Halloween party ideas 2015

FOTO, dw.de
Dari ruang penampung ini, kami dipisahkan. Aku tak tahu lagi, ke mana perginya teman seperahuku. Kami memang banyak di ruang ini. Aku juga tak tahu, dari mana datangnya yang lain. Aku hanya tahu, sebagian besar dari kami, berkulit hitam dan berambut keriting. Aku juga bertanya, mengapa mereka ke sini. Mungkin mereka juga datang untuk mencai kehidupan yang penuh damai. Mungkin mereka juga datang dari negeri yang berkonflik dan perang tak berujung. Entah. Bisa YA bisa TIDAK. 

Aku ikut perintah seorang berkulit putih, tinggi, tegap, dan bermata biru. Aku perhatikan betul-betul bentuk tubuhnya. Dia mirip seperti mereka yang tertawa, yang aku lihat di TV beberapa tahun lalu. Aku berangan-angan bisa bahagia dan damai seperti mereka itu. Namun, aku juga pikir-pikir. Jangan-jangan kebahagiaan itu hanya ada dalam TV itu. Jangan-jangan itu hanya angan-angan juga. Jangan-jangan itu hanya seperti iklan saja. Jangan-jangan aku jatuh lagi dalam dunia perang yang bernafsu itu.

Ah…aku tidak mau ingat masa laluku. Masa gelap itu merusak harapan akan masa depanku. Aku ingin berubah. Berubah berarti melupakan masa lalu. Kalau sulit dilupakan, ingat sajalah yang penting-penting saja. Ambil saja hikmahnya dari situ. Lalu, tataplah masa depan.

Itulah sebabnya aku turuti saja perintah sang tuan ini. Entah nanti dibawa ke mana. Aku yakin sekali. Aku akan menikmati hidup yang damai. Hidup yang tidak seperti kehidupan di negeriku yang bergejolak perang berkepanjangan. Di sana nanti, aku akan bertemu keluargaku. Keluarga yang seperti aku bayangkan dulu. Keluarga yang tidak bersekat agama, ras, warna kulit, warna mata, model rambut. Tidak. Aku kini menuju ke kehidupan itu. Ke manakah aku dibawanya saat ini? (bersambung ).

PRM, 11/5/15
Gordi

*Didedikasikan untuk imigran dari negara-negara Afrika yang mencari kehidupan yang lebih baik, di Benua Eropa.

dari postingan di kompasiana PINGIN HIDUP BAHAGIA SEPERTI MEREKA

Post a Comment

Powered by Blogger.