Halloween party ideas 2015

Dewi Fortuna Membalas Tangisan Ronaldo

gambar dari Frank Fife/AFP


Dewi fortuna datang tiba-tiba. Tidak ada yang bisa memprediksinya. Itulah sebabnya, jika ia datang, banyak yang kaget.

Rasa kaget itu juga yang menghinggapi seantero dunia malam ini di Prancis-Eropa atau pagi-pagi buta waktu Indonesia-Asia. Sungguh, para fans dari Ronaldo dkk merasa kaget. Rasa kaget itu muncul tak lain karena dewi fortuna mengantarnya pada Ronaldo dkk.

Dewi fortuna itulah kekuatan dari klub Portugal pada piala Eropa tahun 2016 ini. Dewi fortuna itu sempat kami perbincangan usai makan malam Minggu kemarin. Teman saya yang Italia menjagokan Prancis. Tetapi, ia tidak yakin.

Katanya, “Saya menjagokan Prancis karena Italia sudah kalah.”
Saya menjawabnya, “Io tifoso per il portogallo, saya menjagokan Portugal.”

Dia lalu menatap sinis, “Prancis lebih kuat dari Portugal.”
“Memang Prancis lebih kuat tetapi dewi fortuna selalu datang membantu Portugal,” balas saya.

Dialog tentang dewi fortuna ini rupanya benar-benar terjadi. Jika benar Prancis menang malam ini, teman saya benar-benar bangga. Meski dia tidak 100% mendukung Prancis, bagaimana pun prediksinya tepat. Sebaliknya, jika Portugal menang, apa yang saya ramalkan, benar-benar terjadi. Jadi, dewi fortuna itu memang lagi-lagi datang pada saya.

gambar dari www.telegraph.co.uk

Saya benar-benar senang dengan kemenangan Ronaldo dan kawan-kawan. Kemenangan yang tak terbayangkan. Memang, itulah ciri-ciri dewi fortuna. Tidak ada yang membayangkannya. Kalau pun ada, bisa jadi benar dan bisa jadi kalah. Sulit memberi prediksi yang lebih dari 50%.

Portugal memang tidak dijagokan. Publik cenderung menjagokan Prancis. Di status media sosial seperti facebook, dukungan untuk Prancis datang bertubi-tubi. Sebelum pertandingan dan saat pertandingan berlangsung.

Dukungan itu semakin kuat, kala Ronaldo harus keluar di menit ke 24. Kepergian Ronaldo seolah-olah menjadi penentu kemengan untuk Prancis. Maka, Portugal pun hampir pasti akan kalah di mata publik. Pandangan publik ini kiranya makin dikuatkan dengan tetesan air mata Ronaldo.

Sejak cedera lutut kiri untuk pertama kalinya, Ronaldo memang sudah meneteskan air mata. Seolah-olah, dia tidak punya harapan lagi. Kehadiran teman-temannya di lapangan untuk membangkitkan semangatnya tak mampu membuatnya bangkit. Dia duduk lemas sambil meminta bantuan.

Dia pun keluar untuk sementara. Di luar, regu kesehatan memberinya semangat. Lantas, dia masuk lagi meski tidak bangkit 100%. Ronaldo memang tak beruntung. Banyak yang berkomentar, dia masuk dengan kekuatan hanya lutut kanan saja. Mengandalkan satu kaki saja memang akan sulit.

perayaan kemenangan 


Kesulitan ini bertambah saat pemain Prancis, Payet, memberinya sekali lagi teken tepat pada lutut kiri. Ronaldo betul-betul hilang harapan. Dia mengekspresikan suasana hatinya bukan saja dengan tetesan air mata lagi. Tetapi, dia mencabut ban kapten dari lengan kirinya. Membuangnya ke lapangan, lalu menjatuhkan diri. Saat itulah dia merasa kalah. Menatap regu kesehatan dengan tatapan kekecewaan. Ronaldo pun dibawa keluar.

Portugal sampai titik ini betul-betul dinilai tak berdaya lagi. Publik pun setuju dengan penilaian ini. Harapan untuk menang telak ada pada pihak Prancis. Puyet dan kawan-kawan merasa akan dengan mudah meraih kemenagan itu. Ini yang terbaca oleh publik.

Kalau pun Prancis akan menang, hati Puyet kiranya tidak tenang. Dialah ujung tombak yang membuat permainan malam ini kurang indah. Payet menguburkan impian publik Portugal untuk melihat langsung aksi idola mereka, Ronaldo. Payet memang merasa tidak tenang. Tekelannya membuatnya tidak bisa bermain indah. Dia pun akhirnya keluar pada menit ke-56. Publik Portugal pun risau.

