Halloween party ideas 2015


gambar dari abc.net.au
Pilihan untuk berpihak pada kaum miskin adalah salah satu program kerja atau misi Paus Fransiskus. Pilihan ini tidak mudah. Bayangkan saja, di seluruh dunia, jumlah penduduk miskin lebih banyak dari penduduk yang kaya. Di Indonesia, sudah jelas, yang miskin lebih besar dari yang kaya. Jurangnya bertambah dalam karena sebagian besar kekayaan negara menjadi milik beberapa orang kaya. Meski sulit, Paus Fransiskus dalam kepemimpinannya selama dua tahun, sudah membuktikan bahwa dia mampu berpihak pada kaum miskin.

Tiga belas Maret 2013 adalah tanggal bersejarah bagi dunia umumnya dan bagi Gereja Katolik khususnya. Hari ini terpilih pemimpin Gereja Katolik yang baru-menggantikan Paus emeritus Benediktus XVI-yakni Paus Fransiskus. Sejak saat itu, Paus asal Argentina ini mengganti nama kepemimpinannya. Dia memilih nama Fransiskus. Nama yang erat kaitannya dengan semangat kemiskinan. Fransiskus yang dimaksud adalah putra kelaurga kaya di kota Asisi, Italia. Dia kaya tetapi memilih untuk hidup miskin.

Paus Fransiskus kiranya tidak salah memilih. Dia juga memilih nama ini setelah mendengar bisikan teman kardinalnya. “Jangan lupa kaum miskin,” demikian bisikan temannya. Fransiskus ingat, kaum miskin adalah perhatian besar bagi Fransiskus dari Asisi. Maka, dia pun memilih nama itu sebagai nama kepemimpinanannya.

Kepemimpinan Paus Fransiskus memang unik. Keunikannya terletak pada pilihannya untuk memerhatikan kaum miskin. Baginya, perhatian ini mesti dimulai dari diri sendiri. Kelak, misi pribadinya ini menjadi misi bersama, misi Gereja Katolik pada umumnya. Dia pun memulainya dari hari pertama masa kepausannya. Dia memilih untuk tinggal di apartemen di luar rumah Vatikan. Dia meninggalkan kamar yang boleh dibilang nyaman dan mewah di dalam kompleks Vatikan. Ini hanya salah satu contoh atau bukti nyata pilihannya.

Kalau dirunut ke belakang, pilihan Paus yang bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini, sudah dimulai di Argentina kala dia menjabat sebagai uskup dan kardinal di sana. Dia memilih untuk tinggal di apartemen, membayar sendiri uang koran dan telepon, menumpang bis umum kala mengunjungi umatnya, dan sebagainya. Hal-hal kecil ini dia bawa sampai ke Roma saat dia menjabat sebagai paus. Di kompleks Vatikan, misalnya, dia memberi salam kepada para uskup dan pastor serta karyawan di Vatikan. Dia juga mengunjungi para permasak di dapur sebelum menyantap hidangan siang. Konon, peraturan protokol Vatikan amat ketat. Semuanya di atur. Bahkan, untuk naik lift saja, ada ajudan yang membukakan pintu. Paus Fransiskus meminta para pasukan keamanan Vatikan untuk membiarkannya membuka sendiri pintu lift. “Kamu pergi mengerjakan pekerjaan lain. Yang ini bisa saya kerjakan,” katanya suatu ketika kepada seorang ajudan dari Swiss Guard.

Pilihan Paus Fransiskus tidak saja berhenti di dalam tempat tinggal dan kantor kerjanya. Dia juga tetap membawa pilihannya ini kemana pun dia pergi. Di kota Roma, misalnya, dia mengunjungi kaum pinggiran yang nota bene adalah kaum imigran yang datang mencari kerja di Italia. Bahkan, imigran yang telantar di Pulau Lampedusa (dekat Italia bagian Selatan) pun dia jemput. Dialah yang menggugah hati pejabat Italia untuk pergi memerhatikan para imigran yang kadang-kadang menderita sebelum mendarat di Italia. Paus Fransiskus tahu betul betapa menderitanya kaum imigran ini baik dalam perjalanan dengan perahu menuju Italia maupun setelah mereka mendarat dan mencari pekerjaan di Italia.

