Halloween party ideas 2015

FOTO, indonesiaindonesia.com
Daun itu amat hijau
Tampak dari jendela kamarku
Hanya sejengkal saja dipandang mata
Padahal nyatanya masih jauh 

Itulah bunga-bunga mata
Yang jauh jadi dekat
Yang dekat jadi jauh
Semua bisa terjadi

Demikian dengan dedaunan itu
Mataku terpaku memandangnya
Beberapa bulan lalu belum tampak
Kini dedaunan itu memenuhi pohon itu

Pohon yang semuala kerontang
Tak berdaun sama sekali
Bahkan kulitnya tampak keriput
Seperti kayu mati

Tapi, rupanya alam memang bekerja sesuai hukumnya
Dari keriput jadi hidup lagi
Dari kerontang jadi berimbun lagi
Dari tampak mati jadi tampak segar

Daun itu lambang kesuburan
Daun itu hijau pertanda ada kehidupan
Bahkan kehidupan yang tampaknya mustahil
Bagaimana mungkin dari tak berdaun menjadi berdaun rimbun?
Itulah misteri alam
Kadang-kadang manusia berlagak sok tahu
Padahal dia tidak tahu atau minimal keliru
Alam punya hukumnya sendiri

Manusia, jangan berlagak menguasai alam
Sebab alam bisa menguasai manusia
Manusia boleh merusak alam
Tapi pada saatnya alam merusak manusia

Daripada saling merusak
Lebih baik kita berdamai
Marilah menjaga keharmonisan dengan alam
Maka alam pun akan beri kita kehidupan

Daun hijau pertanda alam mengundang kita
Untuk melihat keindahannya
Melihat keharmonisannya
Dan melihat misterinya yang begitu besar

Daun hijau
Terima kasih
Engkau tampak begitu segar
Kiranya jiwamu muda

Beriku jiwa muda
Untuk melihat kemudaan dirimu
Untuk melihat keindahanmu yang tiada tara
Sesungguhnya kita adalah makhluk-Nya

PRM, 21/5/15
Gordi 

FOTO, pman26.files.wordpress.com
Fisik tua, pikiran muda. Itulah gambaran yang kuberikan pada kakek itu. Saat kami menikmati eskrim di sebuah gelateria (tempat jual gelatto atau eskrim), dia masuk. Dia melihat kami dengan serius. Mungkin karena kami orang baru. Memang, kami baru masuk daerah pegunungan itu untuk pertama kalinya tahun ini. Tahun lalu, kami masuk daerah ini, tetapi tidak sampai di sini. Hari ini, kami sampai di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, kali lalu hanya sampai 300 meter. 

Kami tak banyak bicara. Maklum, masing-masing sedang menikmati eskrim-nya. Pendakian tadi membuat kami ingin berhenti sejenak. Apalagi matahari sore di musim semi tampak cerah dan sedikit menyengat. Kami sebenarnya tidak terlalu haus dan capek. Tetapi, sopir sekaligus guide kami sengaja memarkir mobilnya. Ada gunanya juga. Kami turun dari mobil dan masuk ice-cream shop. Di sana, kami bertemu dua bapak. Keduanya tentu bekerja di gelateria ini. Satunya sebagai pelayan bar, satunya lagi bagian kasir. Kami berdialog sebentar lalu kami membeli eskrim.

Saya memilih untuk menikmati eskrim ini sambil melihat-lihat koran yang ada di atas meja. Kebetulan, di dekat saya ada seorang bapak yang sedang membaca koran juga. Mumpung belum ada pelanggan, dia manfaatkan waktu yang ada untuk melihat koran. Lalu, saya juga mulai melihat-lihat koran itu.

Membaca mungkin menjadi bagian dari kehidupan mereka. Di ruangan itu, ada banyak koran dan majalah. Bahkan, di tiga meja yang ada, masing-masing ada satu koran dan beberapa majalah. Saya salut. Mereka menyediakan koran lokal, koran setingkat provinsi, dan koran nasional. Padahal, daerah iini letaknya di pegunungan. Jauh dari pusat kota.

Mungkin itu juga yang membuat bapak tadi datang dan terheran-heran melihat kami. Fisiknya tua namun pikirannya muda. Entah dia masih heran dengan keberadaan kami. Mungkin dia bertanya, ada apa dengan orang asing ini. Orang Asia lagi. Apakah mereka nyasar di sini?

Setelahnya, dia mengambil kacamatanya lalu mulai membaca. Saya perhatikan cara dia melihat koran itu. Dia buka dari halaman pertama. Melihat dan membaca tanpa suara. Yang tidak menarik kiranya dia lewatkan atau hanya lihat judulnya. Dalam waktu sekitar 15 menit, dia sudah selesai melihat satu koran itu. Lalu, dia membolak-balik koran berikutnya. Tampak sekali bahwa dia sudah terbiasa membaca koran itu. Mungkin dia sudah tahu rubrik-rubriknya. Saya tidak heran dengan ini. Yang saya heran adalah kemampuannya untuk memerhatikan dengan cepat isi koran itu. Dialah gambaran orang yang fisiknya tua tetapi pikirannya muda.

