Halloween party ideas 2015


gambar dari abc.net.au
Pilihan untuk berpihak pada kaum miskin adalah salah satu program kerja atau misi Paus Fransiskus. Pilihan ini tidak mudah. Bayangkan saja, di seluruh dunia, jumlah penduduk miskin lebih banyak dari penduduk yang kaya. Di Indonesia, sudah jelas, yang miskin lebih besar dari yang kaya. Jurangnya bertambah dalam karena sebagian besar kekayaan negara menjadi milik beberapa orang kaya. Meski sulit, Paus Fransiskus dalam kepemimpinannya selama dua tahun, sudah membuktikan bahwa dia mampu berpihak pada kaum miskin.

Tiga belas Maret 2013 adalah tanggal bersejarah bagi dunia umumnya dan bagi Gereja Katolik khususnya. Hari ini terpilih pemimpin Gereja Katolik yang baru-menggantikan Paus emeritus Benediktus XVI-yakni Paus Fransiskus. Sejak saat itu, Paus asal Argentina ini mengganti nama kepemimpinannya. Dia memilih nama Fransiskus. Nama yang erat kaitannya dengan semangat kemiskinan. Fransiskus yang dimaksud adalah putra kelaurga kaya di kota Asisi, Italia. Dia kaya tetapi memilih untuk hidup miskin.

Paus Fransiskus kiranya tidak salah memilih. Dia juga memilih nama ini setelah mendengar bisikan teman kardinalnya. “Jangan lupa kaum miskin,” demikian bisikan temannya. Fransiskus ingat, kaum miskin adalah perhatian besar bagi Fransiskus dari Asisi. Maka, dia pun memilih nama itu sebagai nama kepemimpinanannya.

Kepemimpinan Paus Fransiskus memang unik. Keunikannya terletak pada pilihannya untuk memerhatikan kaum miskin. Baginya, perhatian ini mesti dimulai dari diri sendiri. Kelak, misi pribadinya ini menjadi misi bersama, misi Gereja Katolik pada umumnya. Dia pun memulainya dari hari pertama masa kepausannya. Dia memilih untuk tinggal di apartemen di luar rumah Vatikan. Dia meninggalkan kamar yang boleh dibilang nyaman dan mewah di dalam kompleks Vatikan. Ini hanya salah satu contoh atau bukti nyata pilihannya.

Kalau dirunut ke belakang, pilihan Paus yang bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini, sudah dimulai di Argentina kala dia menjabat sebagai uskup dan kardinal di sana. Dia memilih untuk tinggal di apartemen, membayar sendiri uang koran dan telepon, menumpang bis umum kala mengunjungi umatnya, dan sebagainya. Hal-hal kecil ini dia bawa sampai ke Roma saat dia menjabat sebagai paus. Di kompleks Vatikan, misalnya, dia memberi salam kepada para uskup dan pastor serta karyawan di Vatikan. Dia juga mengunjungi para permasak di dapur sebelum menyantap hidangan siang. Konon, peraturan protokol Vatikan amat ketat. Semuanya di atur. Bahkan, untuk naik lift saja, ada ajudan yang membukakan pintu. Paus Fransiskus meminta para pasukan keamanan Vatikan untuk membiarkannya membuka sendiri pintu lift. “Kamu pergi mengerjakan pekerjaan lain. Yang ini bisa saya kerjakan,” katanya suatu ketika kepada seorang ajudan dari Swiss Guard.

Pilihan Paus Fransiskus tidak saja berhenti di dalam tempat tinggal dan kantor kerjanya. Dia juga tetap membawa pilihannya ini kemana pun dia pergi. Di kota Roma, misalnya, dia mengunjungi kaum pinggiran yang nota bene adalah kaum imigran yang datang mencari kerja di Italia. Bahkan, imigran yang telantar di Pulau Lampedusa (dekat Italia bagian Selatan) pun dia jemput. Dialah yang menggugah hati pejabat Italia untuk pergi memerhatikan para imigran yang kadang-kadang menderita sebelum mendarat di Italia. Paus Fransiskus tahu betul betapa menderitanya kaum imigran ini baik dalam perjalanan dengan perahu menuju Italia maupun setelah mereka mendarat dan mencari pekerjaan di Italia.

