Halloween party ideas 2015

foto oleh afdhal fauzy
Konflik antar-warga masih melanda masyarakat Indonesia. Ada-ada saja penyebabnya. Mulai dari masalah sosial, politik, ekonomi, perbatasan, intoleransi, dan sebagainya. 

Daerah yang sering terjadi konflik adalah Poso, Lampung, dan Papua. Di ketiga daerah ini, masyarakatnya merasa tidak aman. Bukan berarti di daerah lain aman. Konflik juga melanda daerah lain. Hanya saja frekuensinya tidak sebesar ketiga daerah ini.

Poso kembali bergejolak. Padahal belum lama ini terjadi konflik. Akar konflik di sini agak rumit. Ada yang bilang di sinilah sarang teroris. Ada juga yang mengatakan di sini rawan provokasi. Ada yang tidak suka keragaman budaya dan agama.

Demikian juga dengan Lampung. Di sini ada keragaman suku dan agama. Ada yang iri dengan keberhasilan pendatang. Gara-gara masalah kecil, emosional massa tersulut. Letuslah konflik besar.

Di Papua masalahnya sering dikaitkan dengan kehadiran Freeport. Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah mengapa rakyat Papua masih miskin sementara daerah mereka kaya tambang dan busaya serta pariwisata?

Jangan-jangan kekayaan tambang itu dikeruk sebesarnya oelh pihak asing dan pemerintah pusat. Rakyat tidak puas dengan semua ini akhirnya meletuslah konflik berkepanjangan. Tiada akhir.

Kapankah rakyat kita merasa aman???

PA, 21/12/12
Gordi

*Pernah dimuat di blog kompasiana apda 21/12/12

foto ilustrasi oleh andi rahmat
Pernahkah Anda membuat penilaian terhadap teman kerja? Bagaimana Anda menilainya?

Menilai teman kerja amat gampang. Sekadar menilai tentu saja lebih gampang. Coba beri penilaian saat kita merasa senang dengannya. Hasilnya pasti baik-baik saja. Sebaliknya, beri penilaian saat kita kecewa dan jengkel dengan dia. Hasilnya pasti buruk semua.

Menilai rekan kerja atau teman sejawat sebenarnya bertujuan untuk membantu dia bertumbuh dan berkembang. Menilai beda dengan mencari kelemahan rekan kita.

Mencari kelemahan amat gampang karena semua manusia punya.

Menilai untuk membiarkan dia berkembang tentu tidak mudah. Kadang-kadang rasa dendam dan iri hati ikut berpengaruh. Kalau demikian, bagaimana sebaiknya kita menilai rekan kita?

Salah satu tipsnya adalah pandanglah dia sebagai saudara kita. Dengan kaca mata saudara, kita membantu dia untuk bertumbuh dalam persaudaraan. Siapa yang tidak mau bekerja dalam suasana persaudaraan?

Bantulah saudara kita menemukan kekurangannya. Yang kurang itu mesti disingkirkan sehingga dia bisa berkembang/bertumbuh sesuai yang diharapkan. Biarlah kariernya berkembang dan kepribadiannya semakin baik.

Berikan juga semangat padanya agar ia mengembangkan hal positif yang ada padanya. Yang positif mesti bertambah sehingga berguna bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Dengan menilai seperti ini, kita memandang rekan kita sebagai saudara dan bukan pesaing. Suasana kerja menjadi tidak sehat jika ada persaingan.

Demikian juga dalam hidup bersama. Kalau ada persaingan, rasa-rasanya suasana kehidupan kita kurang sehat. Boleh jadi kita juga bertumbuh dalam kesakitan. Ini yang mesti dihindari.

Salam penilaian……

PA, 20/12/12
Gordi

*Pernah dimuat di blog kompasiana apda 20/12/12

Foto oleh G Abidin
Siapa yang tidak kenal Taufik Hidayat? Pebulu tangkis yang namanya harum di dunia tepok bulu ini adalah juara olimpiade Athena tahun 2004.

Dia kini mundur dari dunia bulu tangkis. Tetapi kiprahnya masih segar. Dia baru saja mendirikan pusat latihan yang lengkap di Ciracas, Jakarta Timur. Nama tempat ini mengikuti nama Taufik yakni Taufik Hidayat Arena.

Dia tahu apa yang mesti dibuat setelah mundur dari dunia bulu tangkis. Mari merenung sejenak tentang apa yang dibuat Taufik.

Saya bertanya-tanya mengapa Taufik mendirikan pusat latihan seperti ini? Apakah dia tidak puas dengan fasilitas yang ada di negeri ini?

Boleh jadi dia merasa kurang puas. Dia mesti meraih mimpinya mendirikan pusat olahraga seperti ini. Saya kira di sini dia mau mengabdi untuk bangsa.

Fasilitas yang disediakan negara tentu saja tidak disampingkan. Tetapi Taufik merasa mesti ada arena latihan lain.

Taufik memang mau mengabdi untuk bangsa. Dan masih banyak mantan atlet lain yang melakukan hal sama. Lihat mereka yang masih sedia duduk di pengurus bulu tangkis se-Indonesia (PBSI). Beberapa di antara mereka juga mengabdi untuk bangsa.

Dengan kata lain rakyat di negeri ini masih mau mengabdi untuk negara. Tinggal saja dikelola dengan baik, negeri ini mendapat perhatian banyak dari rakyat. Kemajuan olahraga Indonesia tak terlepas dari dukungan rakyat.

Indonesia harum di dunia bulu tangkis dunia karena pemainnya. Sementara di dunia sepak bola, rakyat Indonesia adalah pelopor pendukungnya dari dalam negeri hingga luar negeri.

Amat sayang jika wajah olahraga dikotori dunia politik. Ngomong-ngomong dunia sepak bola sudah kena getahnya. Sengketa antara PSSI dan KPSI ternyata dilatarbelakangi dunia politik. Beda pilihan politik beda juga bentukan organisasi yang ada.

Kita berharap dunia bulu tangkis jauh dari dunia politik. Jika tidak, cabang olahraga andalan Indonesia ini akan tamat riwayatnya.

PA, 19/12/12
Gordi

*Pernah dimuat di blog kompasiana pada 19/12/12

Powered by Blogger.