Halloween party ideas 2015


Perjumpaan saya dengan anak jalanan di Jakarta berawal dari sebuah kebetulan. Lama-lama perjumpaan itu menjadi pergulatan selama beberapa waktu. Di luar dugaan saya ternyata jumlah mereka kian bertambah dalam dua tahun tahun terakhir. (Sumber gambar: Google images: accbrothersquad.wordpress.com)

Empat tahun lalu (2007), saya untuk pertama kali bertemu anak jalanan. Ini sebuah kebetulan karena saya diberi kesempatan untuk mengalami hidup di luar komunitas selama sebulan. Saya dan beberapa teman berjumpa dan hidup dengan anak-anak jalanan di Stasiun Senen dan beberapa anak jalanan yang mengais rejeki dalam kereta KRL Jabodetabek. Tahun 2008 hingga 2010, saya masih sempat berjumpa dengan anak jalanan di dalam kereta, perempatan jalan, stasiun, dan tempat-tempat ramai lainnya misalnya di pinggir rel kereta dan jembatan layang.

Dalam perjalanan dengan kereta dari Bogor, saya sempat berdialog dengan beberapa teman anak jalanan. Saya sempat menyapa dan dia membalas sapaan saya. Kami tidak bisa ngobrol lama karena mereka sambil bekerja, menyapu kolong tempat duduk kereta. Saya maklumi ketika dia membalas sapaan saya sambil berlalu dengan sapu kecilnya. Melalui kegiatan inilah, mereka mencari rejeki dari para pengguna kereta. Saya juga sempat berdialog lama dan bermain dengan beberapa anak jalanan di perempatan Coca-cola, Cempaka Mas, Jakarta Pusat. Di sini, saya bisa berdialog dan bermain lama dengan mereka. Kalau lampu merah menyala, mereka biasanya mepet di pintu sopir dan meminta rejeki.

Sebuah pergulatan
Hidup mereka penuh pergulatan. Ada yang menghabiskan waktunya selama seharian di jalan. Boleh dibilang 24 jam di jalan. Mereka makan, tinggal, tidur, dan bekerja di jalan. Tidak ada lagi kontak dengan keluarga, tidak lagi pulang ke rumah (meskipun ada). Tidak bersekolah. Mereka ini dikategorikan sebagai Children of the Street. Ada juga yang masih memiliki keluarga dan pulang ke rumah, sebagian ada yang bersekolah. Mereka turun ke jalan untuk membantu orang tua termasuk membiayai sekolah mereka (bagi yang masih sekolah). Mereka ini dikategorikan sebagai Children on the Street (uraian lebih lebgkap lihat di .misstika.wordpress.com).

Ini merpakan sebuah pergulatan besar. Bagi yang menghabiskan waktu di jalan, mereka bergulat melawan polusi, menyelamatkan diri dari tindakan kriminal, persaingan dengan para pengais rejeki lainnya. Kadang-kadang anak jalanan menjadi korban pengejaran aparat yang mau menghilangkan anak jalanan dari jalan. Bagi yang mengais rejeki di kereta, mereka bergulat dengan para pedagang dan pengamen dalam kereta. Ada juga anak jalanan yang mengamen di dalam bis kota, tempat-tempat umum seperti taman kota, dari rumah ke rumah, ada yang nogkrong di stasiun, terminal, pasar, dan sebagainya. Semuanya harus bergulat dan memang realitas hidup di ibu kota mesti bergulat.

Kian bertambah
Menurut data terakhir, jumlah anak jalanan di DKI Jakarta mengalami peningkatan hingga 50 persen. Jika pada 2008 jumlahnya sekitar 8.000 orang, pada 2009 jumlah mereka mencapai lebih dari 12.000 jiwa. Mereka tersebar di 25 titik di Jakarta (megapolitan.kompas.com). Penyebaran lain ada di sekitar beberapa tempat bimbingan belajar anak jalanan seperti Sahabat Anak Prumpung, Jakarta Timur; Sahabat Anak Grogol, Jakarta Barat; Sahabat Anak Cijantung, Jakarta Timur; Sahabat Anak Gambir, Jakarta Pusat; Sahabat Anak Manggarai, Jakarta Selatan; Sahabat Anak Senen, Jakarta Pusat; Sahabat Anak Tanah Abang, Jakarta Pusat (misstika.wordpress.com).
Dalam satu keluarga bisa ditemukan lebih dari satu anak jalanan. Menurut data, Dapat dikemukakan bahwa keluarga anak jalanan di Jabodetabek, 6,7% (3 orang) jumlah anaknya yang bekerja di jalanan sebanyak 1–2 orang, 57,8% (26 orang) 3 – 4 orang, dan 35,6% (16 orang) 5 – 6 orang (tkskponorogo.blogspot.com). Jumlah ini bertambah jika kehidupan ekonomi Indonesia memburuk. Memang tidak semua anak jalanan tinggal di jalan untuk mencari uang. Ada yang hanya main-main dan mau hidup di jalan. Jumlah terbesar dari kelompok pencari uang sebab banyak di antara mereka yang kehidupan ekonomi keluarganya buruk. (Gambar-gambar di bawah ini diunduh dari google images)
Kado untuk kita semua
Saya kadang merasa aneh dengan kehidupan di Jakarta. Di tengah gemerlapnya kehidupan kota, banyaknya bangunan megah, kok masih ada saudari/a kita yang begitu menderita. Kita sama-sama tinggal di jakarta, hanya saja ada yang tidur beralaskan kasur di rumah berdinding tembok, namun ada pula yang beralaskan gardus di emperan toko, bangku di terminal, bahkan ada yang beralaskan gerobak . Ironis bukan? Inilah realitas yang terjadi. Jurang itu begitu dalam antara ‘kaum berpunya’ dan ‘kaum tak berpunya’. Bagaimana kita menghadapi situasi ironis semacam ini?
Membayangkan kehidupan teman-teman jalanan, saya teringat puisi di bawah ini. Puisi ini lahir dari pergulatan saya bersama teman-teman (anak-anak) jalanan. Ini adalah gambaran jeritan hidup anak-anak jalanan. Semoga puisi ini menginspirasi kita semua untuk membantu mereka dengan bentuk dan cara kita masing-masing.

Doa seorang anak jalanan*
Tiap saat aku selalu berjuang
Mengais secuil rezeki dari para aristokrat negeri ini
Kadang aku beruntung, rezeki ada di pihakku
Kadang pula aku tak beruntung, konyol ada di pihakku.
Tiap saat aku selalu berusaha
Kukerahkan segenap tenagaku
Demi secercah harapan yang terbit dari abang-abang di sekitarku
Kadang mereka mengerti keadaanku
Kadang pula mereka cuek karena telanjur keenakan dalam kemapanan hidup.
Tiap saat aku selalu berharap
Harap, harap, dan terus berharap
Kadang harapanku mendatangkan kecerahan
Kadang pula harapanku menjadi sirna ditelan pelangi kelupaan negeri ini.
Tiap saat aku berdoa
Berdoa pada Dia sang empunya kehidupan
Kadang Dia mendengar jeritanku
Kadang pula suaranya tak kudengar karena kebisingan dunia yang sudah kacau balau.
Di atas semuanya ini
Aku hanyalah manusia hampa, dan hamba
Yang selalu berharap dalam petualangan menemukan
Siapa sebenarnya diriku dan
Apa yang sedang kucari dalam alam baka ini.

*Pernah dimuat di Warta Xaverian edisi Oktober 2009-Maret 2010
Cempaka Putih, 18 Januari 2011
Gordy Afri

Post a Comment

Powered by Blogger.