Dalam bidang relasi dengan komunitas agama lain, Paus Fransiskus juga adalah ujung tombaknya. Dia mengunjungi Turki dan Yerusalem. Di sana, dia bertemu para pemimpin dari komunitas Muslim, Yahudi, dan Ortodoks. Dia masuk dan berdoa di masjid, sinagoga, dan gereja ortodoks. Perbedaan keyakinan bagi Paus Fransiskus bukanlah penghalang untuk tinggal dan hidup bersama. Dia bukan saja mengunjungi para pemimpin agama lain, Paus Fransiskus juga menawarkan rumahnya (Vatikan) untuk berdialog, berbicara, berdoa, mencari solusi atas masalah Israel-Palestina. Saat itulah dunia bergaung mendengar suara umatnya berdoa. Suara solat bergaung dari Vatikan. Demikian juga dengan suara dari komunitas Yahudi yang juga berdoa di Vatikan.

Paus Fransiskus di Asia
Paus Fransiskus menaruh perhatiannya juga untuk bangsa-bangsa Asia. Itulah sebabnya dia tak segan-segan untuk mengunjungi Asia dua kali dalam dua tahun masa kepausannya ini. Korea, Srilangka, dan Filipina adalah tiga negara yang dia kunjungi. Di Srilangka, dia bertemu dengan para pemimpin dari komunitas Hindu dan Budha. Di Filipina, dia bertemu dengan para korban badai.

Saat itulah, dia merealisasikan misinya untuk memerhatikan kaum miskin. Miskin bukan saja materi tetapi juga semangat hidup. Bagi Paus Fransiskus, kita tidak bisa tinggal bersama dengan damai dan nyaman, jika di antara kita masih ada yang merasa kurang semangat. Kendurnya semangat ini disebabkan berbagai latar belakang. Boleh jadi ekonomi, juga hubungan dengan komunitas lain, atau juga situasi yang dikondisikan dari pemerintah di suatu negara. Situasi seperti ini menjadi perhatian Paus Fransiskus. Itulah sebabnya, dia tidak mau membatalkan niatnya untuk mengunjungi orang-orang Filipina. Pada hari yang sama, di Filipina turun hujan dan angin kencang. Paus tidak menjadikan ini sebagai alasan untuk tidak mengunjungi para korban. Dia justru mengenakan mantel plastik seperti yang dipakai para korban pada umumnya, dan bersama mereka berdoa di sana. Ini adalah tanda kecil, bagaimana seorang pemimpin mau turun dan terlibat dalam situasi masyarakatnya.

Tindakan ini mungkin kecil tetapi bagi rakyat Filipina, tindakan Paus ini justru menyentuh hati mereka. “Kehadiran Paus membuat kehidupan saya berubah. Saya menemukan kembali semangat yang baru untuk terus menjalani hidup ini,” demikian komentar seorang rakyat Filipina dalam kunjungan paus ini.

Para pemimpin di dunia juga di Indonesia kiranya perlu menarik pelajaran penting dari gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Perhatian terhadap kaum miskin kiranya mesti menjadi perhatian kita semua. Hari-hari ini di negeri kita, rakyat kecil menjerit. Keluhan karena naiknya harga listrik, BBM, sembako, dan sebagainya adalah keluhan rakyat kecil. Keluhan ini menjadi tanda bahwa rakyat kecil membutuhkan perhatian dari pemimpin. Siapa peduli, dialah yang tidak melupakan kaum miskin ini. Keluhan mereka sebenarnya bukanlah keluhan anak kecil yang merengek dan minta diperhatikan oleh ibunya. Bukan. Keluhan mereka adalah tanda bahwa mereka sedang menghadapi kesulitan. Itu berarti bahwa pemimpin mesti peka dan segera memberi mereka bantuan secukupnya. Jika tidak, rakyat kecil akan menderita.

Kita yakin pemimpin kita di Indonesia ini bisa memerhatikan kaum miskin yang jumlahnya mayoritas. Yakin pula bahwa para pemimpin kitas masih punya hati untuk menjawab keluhan rakyat kecil.

Salamat ulang tahun kedua-sebagai paus-kepada Paus Fransiskus di Roma-Vatikan, Italia.