Dari mana saya tahu kalau pikirannya muda? Dari cara membaca korannya. Orang muda biasanya membaca dengan cepat atau sepintas saja. Dan, dia yang umurnya tua ini juga melakukan hal sama. Saya perhatikan beberapa orang tua lainnya yang membuka kora pelan-pelan. Ah tentu orang tua tidak bisa disamakan. Semua punya cara untuk menyimak isi koran harian. Dan dia ini adalah salah satu di antara orang yang berfisik tua namun berpikiran muda.

Tiga puluh menit berlalu, kami pun beranjak pergi. Saya memberi salam pada mereka dengan bahasa Italia. Mereka kaget, “Rupanya bisa berbahasa Italia,”kata bapak tua yang dengan cepat menyimak koran tadi. Saya tersenyum lalu melambaikan tangan.

Terima kasih Pak. Hanya dengan gerakanmu yang tidak menggurui itu, kamu berhasil menularkan kebiasaan yang kami butuhkan yakni membaca. Semoga saya dan kami kaum muda bisa seperti kamu, rajin membaca dan tak pernah merasa puas. Fisik boleh tua, tapi pikiran tak boleh jadi tua.

PRM, 20/5/15
Gordi

FOTO, terangker.com
Untuk kedua kalinya kudengar burung itu bernyanyi. Malam ini baru kudengar dengan jelas. Entah karena suasananya sepi. Tidak ada bunyi lain yang kudengar. Di luar jendela kamarku ada beberapa pohon rimbun. Musim semi membuat pohon-pohon itu berimbun. Daun-daunnya lebat. Daun itu rupanya jadi rumah idaman bagi burung-burung. Entah karena dekat dengan jendela kamarku, nyanyian burung itu kudengar dengan jelas. Dua kali lagi. Padahal, selama ini, jarang kudengar nyanyiannya. Entah karena aku terlalu sibuk mendengar yang lain. 

Burung itu mungkin menegurku untuk mendengarnya. Betapa tidak, dua kali kudengar nyanyiannya. Bunyi mobil yang lewat di jalanan samping kamar malah tak kuhiraukan. Entahkah karena aku patuh dengan teguran burung ini?

Atau, mungkin burung itu memang mengajakku untuk mendengarnya? Sungguh jika demikian, dia berhasil mengajakku. Dia ibarat guru yang mendidik didikannya sampai berhasil. Guru yang mendidik anak didiknya seperti yang ia inginkan. Padahal, mendengarkan itu amat sulit. Anak sekolah tidak tahan tinggal tanpa bersuara selama 45 menit dalam kelas. Kalau pun bisa, itu karena dipaksa. Atau karena takut dimarahi guru. Di ruang sidang anggota DPR sulit mendengar satu sama lainnya.

Memang anggota DPR lebih cenderung untuk ribut, mempersoalkan korupsi, dana proyek, PSK dan mengabaikan suara rakyat yang memilih mereka. Anggota DPR memang kadang-kadang membohongi pemilihnya. Mereka menawarkan janji manis. Parahnya lagi rakyat kecil dengan mudahnya saja tergoda manisnya janji itu. Rakyat memang adalah pendegar ulung. Mungkin pendengar seperti burung beo juga. Mendengar begitu saja apa yang dikatakan pembicara. Tetapi, anggota DPR mestinya belajar mendengarkan dari rakyat kecil yang memilih mereka. Anggota DPR sebenarnya lebih parah lagi karena setelah berjanji, mereka abaikan suara rakyat. Mereka memang betul-betul tidak tahu mendengarkan suara rakyat.

Nyanyian burung itu kudengar kedua kalinya. Aku dengar dengan jelas. Suaranya nyaring memecah kesunyian malam. Malam adalah simbol ketakutan. Tapi, mengapa burung itu bernyanyi. Dan, burung itu bernyanyi seperti penyanyi di tengah konser. Burung itu mungkin tidak takut. Memang burung itu tidak takut. Burung itu mengajakku untuk tidak takut sekalipun dalam kegelapan. Burung itu seperti telah merayakan kemerdekaan. Dia bebas tanpa beban bernyanyi.

Nyanyiannya mungkin mengajakku untuk hidup bebas. Hidup merdeka tanpa tekanan, tanpa beban, tanpa ketergantungan dengan yang lain. Mungkin terlalu sulit untuk melepas ketergantungan itu. Tapi, burung itu kiranya sudah membuka jalan. Dia memberiku contoh. Bernyanyi di malam hari. Tanpa rasa takut. Seolah-olah ada terang dalam kegelapan. Hidup memang mestinya tanpa rasa takut, tanpa suasana gelap. Hidup mesti bersinar untuk sesama. Hidup mesti bebas tanpa ketergantungan.

Ah burung itu tak kudengar lagi. Mungkin dia hanya datang untuk memberiku isyarat bahwa hidup ini mesti dihidupi dengan bebas. Rasa bebas dari semua yang mengunkung kehidupan. Dengan hidup bebas, beban berat pun bisa dipikul. Malam pun bisa jadi siang. Ah betapa indahnya hidup dalam kebebasan. Betapa nyanyian burung itu adalah nyanyian kemerdekaan.

Terima kasih untuk nyanyianmu

PRM, 19/5/15
Gordi

Powered by Blogger.