Halloween party ideas 2015

BERSEMBUNYI DI BALIK BERINGIN


Namanya unik: Stasi Santa Agnes, Muara Beringin. Padahal, terletak di tengah perkebunan Sawit. Entah mengapa, Muara Beringin begitu melekat dengan nama daerah ini.

Pohon Beringin sama sekali tidak menjadi ciri khas Stasi ini. Daripada Beringin, Pohon Sawitlah yang justru mendominasi. Memang, daerah Riau identik dengan daerah Sawit. Bersama Sawit, daerah ini juga menjadi ladang Karet. Dua komoditas ini menjadi andalan Provinsi Riau.

Nama Muara Beringin boleh jadi diambil dari nama perkampungan atau pedesaan ini. Entah di mana Pohon Beringinnya. Yang jelas, gedung Gereja atau Kapela Stasi ini berada di tengah Sawit.

Untuk menjangkauinya pun agak sulit. Sulit bukan karena jauh dan jalannya rusak tetapi letaknya yang tersembunyi. Kami—tim animasi—pun mesti mengajak seorang OMK dari Palas untuk menunjukkan jalan. Jadi, kami berangkat ke Palas dulu sebelum menuju Muara Beringin.


Kami pun meletakkan harapan kami padanya. Rupanya, ini tidak cukup. Dia sejak awal memang sudah mewanti-wanti bahwa, dia hanya tahu jalan masuk. Sedangkan, ke dalamnya, masih harus bertanya-tanya. Dan meski bertanya, kami belum menemukan titik terang. Bertanya-tanya yang kesekian baru membawa harapan.

Harapan memang bukan sebuah usaha instan. Harapan membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Jika dua hal ini dilalui, harapan dengan sendirinya akan muncul. Dengan kata lain, harapan membutuhkan waktu dan proses panjang.

Setelah harapan pertama tercapai, kami pun menyusuri jalan yang ditunjukkan. Jalannya tampak jarang dilalui mobil. Jalan itu pun hanya membawa kami menuju gereja Muara Beringin dan beberapa rumah di belakang gereja. Jangan heran jika jalannya masih berupa rerumputan. Ada bekas jalan tapi tidak jelas pembatasnya. Sopir mesti meraba-raba dan mengira-ngira batas luar yang bisa dilalui. Jika tidak, boleh jadi ban mobil akan tertanam di rawa-rawa atau keluar dari jalur jalan.



Dengan kelincahan dan kebiasaan, sopir bisa melaksanakan tugasnya sampai tujuan (Kamis, 28 September). Lega rasanya bisa tiba di tempat ini. Dengan lega, tim animasi turun dari mobil dan berjumpa dengan Ketua Stasi yang sedang menunggu di depan gereja.

Gerejanya kecil, tetapi semangat umat luar biasa besar. Saat tiba, tampak hanya ketua stasi dan beberapa umat lain. Dia juga memberitahukan bahwa umat lain akan berdatangan. Jika ada kesabaran untuk menunggu, hasilnya akan memuaskan. Dan, benar yang ia katakan. Kami sabar menunggu dan bahkan memperlambat 1 jam jadwal pertemuan. Dari pukul 16.00 ke 17.00.

Hasilnya menjadi berlipat ganda karena kami juga disuguhi makan malam bersama. Sebelum sampai pada acara ini, kami beranimasi. Ada banyak pertanyaan menarik setelah kami mempresentasikan kegiatan kami. Durasi tanya jawab pun diperpanjang karena awalnya agak sulit memunculkan pertanyaan. Setelah muncul yang pertama, yang berikutnya berurutan dan banyak sekali. Motivasi lain juga adalah agar selesainya pas pada jadwal makan malam.

Makan malam ini rupanya bukan hadiah terakhir. Masih ada buah-buahan sebagai oleh-oleh. Stasi ini rupanya menjadi satu dari beberapa stasi yang selalu menyumbangkan buah-buahan setiap kali kunjungan pastoral. Buah-buahan itu kami terima dengan senang hati. Kami memang senang karena disuguhi makan malam seperti ini.


Satu dari tim animasi berbisik bahwa, sehari sebelumnya ketua stasi sudah meminta untuk berhenti setelah kegiatan animasi. Ini berarti, makan malam ini direncanakan dengan matang. Padahal, kami sebenarnya datang untuk beranimasi saja. Penerimaan ini tentu menjadi penambah semangat baru bagi kami tim animasi dalam kegiatan mendatang.

Terima kasih untuk Ketua Stasi yang menjadi penggerak umat di Muara Beringin. Tawa dan canda kalian saya bawa dalam perjalanan selanjutnya. Salam jaya untuk Rumah Tuhan Muara Beringin.


