Halloween party ideas 2015

foto oleh Adith76
Merdeka dengan Makan Nasi Goreng

Hari ini 17 Agustus 2014, hari raya kemerdekaan Republik Indonesia ke 69. Kami di Parma merayakannya dengan menyediakan makanan khas Indonesia untuk dimakan bersama saat makan siang dan makan malam.

Kami sediakan nasi goreng untuk makan siang. Sedangkan makan malam kue tar alias torta dalam bahasa Italia dan mie hun. Mungkin saya keliru menulis namanya. Saya agak lupa.

Kedua makanan ini dicicipi oleh anggota komunitas yang sebagian besar adalah orang Italia namun pernah hidup di berbagai negara di 4 benua, Afrika, Asia, Amerika Latin dan Eropa. Juga oleh kami, 4 orang dari Indonesia, teman-teman dari Meksiko, Brasil, dan Peru. Teman-teman dari Afrika, Kongo dan Kamerun.
Enak tentunya. Kami menyiapkan ini dari hati yang tulus. Ini tanda bahwa kami dengan bebeas-merdeka menyiapkannya serta menghidangkannya kepada konfrater sekalian. Saya tidak berpartisipasi penuh dalam persiapannya. Saya dapat tugas untuk membagikan la torta kepada konfraterku yang dduduk di 14 meja makan.

Lumayan kan?? Merayakan hari kemerdekaan, jauh dari tanah air, namun jadi dekat dengan makanan.

Selain dengan menyediakan makanan ini, saya juga menulis status di facebook sebagai tanda bahwa saya juga ingin menggaungkan kemerdekaan ini di duni sosial. Tidak panjang. Hanya satu paragraf. Saya kutipkan saja di sini status saya itu:

DIRGAHAYU RI KE 69, Jangan lupa sawah tempat produksi nasi, yang adalah makanan pokok bangsa Indonesia, bukan gedung mewah dan pusat bisnis, MENJADI MERDEKA kiranya berarti memajukan sawah sebagai ladang sebagian besar masyarakat Indonesia.

Foto di atas adalah inspirasi saya untuk menulis status ini. Dari foto inilah saya menulis. Saya ingat para petani di Indonesia sebab sebagian besar penduduk Indonesia makan nasi. Tentu ada sebagian kecil yang makan sagu, jagung, roti, dan sebagainya. Tetapi dunia internasional mengenal Indonesia sebagai bangsa yang penduduknya makan nasi. Saya sedang mencari di mana saya ambil foto ini kemarin.

Dirgahayu Negeriku, Republik Indonesia

Parma, 17/8/2014
Gordi

foto oleh God's World, USA
Kenal dan tahu beda tipis. Kenal berkaitan dengan keseluruhan pribadi seseorang. Sedangkan, tahu hanya sebatas yang dilihat saja.

Adam Lanza, pembunuh yang sedang tenar di Amerika ternyata tidak dikenal oleh teman-temannya. Teman-temannya tahu Adam tetapi tidak mengenalnya. Ini berarti Adam hanya dikenal sebagai nama seorang teman. Sementara pribadinya tidak banyak yang tahu.

Inilah akibatnya jika berteman hanya sebatas nama saja. Berteman layaknya disertai kenal secara mendalam. Pribadi, sikap, tutur kata, tingkah lakunya meski diketahui. Jika tidak, seperti ini hasilnya.

Saya kira Adam Lanza tak jauh beda dengan pelaku teror di negeri kita. Mereka tinggal di lingkungan RT tetapi tidak dikenal oleh warga lingkungan. Mereka hanya tahu, si A tinggal di sini selama setahun, misalnya. Tetapi sikap, perilaku, profesi, bahkan aktivitasnya tidak diketahui.

Beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja, tetangga itu ditangkap polisi. Semua yang diketahui tentang tetangga itu buyar. Ternyata dia ini teroris, pembuat bom, dan sebagainya.

Kembali kepada kita. Maukah kita mengenal tetangga kita? Jika sering bergaul dan ikut serta dalam pertemuan, kerja bakti lingkungan, kita mengetahui tetangga kita. Meski hanya sekali sebulan, kerja bakti itu berguna, paling tidak kita punya modal untuk saling sapa. Dari saling sapa kita mengenal orangnya.

Kebiasaan gaul semacam ini bisa ditularkan kepada anak-anak kita. Jangan biarkan dia murung sendiri di kamar. Ajak dia bermain, bercengkrama, menonton film bersama, jalan-jalan ke pasar, mol, dan tempat ramai. Dengan kata lain anak dilatih untuk bersosialisasi. Orang tua juga semestinya setia mendampingi. Jangan beralasan sudah lelah bekerja, anak-anak dibiarkan bermain sendirian.

Kalau kita tahu dan kenal anak kita seperti apa, kita pun bisa memberi pendampingan yang efektif padanya. Anak-anak adalah peniru ulung. Jangan sesekali anak-anak mempelajari hal-hala buruk dari orang dewasa. Kunci untuk mencegahnya adalah dengan mendampingi dia.

Mari mengenal tetangga kita. Selamat mencoba.

PA, 18/12/12
Gordi

*Pernah dimuat di blog kompasiana pada 18/12/12

foto oleh BMI
Banyak isu negatif  tentang TKI. Isu ini memang ada yang hanya kabar angin belaka. Namun di samping itu, ada isu positif juga tentang TKI. Tentu tak semua isu positif juga benar.

Isu negatif itu misalnya TKI kita pembunuh majikan. Ini memang bisa dibuktikan. Ada TKI yang berlaku demikian. Namun mestinya perlu diselidiki alasannya. Tak sepenuhnya kesalahan ada pada TKI.

Isu lain seputar TKI yang diperkosa. Mengapa kok TKI itu bisa diperkosa? Apakah dia tidak bisa melindungi dirinya? Atau apakah begitu bajingannya pemerkosa itu? Mengapa tidak diberi hukuman sewajarnay buat pelaku?

Isu positif seputar TKI yang sukses. Ada yang kuliah sambil bekerja. Dia mendapat pendidikan tinggi dan bergelar. Pulang ke Indonenesia dan memberdayakan warga di kampungnya. Ada juga yang berhasil menyekolahkan anggota keluarganya, membuatkan rumah yang layak bagi keluarga, dan menyejahterakan keluarga.

Dengan isu semacam ini tak perlu lah berprasangka buruk terhadap TKI. Tak semua mereka bertindak sesuai yang digambarkan orang. Mereka tentu bervariasi. Ada yang emmang seperti yang diisukan tetapi ada yang sama sekali tidak. Bagaimana pun mereka itu saudari/a sebangsa. Mereka mesti dilindungi jika berada di luar negeri. Kita wajib memberi perlindungan. Dari pemerintah sampai rakyat sipil.

Kalau isu buruk tentang TKI muncul di media massa internasional yang malu bukan mereka saja. Warga sebangsa malu. Meski ada yang membela diri, asal bukan anggota keluarga saya. Sikap semacam ini hanya cari aman. Kita sebaiknya membela siapa saja TKI yang jadi korban itu.

Selamat bekerja untuk teman-teman TKI di luar negeri. Kalian adalah duta bangsa. Duta budaya dan pariwisata.

PA, 17/12/12
Gordi

*Pernah dimuat di blog kompasiana pada 17/12/12
Powered by Blogger.