PRM, 12/3/2015
Gordi



ilustrasi dari kompas.com, postingan kompasiana
Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan. Negara-negara maju di Eropa, Amerika, dan Asia menitikberatkan perhatiannya pada ilmu pengetahuan. Dari sini mereka berkembang ke bidang lainnya. Dari pengetahuanlah, Amerika belajar membuat teknologi canggih. Bangsa-bangsa besar di Eropa seperti Jerman, Italia, Prancis, dan sebagainya, maju karena ilmu pengetahuan. Di Asia ada Jepang, Cina, Korea, Taiwan, Tailand sudah masuk kategori maju. Ilmu pengetahuan-tentu dengan ditopang bidang lain seperti ekonomi, budaya, dan sosial-politik-menjadi tonggak utama dan pertama kemajuan sebuah bangsa.

Tak bisa tidak, bangsa maju manapun harus melewati tahap ini. Jepang sudah melewati tahap ini. Itulah sebabnya Jepang menjadi salah satu bangsa maju di Asia bahkan di dunia, bersaing dengan bangsa maju lainnya di Eropa dan Amerika. Jepang memang tidak main-main dengan pengetahuan. Dalam bidang Filsafat, Jepang sudah menunjukkan buktinya. Filsuf-filsuf Jepang sudah membuktikan bahwa mereka bisa membangun dan mengembangkan ilmu Filsafat khas Jepang. Itulah sebabnya, sahabat saya yang bekerja di Jepang mengatakan, “Jepang belajar filsafat di Eropa, lalu membangun sistem filsafatnya sendiri khas Jepang.”

Kemajuan Jepang rupanya tidak lepas dari kemajuan bangsa lain seperti Eropa. Jepang-dalam hal ini-pandai belajar dari negara lain. Jepang tahu bangsa Eropa sudah maju karena ilmu pengetahuannya, dia pun ingin belajar dari Eropa. Bagi Jepang, ilmu pengetahuan tidak jatuh begitu saja dari langit. Ilmu pengetahuan mesti dicari, dipelajari, dikembangkan. Tidak ada hal baru di atas bumi ini. Semuanya sudah dipelajari, ditelusuri. Maka, kalau mau mendapatkan yang baru, selidikilah seluk-beluk yang sudah ada. Demikian juga dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Jepang menyelidiki perkembangan ilmu pengetahuan ini di Eropa. Jepang tahu betul, Eropa adalah gudang ilmu pengetahuan. Maka, Jepang mengirim para mahasiswanya ke Eropa. Di Eropa mereka belajar apa saja. Ilmu pengetahuan umum, budaya, sosial, politik, filsafat, teknologi dan cabang lainnya. Para mahasiswa ini belajar dan bertemu para ilmuwan Eropa. Dari para ilmuwan ini, mereka belajar banyak hal. Mereka ingin menjadikan ilmu pengetahuan ini kelak menjadi milik orang Jepang. Mereka rupanya punya keyakinan kuat bahwa Jepang juga bisa seperti Eropa. Jepang memang terbelakang dibanding Eropa tetapi mereka yakin bisa mengejar Eropa. Mereka mencari cara agar mimpi ini tercapai.

Sambil belajar, mereka menemukan caranya. Mereka belajar di Eropa tapi mereka kembali ke Jepang. Di Jepanglah mereka mengembangkan ilmu pengetahuannya. Dalam bidang Filsafat misalnya, mereka belajar dari filsuf-filsuf Eropa seperti Kierkegaard (1813-1855), Heideger (1889-1976), Buber (1878-1975). Mereka belajar karya-karya filsuf Yunani Kuno seperti Sokrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan sebagainya.

Untuk mencapai perkembangan ilmu-ilmu modern, rupanya harus belajar dari ilmu-ilmu yang sudah ada sebelumnya. Jepang menerapkan hal ini dalam bidang kesehatan. Mereka mengirim tenaga kesehatan untuk belajar di Eropa lalu kembali ke Jepang dan mengembangkan pengetahuannya. Belajar kesehatan bagi orang Jepang tidak berhenti pada gelar dokter atau perawat. Belajar bagi mereka adalah pekerjaan seumur hidup.

