Halloween party ideas 2015


Saya suka tanggal, bulan, dan tahun ini. Ini padanan yang cantik. Nomor cantik, kata penggemar nomor handphone. Nomor cantik juga kata pemain kupon putih. Apakah bagi saya juga itu merupakan nomor cantik?
Tentu saja. Tetapi cantik dalam arti apa. Saya memang melihat padanan itu cantik. Bukan dibuat-buat juga. Tetapi, kebetulan yang tak disangkal lagi.

Tadi malam saya dapat kabar dari rumah. Kabar buruk. Nenek saya meninggal. Saya sedih mendengarnya. Adik-adik saya mengabarkan hal itu. Dengan dua adik, saya berkomunikasi cukup lama. Kami mengenang jasa sang nenk. Dengan dua paman saya juga, saya berkomunikasi. Meski hanya sebentar dengan mereka. Mereka memang sibuk mengurus hal ini. Tetapi ekduanya tetap membalas pesan singkat saya. Satunya dibalas pagi ini dan satu lagi balas langsung tadi malam.

Nenek bagi saya adalah figur penyayang. Dialah yang memberi kasih sayang seperti ibu saya memberi kasih sayang. Saya sempat mengenang dan bercerita dengan adik saya. Dulu, waktu saya dan kakak masih kecil, sering mengunjungi nenek dan kakek. Nenek biasanya menyimpan telur ayam. Ketika kami, cucu-cucunya datang, dia mengeluarkan telur ayam itu dan merebusnya. Dia sendiri yang membagi-bagikan kepada kami para cucunya.
Ini yang saya ingat dari nenek ini. Dan, akan saya ingat terus.

Tadi malam, saya sempat menetes air mata ketika berkomunikasi dengan adik saya. Adik saya belum lama ini bertemu nenek. Kebetulan dia libur dan kembali ke rumah. Ia mengunjungi nenek yang waktu itu sempat sakit. Mereka berbincang-bincang sebentar. Dia juga punya kenangan indah dengan sang nenek.

Saya sendiri sudah lama tidak bertemu dia. Waktu liburan 2 tahun lalu, saya tidak sempat bertemu nenek. Meski demikian, saya selalu ingat dia. Nenek dalam benak saya tidak terlupakan justru karena kasih sayang yang ia berikan waktu kami kecil.

Semalam, saya menangis mengingat nenek. Dia kini meninggalkan kami, anak-anak dan cucu-cucunya.

Kami sedih mengingatmu nek
Kami tidak bisa menemukan figur seperti engkau
Kami kini hanya mengenang jasamu Tanganmu begitu halus dan damai bagi kami Engkau mendidik kami dengan penuh kasih sayang
Engkau mengajari kami hidup bersama dalam suasana persaudaraan
Engkau juga mengajari kami apa artinya berbagi
Darimu kami belajar banyak hal
Nek, dari sana engkau melihat kami
Doakan kami nek dari seberang sana Bimbinglah langkah kami anak-anak dan cucu-cucumu
Ingatkan kami untuk selalu mendoakanmu.

Keluarga kami dirundung duka yang beruntun. Tahun lalu dalam suasana Natal sang kakek pergi untuk selamanya. Dia meninggal persisi malam Natal. Saya waktu itu sedih. Tetapi tetap merayakan misa Natal bersama teman-teman dalam suasana bahagia. Bukan senang.

Dengan kepergian nenek ini, kini kami sebagai cucu tidak ada lagi figur yang bisa bermanja-manja. Kini saya hanya punya Om dan Tanta. Selain keluarga saya sendiri tentunya. Tetapi ada suasana lain nantinya jika berkunjung ke rumah nenek. Dulu, ada kakek dan nenek yang menyambut dengan suasana ceria dan kasih sayang. Kami dulu disambut di pintu masuk. Nenek dan kakek mencium kami satu per satu. Yang kecil bahkan digendong. Sekali gendong 1 sampai 2 cucu. Lalu bergantian.

Kini yang menyambut kami hanya Om dan Mama kecil saya. Tetapi tak apa-apa asal kami bisa berkumpul dalam satu keluarga yang penuh kasih sayang. Dengan Om ini juga saya sampaikan pesan semalam. Saya harap Om membaca pesan saya itu di hadapan nenek. Sebab, hanya itu kata-kata terakhir saya. Saya tak bisa berbuat apa-apa—kecuali berdoa dan berharap—dan tak punya apa-apa untuk diberikan pada nenek.

