia memilih pilihan yang kedua karena Ia ingin mewujudkan kehendak Bapa yakni menjadi Penyelamat. Konsekuensi dari pilihan menjadi Penyelamat adalah menanggung penderitaan. Yesus bisa saja turun dari salib dan dengan kuasa-Nya mengelak dari penderitaan itu. Tetapi, Yesus diutus bukan untuk itu. Ia tidak mau menyelamatkan hanya dirinya sendiri (turun dari salib) karena Ia mau menyelamatkan semua orang. Inilah yang Ia tunjukkan kepada banyak orang ketika berada di salib. Kesaksian Yesus untuk bertahan di salib akan membuat banyak orang membuka diri. Pemimpin pasukan saja bisa membuka diri melihat Yesus di salib, “Sungguh orang ini adalah orang benar.” Mampukah kita menjadi seperti pemimpin pasukan ini?

Kacamata manusiawi kita mungkin melihatnya dari sudut lain. Kacamata saya dan Anda melihat seperti kacamata seorang penjahat di samping Yesus. Kalau memang mempunyai kuasa mengapa Ia tidak menyelamatkan dirinya? Kehendak Bapa bukanlah untuk itu. Kita bisa saja menghendaki seperti kehendak penjahat itu tetapi Bapa menghendaki yang lain. Bapa justru menghendaki yang sebaliknya, Yesus menjadi Penyelamat bagi semua orang. Menurut hemat saya, peristiwa salib ini menjadi batu pijakan yang kuat bagi saya dan Anda dalam hal apa saja. Bapa sudah tahu apa yang hendak Ia berikan kepada kita yakni apa yang perlu kita butuhkan. Maka, jangan memaksakan kehendak kita kepada-Nya. Misalnya dalam doa. Sebaiknya saya dan Anda jangan meminta apa yang kita inginkan sebab Bapa sudah tahu apa yang kita butuhkan. Yang kita butuhkan adalah apa yang sungguh-sungguh kita perlukan. Itu yang Bapa berikan kepada kita. Belajarlah dari pengemis yang meminta “supaya bisa melihat” dan bukan meminta supaya diberikan uang. Pengemis itu tahu, “melihat” adalah hal yang perlu bagi dia ketimbang “uang” yang gampang diperoleh dengan meminta-minta. Maka, Yesus sama sekali TIDAK KELIRU. Kacamata manusia (saya dan Anda) mungkin keliru tetapi kacamata Yesus sama sekali TIDAK KELIRU.

Teman-teman, begitulah cara Yesus mencintai kita. Dia berkorban, nyawanya habis di salib. Apakah kita mau dan terlibat aktif berkorban demi korban bencana Wasior, Merapai, dan Mentawai? Mencintai sesama berarti “siap berkorban”. Itulah hakikat cinta kasih Kristiani. Semoga…
Jakarta, 19 November 2010

Gordy Afri

Post a Comment

Powered by Blogger.