Kata sahabat saya lagi, “Ilmuwan Jepang belajar kedokteran di Jerman, lalu kembali ke Jepang. Di sana mereka mengembangkan ilmu kedokteran dan menemukan jenis-jenis obat khas Jepang.” Ini menarik untuk ditiru. Demikian juga dengan ilmu lain seperti Filsaafat. “Orang Jepang belajar Filsafat di Eropa lalu kembali Jepang dan menemukan Filsafat khas Jepang.” Maka lahirlah nama besar seperti Nishida Kirarò (1870-1945), Tanabe Hajime (1885-1962), dan Nishitani Keiji (1900-1990). Ini hanya beberapa saja. Masih banyak ilmuwan lainnya. Mereka inilah yang berjasa membangun sistem Filsafat khas Jepang.
Mereka belajar dari Eropa, menerjemahkan karya-karya penting dari Eropa lalu mereka membangun sistem filsafatnya sendiri. Begini rupanya Jepang membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia kiranya perlu menengok sejarah. Soekarno sudah mengirim putra-putra terbaiknya untuk belajar di Eropa dan Amerika. Soekarno rupanya tidak kalah pandai dengan Jepang. Boleh jadi sebelum Jepang, dia sudah menemukan cara ini. Atau juga mungkin sama-sama pandai. Maklum, Soekarno belajar Filsafat dan ilmu pengetahuan lain di Eropa. Sayang, kecerdasan Soekarno tidak didukung oleh anak-anak bangsa. Ilmu pengetahuan dalam hal ini lagi-lagi dikhianati politik. Politiklah yang membuat putra-putra terbaik Indonesia tidak bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya di negara ini. Mereka berjaya di luar negeri sementara Indonesia sendiri terus terbelenggu dengan kemajuannya yang tinggal di tempat.

Terkenang sebuah seminar di STF Driyarkara beberapa tahun lalu. Pembicaranya adalah putra Indonesia sendiri yang bekerja di kota Manchester, Inggris. Dia lebih nyaman bekerja di universitas terkemuka di Inggris ketimbang di Indonesia karena karya-karyanya tidak bisa dikembangkan di Indonesia. Bahasa kasarnya, bangsanya sendiri tidak mendukung karya-karyanya. Kiranya dia tidak sendiri. Banyak ilmuwan Indonesia yang bekerja dan mengajar sampai namanya terkenal di luar negeri termasuk di Jepang dan Eropa. Indonesia rupanya tidak kalah dari Jepang. Indonesia tinggal selangkah lagi. Namun, langkah itu masih sulit jika situasi politik, sosial, ekonomi tidak kunjung kondusif. Kapan Indonesia bisa membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuannya? Saat Indonesia sudah bebas dari belenggu politik, sosial, dan ekonomi yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Waktunya belum ditentukan. Jepang sudah menemukan saat-saat terindahnya di abad XIX dan XX. Ayo..Indonesia juga bisa. Majulah anak bangsa, rebut kemajuan dari tangan-tangan pembelenggu.

Salam cinta Indonesia.

PRM, 6/3/2015
Gordi

gambar dari postingan di kompasiana
Pelajaran Geografi itu penting. Tak sia-sia jika diajarkan di SMP dan SMA. Pelajaran itu akan dibawa terus sepanjang hidup. Hingga masa tua pun, pelajaran itu tetap berharga. Itulah sebabnya pelajaran Geografi menjadi salah satu mata pelajaran yang penting. Mata pelajaran yang kiranya sengaja diperkenalkan sejak SMP. 

Pelajaran Geografi tidak seperti pelajaran lainnya seperti Matematika dan Fisika yang kesannya masuk kategori rumit. Pelajaran Geografi masuk kategori ringan. Meski demikian, pelajaran Geografi berkaitan erat dengan Matematika dan Fisika. Salah satu kaitannya adalah masalah gempa bumi. Cabang ini dipelajari dalam Geografi SMP kalau tidak diubah pada kurikulum yang sekarang. Pertanyaan yang muncul adalah di mana letak gempa. Berapa kekuatan gempa. Sebera jauh getaran gempa.