Kepergian nenek membawaku membayang dan mengingat semua keluarga yang sudah pergi meninggalkan kami. Ada kakek. Ada kakak yang amat dekat dengan saya. Ada juga Tanta yang juga amat dekat dengan saya dan juga dengan bapak. Ada kakek dan nenek dari keluarga bapak yang selalu kami doakan. Mengingat mereka semua ini saya hanya bisa berdoa. Saya tidak sempat hadir dalam hari-hari terakhir dan pada waktu pemakaman mereka semua ini tetapi saya mendoakan mereka.

Saya yakin mereka semua berbahagia bersama Bapa di surga. Akhirnya selamat jalan nek, doa kami menyertaimu. Doakan kami dari seberang sana. Berilah kami anak-anak dan cucumu kebahagiaan dalam hidup. Selamat jalan nenek. Dari cucumu tercinta dan atas nama para cucumu.
Gordi Afri

PA, 10/11/12
GA


Melahap 400-an Halaman dalam 1 Minggu


Ada apa ini judul tulisan pake jumlah halaman? Sengaja ditulis demikian. Memang isi tulisan ini membicarakan tentang halaman buku. Buku apakah yang dimasudkan itu?

Begini ceritanya. Saya ini kan rajin membaca. Membaca koran, majalah, dan buku. Saya juga sering mendapat cerita motivasi dari orang lain tentang menariknya kegiatan membaca. Memang saya selalu tertarik untuk membaca. Tema apa pun asal diulas dengan menarik saya akan membacanya.

Beberapa hari belakangan saya sedang membaca buku Perang Eropa jilid 2 dan 3. Buku PE jilid 1 sudah saya baca di Jakarta. Di Yogya ini saya melanjutkan membaca PE 2 dan 3 juga Perang Pasifik. Semuanya ditulis oleh PK Ojong, salah satu pendiri Kompas-Gramedia.

Dengan gaya jurnalistiknya, Ojong menulis dengan menarik. Ceritanya menarik untuk dibaca bersambung. Lantas jumlah 400-an halaman pun selesai dalam 1 minggu. Di Jakarta saya pernah membaca 1 hari sebanyak 200 halaman. Tetapi leher saya jadi sakit sedikit. Gara-gara menunduk terlalu lama. Dari situlah bermula saya tertarik membaca buku PE ini. Tetapi kemudian saya membuat ukuran sendiri. Membaca maksimal 100 halaman sehari. Kadang-kadang kurang seidikit. Saya menargetkan minimal kalau sibuk 50-an halaman sehari.

Buku PE jilid 1 dan 2 saya selesaikan masing-masing 1 minggu. Mulai kemarin saya membaca buku Perang Pasifik. Mudah-mudahan selesai dalam 1 minggu. Mengingat bukunya juga harus segera dikembalikan. Beginilah model membaca buku pinjaman dari orang lain atau dari perpustakaan. Jangka waktu peminjamannya terbatas.

Demikian sedikit sharing saya selama membaca buku Perang Eropa beberapa hari belakangan. Semoga ini menjadi isnpirasi bagi pembaca semuanya untuk giat membaca. Selamat membaca.
----------------------
PA, 7/11/12
GA


Perang eropa menjadi sebuah ajang menguji kekuatan senjata antara Sekutu (Amerika-Inggris) dan Jerman. Sekutu masih dilengkapi dnegan beberapa negara sahabat lainnya seperti Polandia. Sedangkan Jerman berharap pada Italia. 

Adu kekuatan senjata tak terhindarkan dalam perang Eropa ini. Yang uniknya adalah bagaimana kinerja para perancang dan ahli senjata memacu penemuan baru. Mereka ini memikirkan bagaimana menciptakan senjata model baru yang mampu menangkis atau menaklukkan senjata lawan.

Perkembangan teknologi senjata saat itu amat pesat. Ada senjata yang khusus menghalau senjata lawan. Ada yang menangkis serangan dari udara. Pokoknya macam-macam.

Boleh jadi tanpa perang teknologi senjata tidak maju. Senjata memang digunakan untuk perang. Tanpa perang senjata hanya menjadi hiasan belaka. Tetapi tahukah kita bahwa senjata yang diciptakan itu membunuh sejumlah besar manusia? Untuk apa menciptakan senjata jika manusia justru bernafsu untuk membunuh sesamanya?

Inilah salah dan kurang bijaksananya manusia modern. Menciptakan barang canggih yang justru memakan nyawa manusia. Di mana moral manusia beraksi? Aksi bobrok dalam peperangan hanya ambisi sesaat yang menanam penderitaan berkepanjangan di muka bumi ini.

Ini obrolan sambil membaca buku PERANG EROPA jilid II dan III­ karangan PK Ojong.

PA, 4/11/12
GA

Powered by Blogger.