Halloween party ideas 2015

Manusia sering menuntut. Jika tidak terpenuhi tuntutannya semakin besar. Kasus tuntut menuntut sering dijumpai dalam hidup harian. Di pengadilan, dalam masyarakat, di sekolah, di rumah, di kantor, dan institusi lainnya. Menuntut dalam hal ini adalah wajar. Ya, kalau ada perjanjian maka akan ada tuntutan untuk pemenuhan janji itu.

Manusia bisa dikuasai oleh aksi menuntut. Seolah-olah menuntut lebih besar daripada manusia. Padahal manusialah yang menuntut. Manusialah yang menentukan sebuah kasus bisa dituntut. Jadi, sebenarnya keberadaan manusia lebih besar darisekadar menuntut. Menuntut hanyalah salah satu dari aksi manusia.

Menuntut lebih besar dari keberadaan manusia bisa dilihat dalam kasus pengadilan. Menuntut seorang janda miskin membayar denda sejumlah uang karena mencuri satu jenis buah-buahan. Janda yang miskin itu sama sekali tidak punya uang sebanyak yang dituntut. Tetapi, si penuntut tetap menuntut itu. Jika tidak, hukuman pun mesti dikenakan. Janda itu masuk sel karena tidak sanggup membayar.

Manusia bukan saja bisa dikuasai oleh aksi menuntut, manusia juga suka menuntut. Kasus A harus dituntut. Kasus B harus dituntut. Kasus C harus dituntut. Apa-apa menuntut. Seolah-olah tidak ada jalan keluar selain menuntut. Manusia mendewakan aksi menuntut. Menuntut menjadi seolah-olah dewa yang mesti dan harus dilakukan. Dan dari pendewaan, manusia juga diperbudak oleh aksi menuntut. Manusia lain yang jadi korban aksi menuntut menjadi budak dari si penuntut. Manusia memperbudak sesamanya sebagai manusia.

Inilah yang mendera masyarakat akhir-akhir ini. Dari mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya. Semua menuntut. Dan, tuntutan itu diarahkan pada objek tertentu. Yang lain kepada pemerintah, yang lain kepada atasan, yang lain kepada institusi tertentu. Dari sekian tuntutan ada yang maksudnya jelas, dan wajar, tetapi ada juga yang sekadar menuntut, tidak jelas tujuan tuntutannya apa. Yang seperti ini ibarat kerumunan. Dalam kerumunan, semua tampak seragam. Padahal di dalamnya tidak jelas, mengapa mereka berkerumun. Boleh jadi ikut-ikutan karena ada udangnya. Diiming-iming sejumlah duit, pasti kerumunan terbentuk.

Dari uraian ini bisa disimpulkan bahwa aksi menuntut itu kurang bagus. Benarkah demikian? Tentu tidak selalu. Menuntut—meski sesekali bisa menguasai manusia—tentu di satu sisi perlu. Kalau tidak ada tuntutan, keteraturan hidup bersama tidak terjadi. Semua pengguna jalan raya mesti dituntut untuk mengikuti aturan dan mengikuti arahan petugas lalu lintas. Di sini petugas wajib menuntut pengguna jalan. Dan, pengguna jalan wajib menuntut ketegasan petugas. Jadi, aksi menuntut tidak selamanya mengarah pada hal yang kurang baik.

Menuntut itu perlu tetapi tidak harus sampai berlebihan. Tuntutan wajar dan menjadi relevan jika objek yang dituntut mampu memenuhi tuntutan. Jika tidak, tidak perlu menuntut terlalu berlebihan. Anak kecil tidak mungkin dituntut untuk mengangkat beban 30 kg. Ini tidak sesuai kemampuannya.

Rakyat Indonesia sudah candu menuntut. Objek tuntutannya juga jelas, pemerintah. Ketika penyelanggaan UN tahun ini tidak lancar, masyarakat menuntut menteri pendidikan untuk bertanggung jawab. Ketika harga BBM tidak menentu dan penyalurannya tidak lancar, rakyat menuntut kejelasan pada pemerintah. Masih banyak tuntutan lainnya.

Lepas dari berbagai tuntutan yang rakyat ajukan, satu pertanyaan patut dilontarkan, sanggupkah atau mampukah pemerintah memenuhi tuntutan rakyat itu? Idealnya harus. Ini tugas pemerintah. Rakyat berhak mendapat perhatian pemerintah. Ada yang pesimis dengan kesanggupan pemerintah. Ada pula yang optimistis.

Penilaian seperti ini wajar. Dan yang lebih wajar lagi adalah rakyat sendiri harus menentukan apakah sebuah kasus perlu dituntut seperti ini atau tidak. Dengan ini, rakyat juga tahu, memilah-milah kasus. Dan rakyat juga tahu, ke mana kasus ini dituntut. Rakyat bukan saja menuntut tetapi harus tahu kepada siapa tuntutan ini ditujukan.

Salam selamat siang. Ini iseng-iseng di padi awal pekan ini.


PA, 27/5/13
Gordi

Post a Comment

Powered by Blogger.