Untuk pertanyaan seperti ini, Geografi membutuhkan jawaban Matematika dan Fisika. Maka, Geografi memang tidak lepas dari Matematika dan Fisika. Meski, kesannya bukan pelajaran rumit, sebaiknya Geografi jangan dianggap enteng. Geografi sebagai salah satu cabang ilmu tetap relevan dan harus dipelajari dengan baik. Mempelajari Geografi seperti mempelajari kerangka besar dari sebuah benda. Geografi akan menyusuri keliling benda itu hingga mempunyai bentuk geografis. Dengan demikian, mempelajari Geografi Indonesia berarti mempelajari kerangka besar tentang Indonesia. Kerangka tentang kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tahun 2012 yang lalu, saya mengunjungi teman saya yang tinggal di Kepulauan Mentawai. Mentawai masuk provinsi Sumatera Barat. Mentawai dengan beberapa pulau besar dan kecilnya masuk dalam satu kabupaten. Kabupaten Kepulauan Mentawai. Mereka yang mempelajari Geografi akan dengan mudah mengetahui letak dan posisi kepulauan ini. Mudahnya seperti mereka yang dengan cepat menunjukkan posisinya pada peta negara Republik Indonesia. Tapi kalau tidak memahami dengan baik Geografi, akan sulit mencarinya di peta Indonesia. Saya terbantu dengan pelajaran Geografi sejak SMP untuk menemukan letak kepulauan ini. Logikanya, masuk dari wilayah Sumatera Barat. Temukan kota Padang dan sekitarnya. Lalu, masuk ke kepulauannya. Ada Nias dan Kepulauan Mentawai. Di situlah kerumitannya diperkecil. Pada akhirnya, dengan mudah menemukan Kepulauan ini.

Saya berkunjung ke dua dari tiga pulau besarnya. Dengan kapal laut selama 6 jam dari Padang, kami mendarat di Pulau Siberut. Tinggal di sana selama 2 hari. Lalu, dengan kapal lagi, kami ke Pulau Sikabaluan. Di sana tinggal 3 hari, lalu kembali ke Siberut. Satu lagi pulau yang tidak kami kunjungi yakni Pulau Sipora. Ada pulau-pulau kecil lainnya yang tentu tidak saya hafal namanya. Bahkan, masyarakat setempat pun enggan menyebutkan semuanya. Bagi mereka, yang utama adalah ketiga pulau besar ini. Mereka bisa berkeliling ke tiga pulau ini dengan kapal pemerintah.

Di Sikabaluan, saya berincang-bincang dengan anak-anak SMP dan SMA yang tinggal di asrama. Demikian juga dengan anak-anak di Siberut. Sebagai orang ‘asing’ pertanyaan yang muncul pertama adalah, Anda dari mana. Lalu, mengapa Anda ada di sini. Saya menggoda mereka dengan pertanyaan di mana letak NTT? Sebagian besar dari mereka tidak bisa menjawabnya. Berarti, pengetahuan mereka tentang Geografi masih kurang bahkan boleh dibilang minim. Pertanyaan yang sulit ini rupanya bisa dijawab oleh seorang anak SMP. Anak ini rupanya berasal dari keluarga perantau dari luar Mentawai. Merantau rupanya bisa membantu siswa mempelajari Geografi.
Kesulitan mempelajari Geografi seperti ini bukan saja masalah anak-anak SMP dan SMA di Kepulauan Mentawai. Kiranya ini merupakan kesulitan anak-anak di seluruh Indonesia. Indonesia memang-secara Geografi-amat rumit dipelajari. Apalagi dari segi budaya, bahasa, dan sosial-politik. Namun, apa pun tantangannya, orang Indonesia mesti tahu konteks geografis bangsanya sendiri. Dan, ini harus diketahui sejak SMP, saat Geografi diperkenalkan. Malah lebih bagus jika jauh sebelumnya yakni sejak SD.

Anak-anak di Mentawai rupanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak SMA di Makasar. Akhir Mei tahun 2012, saya berpetualang ke Makasar. Saya mampir ke tempat teman yang mengajar di salah satu SMA di Makasar. Di situ, saya bertemu anak-anak SMA. Kami berbagi cerita. Saya membagikan pengalaman saya selama tinggal di Jogja dan Jakarta. Lalu, saya menceritakan pengalaman berkunjung ke Padang dan Mentawai. Reaksi mereka sebelum saya melanjutkan cerita adalah bertanya, di mana letak Kepulauan Mentawai?