BA, 9/10/2017
Gordi 





INGIN SELALU BERSAMAMU




Meski tak diinginkan, perpisahan itu mesti terjadi. Dalam hal ini, perasaan dan fakta berjalan berlainan. Masing-masing sesuai jalurnya. Boleh jadi tak akan bertemu pada titik mana pun.

Perpisahan itulah yang mewarnai animasi terakhir ini. Stasi Fransiskus Asisi, Indah Kiat menjadi pelabuhan terakhir dari rangkaian panjang dalam 2 bulan ini. Bagi kami, tim animasi, kegiatan sore ini juga menjadi perpisahan. Berikutnya, tidak ada lagi kebersamaan untuk beranimasi.

Perpisahan yang sama juga menjadi warna tersendiri bagi Stasi Indah Kiat. Sebentar lagi, stasi ini akan berpisah dengan Paroki St Paulus Pekanbaru dan bergabung dengan Stasi yang baru di Kota Batak. Indah Kiat—dalam hal ini—menjadi pelabuhan terakhir.

Meski terakhir, kegiatan sore ini (Jumat, 29 September) tetap diwarnai semangat yang menggelora. Mulai dari generator yang menjadi kekhawatiran awal sampai pada makan malam di Susteran FCJM, Indah Kiat. Tanpa listrik, kegiatan animasi ini menjadi ‘dingin’. Kami membutuhkan listrik untuk komputer dan proyektor.


Salah satu Pengurus Stasi

Syukurlah, kekhawatiran kami berubah menjadi kegembiraan. Dalam sekejab mata, seorang umat merakit sambungan listrik. Dari sini, aliran listrik bisa menjadi penyedia tenaga bagi komputer kami. Ini sungguh luar biasa. Gereja ini masih baru dan sambungan listrik belum tersusun rapi.

Dengan semangat awal ini, kami membangkitkan keinginan anak-anak, remaja, dan orang tua yang hadir sore hari ini. Meski sedikit, mereka tetap memberikan banyak pertanyaan setelah mengikuti presentasi tim animasi berupa slide power point dan video singkat. Pertanyaan ini bermunculan setelah penanya pertama mendapat hadiah dari tim animasi. Hadiah seperti ini memang kadang-kadang berguna untuk membangkitkan semangat bertanya.

Meski demikian, hadiah bukanlah hal utama. Yang utama adalah pemahaman akan bahan yang kami sampaikan. Orang tua yang hadir kiranya paham. Meski paham, mereka enggan bertanya. Atau boleh jadi, mereka sengaja memberikan kesempatan kepada anak-anak dan remaja untuk bertanya.

Indah Kiat tak ingin berpisah namun kami harus berpisah. Sebelum berpisah, kami membuat foto bersama. Setelahnya, ada mamiri (makan-minum ringan). Gara-gara mamiri ini, waktu pun terus berputar sampai menjelang kegelapan.

Sebelum gelap, Sr Leoni, FCJM mengajak kami untuk mampir di Susteran FCJM Indah Kiat. Di sinilah, kami berenam (Pastor Lius SX, Sr Leoni FCJM, OMK Clara dan 2 dari Stasi Rumbai, dan Diakon Gordi SX) makan malam bersama ketiga Suster FCJM di Susteran Indah Kiat.

Bumbu makan malam pun tidak main-main. Ada mie rebus yang disiapkan dalam sekejab. Mie ini memang cocok untuk hidangan instan seperti ini. Kami juga singgah mendadak di sini sehingga penerimaannya pun mendadak. Bumbu ini masih ditambah dengan bumbu siaran sepak bola lokal.

Siaran inilah yang membuat kami menjadi 2 kelompok. Kelompok depan TV dan kelompok meja makan. Setelah bersatu dalam doa sebelum makan, kami mengambil makanan dan duduk di dua kelompok berbeda. Yang hobi sepak bola langsung di depan TV. Yang hobi bercerita langsung duduk di tempat makan.



Setelah perut kenyang dengan 2 bumbu ini, kami pulang ke Pekanbaru. Perjalanan makin lancar meski dalam kegelapan yang makin gelap. Beruntunglah sang sopir sudah terbiasa melewati beberapa tikungan tajam di sekitar Indah Kiat sebelum menyusuri jalanan lurus selanjutnya.

Hidup memang berliku, penuh tantangan namun ada kegembiraan, ada kebahagiaan setelah semua rencana terpenuhi. Betapa bahagianya hati kami tim animasi setelah kegiatan di 25 stasi berakhir. Terima kasih untuk tim animasi yang menggerakkan kegiatan animasi ini.

BA, 9/10/2017
Gordi 




Powered by Blogger.