Kerisauan publik Portugal ini berubah menjadi kekuatan baru bagi pemain Portugal. Setelah menerima ban kapten dari Ronaldo, Nani menjadi pemimpin Portugal di lapangan hijau. Di hadapan penonton Prancis dan Portugal, dia mengarahkan teman-temannya untuk bermain dengan semangat baru. Semangat inilah yang membuat mereka bermain dengan tenang.

Pelatih Portugal Fernando Santos pun dengan tenang membimbing anak asuhnya. Nani, Pepe, Fonte, dan Sanches berusaha untuk mengimbangi permainan Prancis. Nani dan Sanches berjuang dengan sekuat tenaga. Mereka lah yang dengan tenang mengejar bola di segala lini. Depan dan belakang. Sanches dengan kemampuannya berlari kencang dan kelincahan mengocek bola, mampu merebut bola dari para pemain Prancis.

Pepe dan Fonte juga demikian. Mereka berdua berusaha bukan saja menghadang ujung tombak Prancis seperti Griezmann dan Evra, tetapi juga berusaha membuang bola ke depan. Uniknya mereka bermain tenang. Sesekali mereka mengamankan bola di wilayah bek, maju sedikit ke wilayah tenang, atau juga mengembalikan ke penjaga gawang. Inilah cara mereka bertahan.

Usaha Nani dkk pun berbuah. Mereka bisa bertahan imbang sampai babak kedua. Mereka laju ke babak berikutnya yakni 2 kali 15 menit. Di sini, ritme permainannya agak riskan. Siapa yang pertama mencetak gol, dialah yang menang. Tidak ada lobi-lobi lagi.



Dengan tenang juga, Nani dkk mampu menahan imbang laju permainan Prancis yang menguasai 55% pertandingan itu. Boleh dibilang, babak pertama dari pertambahan waktu itu berjalan mulus untuk kedua kesebelasan. Kemenangan itu kiranya muncul di babak kedua dari perpanjangan waktu ini. Hanya berharap pada keuntungan.

Dan benar yang diprediksikan. Keberuntungan, dewi fortuna, itu berpihak pada Nani dkk. Eder yang menggantikan Sanches pada menit ke-79 mampu menjebol gawang tuan rumah Prancis pada menit ke-109. Melewati dua bek Prancis, Eder maju dengan percaya diri yang tinggi. Tendangannya tak mampu dihadang oleh kiper Prancis Hugo Lloris. Bola pun masuk jala pertahan mereka. Portugal menang.
Eder berlari, menjauh dari gawang Prancis. Teman-temannya berlari ikut mengejarnya. Di luar lapangan pelatih dan Ronaldo serta para pemain cadangan berjingkrak-jingkrak merayakan kemenangan ini. Ya, betul-betul kemenangan yang tak terduga.

Dewi fortuna memang datang tak terduga. Ronaldo beruntung lagi. Dewi fortuna betul-betul menjawab keinginannya. Boleh jadi sang dewi, melihat tetesan air mata Ronaldo. Ronaldo ingin mengukir sejarah untuk bangsanya tahun ini. Dan, sejarah itu pun benar-benar terjadi malam ini.

Sejarah itu mengizinkan Ronaldo, Nani, Pepe dkk mengangkat piala kemenangan itu. Di hadapan para petinggi publik sepak bola Eropa, pelatih Portugal, Fernando Santos, mengambil piala. Ronaldo mengangkatnya untuk pertama kali. Lalu, Pepe dan Nani.

Nani dkk menampilkan wajah kerendahan hati yang mendalam. Nani menerima ban kapten dari Ronaldo lalu menyerahkannya pada Ronaldo saat mereka menang. Dengan sikap rendah hatinya ini, Nani menunjukkan pada publik bahwa kemenangan itu adalah keberuntungan. Maka, dia pun tidak ingin tampil sebagai kapten saat mengangkat piala itu. Dia hanya beruntung menjadi kapten dalam pertandingan yang menegangkan ini. Ronaldo tetaplah kapten mereka.

Selamat untuk Ronaldo, Nani, Pepe dkk yang memenangkan pertandingan final Piala Eropa 2016 ini. Parabens.

PRM, 11/7/2016
Gordi

Dipublikasikan pertama kali di kompasiana



Post a Comment

Powered by Blogger.