Halloween party ideas 2015

foto, shutterstock
Tanganmu menyentuh ujung bajuku. Suaramu bergetar memanggilku dari belakang. Tanganmu bergegas begitu melihat tangan saya. Pertanda memberi salam.

Itulah pemandangan yang saya rekam tadi pagi. Usianya lebih dari 80 tahun. Selalu duduk di kursi roda. Makan, ngobrol, menonton TV, selalu di atas kursi roda. Hanya saat tidur saja, tidak di atas kursi roda. Dia mesti dibantu untuk turun dari kursi roda. Perawat membantunya sesaat sebelum dia tidur.

Dia tak bisa bicara tetapi mau menyapa. Ya, itulah ironisnya hidup. Dia seakan-akan mengatakan, jangan biarkan diri Anda larut dalam ketakberdayaan. Jika larut dalam ketakberdayaan, hidup Anda makin tak bernilai. Memang sahabat saya ini tidak membiarkan dirinya terlarut dalam ketakberdayaan. Dia selalu tersenyum begitu ada yang bertatap dengannya. Saya selalu memerhatikan ini ketika mendekatinya. Seperti juga tadi pagi, ketika saya menjumpainya. Dengan tangannya dia mengganggu saya. Gangguan yang membangunkan saya dari kecuekan saya.

Dia tak mampu bicara tetapi mau menyapa. Saya yang bisa bicara ini malah terlambat memerhatikannya. Dari dalam dirinya muncul keingingan yang kuat untuk berbicara. Sayang fisiknya tak memungkinkan. Hanya sebatas mengeluarkan suara tanpa kata-kata yang jelas. Tapi, dalam keadaan demikian dia tetap tersenyum. Menyapa dengan senyuman. Sesekali tertawa ketika ada yang membuat lelucon. Dia mengerti apa yang sedang dikatakan.

Tingkahnya ini seakan-akan juga menegur mereka yang enggan bertegur sapa. Dengan keterbatasan fisik, dia masih bisa menegur sesama. Keterbatasan fisik memang bisa menjadi hambatan, namun, ini tidak berlaku baginya. Dia tetap bisa melampaui keterbatasannya ini. Berarti orang yang tidak mampu menyapa pun sebenarnya masih bisa menyapa. Asal ada kemauan dari dalam hatinya.

Ah, tulisan ini sampai di sini saja. Sekadar bertegur sapa untuk teman-teman saya. Salam saling tegur sapa ya buat para pembaca sekalian.

PRM, 20/2/2015
Gordi


Post a Comment

Powered by Blogger.