Dalam bidang relasi dengan komunitas agama lain, Paus Fransiskus juga adalah ujung tombaknya. Dia mengunjungi Turki dan Yerusalem. Di sana, dia bertemu para pemimpin dari komunitas Muslim, Yahudi, dan Ortodoks. Dia masuk dan berdoa di masjid, sinagoga, dan gereja ortodoks. Perbedaan keyakinan bagi Paus Fransiskus bukanlah penghalang untuk tinggal dan hidup bersama. Dia bukan saja mengunjungi para pemimpin agama lain, Paus Fransiskus juga menawarkan rumahnya (Vatikan) untuk berdialog, berbicara, berdoa, mencari solusi atas masalah Israel-Palestina. Saat itulah dunia bergaung mendengar suara umatnya berdoa. Suara solat bergaung dari Vatikan. Demikian juga dengan suara dari komunitas Yahudi yang juga berdoa di Vatikan.

Paus Fransiskus di Asia
Paus Fransiskus menaruh perhatiannya juga untuk bangsa-bangsa Asia. Itulah sebabnya dia tak segan-segan untuk mengunjungi Asia dua kali dalam dua tahun masa kepausannya ini. Korea, Srilangka, dan Filipina adalah tiga negara yang dia kunjungi. Di Srilangka, dia bertemu dengan para pemimpin dari komunitas Hindu dan Budha. Di Filipina, dia bertemu dengan para korban badai.

Saat itulah, dia merealisasikan misinya untuk memerhatikan kaum miskin. Miskin bukan saja materi tetapi juga semangat hidup. Bagi Paus Fransiskus, kita tidak bisa tinggal bersama dengan damai dan nyaman, jika di antara kita masih ada yang merasa kurang semangat. Kendurnya semangat ini disebabkan berbagai latar belakang. Boleh jadi ekonomi, juga hubungan dengan komunitas lain, atau juga situasi yang dikondisikan dari pemerintah di suatu negara. Situasi seperti ini menjadi perhatian Paus Fransiskus. Itulah sebabnya, dia tidak mau membatalkan niatnya untuk mengunjungi orang-orang Filipina. Pada hari yang sama, di Filipina turun hujan dan angin kencang. Paus tidak menjadikan ini sebagai alasan untuk tidak mengunjungi para korban. Dia justru mengenakan mantel plastik seperti yang dipakai para korban pada umumnya, dan bersama mereka berdoa di sana. Ini adalah tanda kecil, bagaimana seorang pemimpin mau turun dan terlibat dalam situasi masyarakatnya.

Tindakan ini mungkin kecil tetapi bagi rakyat Filipina, tindakan Paus ini justru menyentuh hati mereka. “Kehadiran Paus membuat kehidupan saya berubah. Saya menemukan kembali semangat yang baru untuk terus menjalani hidup ini,” demikian komentar seorang rakyat Filipina dalam kunjungan paus ini.

Para pemimpin di dunia juga di Indonesia kiranya perlu menarik pelajaran penting dari gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Perhatian terhadap kaum miskin kiranya mesti menjadi perhatian kita semua. Hari-hari ini di negeri kita, rakyat kecil menjerit. Keluhan karena naiknya harga listrik, BBM, sembako, dan sebagainya adalah keluhan rakyat kecil. Keluhan ini menjadi tanda bahwa rakyat kecil membutuhkan perhatian dari pemimpin. Siapa peduli, dialah yang tidak melupakan kaum miskin ini. Keluhan mereka sebenarnya bukanlah keluhan anak kecil yang merengek dan minta diperhatikan oleh ibunya. Bukan. Keluhan mereka adalah tanda bahwa mereka sedang menghadapi kesulitan. Itu berarti bahwa pemimpin mesti peka dan segera memberi mereka bantuan secukupnya. Jika tidak, rakyat kecil akan menderita.

Kita yakin pemimpin kita di Indonesia ini bisa memerhatikan kaum miskin yang jumlahnya mayoritas. Yakin pula bahwa para pemimpin kitas masih punya hati untuk menjawab keluhan rakyat kecil.

Salamat ulang tahun kedua-sebagai paus-kepada Paus Fransiskus di Roma-Vatikan, Italia.

PRM, 12/3/2015
Gordi


Post a Comment

Powered by Blogger.