Rupanya, pertanyaan Geografi seperti ini ada di mana-mana. Bertanya berarti ingin mencari jawaban. Dan, anak-anak ini sedang mencari jawaban. Jawaban yang sebenarnya sudah mereka temukan dalam buku pelajaran Geografi SMP dan SMA. Namun, mereka masih dalam pencarian juga.

Mempelajari Geografi rupanya rumit terutama Geografi Indonesia. Namun, Geografi Indonesia yang sulit itu rupanya memudahkan orang Indonesia mempelajari peta Geografi dunia. Kesulitan ini memang bukan saja dialami anak-anak Mentawai dan Makasar. Boleh jadi juga menjadi kesulitan anak-anak remaja di seluruh dunia. Anak-anak zaman sekarang memang dengan mudah mencari ilmu di internet. Dengan komputer, laptop, bahkan dengan telepon gengam, mereka dalam sekejab mencari jawaban di google. Namun, Geografi sendiri mesti dipelajari jauh-jauh hari, sejak mereka belum menggunakan telepon genggam, belum menggunakan komputer berjaring internet.

Liburan bulan Juni dan Juli tahun 2014 yang lalu, saya habiskan di beberapa kota kecil di bagian Selatan Italia. Di sana, saya juga bertemu banyak orang muda dan kaum remaja. Kami berbincang-bincang karena baru bertemu pertama kali. Dari perbincangan inilah, saya juga berhadapan dengan pertanyaan Geografi.

Dari mana asal Anda? Dari Indonesia. Indonesia di mana yahhh? Di Afrika, Amerika Latin atau Asia. Sulit menebak. Bahkan, ada yang menebak di Afrika. Ini salah besar. Ada juga yang menebak dari Amerika Latin karena kulit saya yang cokelat ini mirip dengan kulit orang Amerika Latin. Saya coba membantu mereka dengan mengarah pada jawaban yang benar. Filipina di mana yah?? Dengan mudah mereka jawab di Asia. Indonesia dekat dengan Filipina juga dekat dengan Australia. Kalau Australia mereka tahu. Maklum, sebagian besar dari mereka sudah bepergian ke luar negeri termasuk Australia. Di sana rupanya banyak orang Italia.

Baik anak-anak Italia maupun anak-anak Indonesia rupanya tidak mudah mempelajari Geografi. Bisa dimaklumi untuk anak-anak Italia. Sebagian dari mereka, tidak mempelajari Geografi di sekolah secara rinci seperti Geografi yang masuk dalam kurikulum di Indonesia. Meski demikian, anak-anak Italia biasanya mencari sendiri pelajaran ini. Ada yang mempelajarinya karena keluarga mereka sering berlibur ke luar negeri. Mau tak mau, mereka juga dibiasakan untuk belajar Geografi. Paling tidak letak negara dan tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Anak-anak Indonesia juga semestinya lebih hebat dari anak-anak Italia. Mereka punya kesempatan khusus untuk mempelajarinya di sekolah. Terbantu lagi jika mereka juga diberi kesempatan untuk belajar di luar kota dan pulaunya sendiri. Mahasiswa dari Mentawai yang belajar di Malang, misalnya, mempunyai pengetahuan Geografi yang jauh lebih bagus dari mereka yang belajar di Padang. Di Padang boleh jadi mereka hanya mengenal teman-teman sesama Sumatera Barat atau sesama Sumatera. Sementara di Malang, bertemu dengan teman-teman dari seluruh nusantara. Ya, mudahkan belajar Geografi?

Geografi tidaklah sesulit yang dibayangkan. Bisa jauh lebih mudah. Salah satu kuncinya ya, belajar dengan baik sejak SMP dan SMA. Saat itulah pelajaran Geografi menjadi darah daging dalam diri siswa. Geografi bukanlah ilmu yang sekali dipelajari lalu selesai. Geografi adalah ilmu yang terus diperbarui. Kalau ada kabupaten atau provinsi baru, Geografi juga turut berkembang. Geografi amat penting untuk Indonesia dengan kepulauannya yang luas dan besar, dan juga dengan masalah alamnya yang rumit. Geogologi yang bisa mempelajari perkiraan gempa rupanya juga masuk cabang Geografi. Tak mungkin belajar Geologi tanpa tahu Geografi. Jadi, mari kita belajar Geografi dengan baik.

Salam cinta Geografi.

PRM, 2/3/2015
Gordi


Powered by Blogger.