Halloween party ideas 2015

FOTO, smilecityitalia.net
Musim dingin datang. Aku diberi kesempatan untuk pindah rumah. Hidupku pun berubah. Di sana, aturannya lebih ketat lagi. Tidak bisa sebebas seperti di rumah lama. Aku rasa sulit sekali beradaptasi. Namun, pelan-pelan dengan bantuan pemilik rumah, aku bisa. Tidak lama di sini, hanya tiga bulan. Selama musim dingin. Ini perjanjian awalnya.

Di sana aku lihat orang-orang hidup teratur. Mereka rata-rata bersekolah. Pagi sampai sore di luar rumah. Entah pergi kuliah atau mengajar. Malam berkumpul di rumah. Makan bersama, nonton bersama, lalu tidur. Pagi hari, mereka mengawali kegiatan dengan doa. Entah bagaimana doanya. Aku tak tak tahu. Aku hanya mendengar mereka bernyanyi dan membaca. Mereka berkumpul di satu ruangan. Aku sekali melihat ruangan itu dengan seorang dari mereka waktu kali pertama masuk rumah ini. Ada salib di dalamnya. Dan, ada banyak gambar lainnya. Penuh dengan seni lukis dan foto-foto lama. Aku tentu saja tidak bisa masuk seenaknya saja di ruangan ini. Aku tidak seagama dengan mereka. Dan, ini adalah ruang doa mereka.

Aku senang tinggal di sini. Bercakap-cakap dengan mereka itu menyenangkan. Dan, rupanya di sini juga aku hidup gratis. Makan siang dan malam serta pagi selalu ada. Pakaian juga dicucikan. Satu siang, aku melihat tukang kebun mereka. Orangnya baik. Mungkin karena tua, dia ingin pensiun. Dia sudah lama bekerja di sini. Banyak pengalaman yang dia bagikan denganku. Aku dengan senang hati mendengarnya. Dalam hati, aku pikir, mungkin tempatku nanti di sini. Aku senang sekali jika pengalamannya menjadi pengalamanku.

Tiga bulan berlalu. Aku pun diberi kesempatan untuk kembali ke rumah lamaku. Di sana, aku jumpa dengan bosku dan teman-teman lamaku. Mereka semuanya baik-baik. Tidak banyak berubah. Hidup monoton dan peraturan tidak diganti. Lama-lama hidup gratis ini menjadi tidak enak lagi. Tidak bisa menikmati hidup gratis di Eropa ini. (bersambung)

PRM, 12/5/15
Gordi

*Didedikasikan untuk imigran dari negara-negara Afrika yang mencari kehidupan yang lebih baik, di Benua Eropa.

Dari postingan di kompasiana, AKU PINGIN HIDUP BAHAGIA SEPERTI MEREKA (2)

FOTO, spiegel.de
Keinginanku untuk hidup bahagia hampir tak terbendung. Entah kapan realisasinya. Saat ini, aku sedang mencarinya. Hidup bahagia memang tidak saja bahagia di dalam hati tapi juga bahagia dalam hidup di luar. Hidup harian yang bahagia akan menambah kebahagiaan dalam hati. Mesti, tanpa bahagia luar itu pun, bahagia dalam hati tetap ada. Tetapi, lebih baik keduanya sama-sama bahagia, saling melengkapi.

Pagi itu, aku dibawanya ke rumah besar. Tampak seperti penampungan lagi. Memang, ini rumah penampungan. Namun, tidak seperti rumah penampungan sebelumnya. Yang ini agak teratur. Ada jadwal yang harus diikuti. Keluar rumah saja diatur. Jam terakhir masuk rumah saja teratur. Untuk merokok saja, tidak di semua tempat. Ini betul-betul Eropa. Dan, orang Eropa rupanya seperti ini. Beginikah caranya supaya bahagia?

Wah…semuanya serba diatur. Aku tidak bisa lagi bebas merokok seperti di negeriku. Aku tentu saja bebas merokok di luar rumah. Tapi, tidak boleh di dalam rumah. Apalagi dalam kamar. Ada bagusnya juga, aku tidak bisa lagi merokok terus terusan. Apalagi, di sini aku hanya pendatang, pencari hidup bahagia. Aku tak punya uang tapi aku bisa makan gratis. Kalau gratis terus, apa jadinya nanti? Aku tak ingin gratis semua. Paling tidak, aku harus merasakan pahit manisnya mendapatkan uang. Ada usaha, puas, dan bahagia. Tidak mau terus menerus menunggu gratis. Aku tak mau meminta meski banyak yang ingin memberi barang satu dua euro.

Aku ingin kerja sekarang. Namun, tidak ada tawaran untuk bekerja. Memang tidak mudah. Apalagi, aku belum bisa berbahasa dengan baik. Untuk bercakap-cakap saja bisa. Mungkin aku harus mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan peran intelektual. Terlalu sulit bagiku yang belum bisa berbahasa dengan baik ini. (bersambung)

PRM, 12/5/15
Gordi

*Didedikasikan untuk imigran dari negara-negara Afrika yang mencari kehidupan yang lebih baik, di Benua Eropa. 

Dari postingan di kompasiana, AKU PINGIN HIDUP BAHAGIA SEPERTI MEREKA (2)

FOTO, dw.de
Dari ruang penampung ini, kami dipisahkan. Aku tak tahu lagi, ke mana perginya teman seperahuku. Kami memang banyak di ruang ini. Aku juga tak tahu, dari mana datangnya yang lain. Aku hanya tahu, sebagian besar dari kami, berkulit hitam dan berambut keriting. Aku juga bertanya, mengapa mereka ke sini. Mungkin mereka juga datang untuk mencai kehidupan yang penuh damai. Mungkin mereka juga datang dari negeri yang berkonflik dan perang tak berujung. Entah. Bisa YA bisa TIDAK. 

Aku ikut perintah seorang berkulit putih, tinggi, tegap, dan bermata biru. Aku perhatikan betul-betul bentuk tubuhnya. Dia mirip seperti mereka yang tertawa, yang aku lihat di TV beberapa tahun lalu. Aku berangan-angan bisa bahagia dan damai seperti mereka itu. Namun, aku juga pikir-pikir. Jangan-jangan kebahagiaan itu hanya ada dalam TV itu. Jangan-jangan itu hanya angan-angan juga. Jangan-jangan itu hanya seperti iklan saja. Jangan-jangan aku jatuh lagi dalam dunia perang yang bernafsu itu.

Ah…aku tidak mau ingat masa laluku. Masa gelap itu merusak harapan akan masa depanku. Aku ingin berubah. Berubah berarti melupakan masa lalu. Kalau sulit dilupakan, ingat sajalah yang penting-penting saja. Ambil saja hikmahnya dari situ. Lalu, tataplah masa depan.

Itulah sebabnya aku turuti saja perintah sang tuan ini. Entah nanti dibawa ke mana. Aku yakin sekali. Aku akan menikmati hidup yang damai. Hidup yang tidak seperti kehidupan di negeriku yang bergejolak perang berkepanjangan. Di sana nanti, aku akan bertemu keluargaku. Keluarga yang seperti aku bayangkan dulu. Keluarga yang tidak bersekat agama, ras, warna kulit, warna mata, model rambut. Tidak. Aku kini menuju ke kehidupan itu. Ke manakah aku dibawanya saat ini? (bersambung ).

PRM, 11/5/15
Gordi

*Didedikasikan untuk imigran dari negara-negara Afrika yang mencari kehidupan yang lebih baik, di Benua Eropa.

dari postingan di kompasiana PINGIN HIDUP BAHAGIA SEPERTI MEREKA
Powered by Blogger.