Halloween party ideas 2015

sumber gambar, google
Ada apa ne??? Kok ada jagung bakar? Orang kota dan orang desa sudah mencicipi enaknya jagung bakar. Benar bukan? Orang desa merasakannya ketika memanen jagung muda nan manis. Hasil pertanian sendiri. Di kota pun selalu tersedia jagung bakar muda nan manis. Meski harus merogok kocek untuk memperolehnya, semuanya bisa menikmati manisnya jagung bakar muda. 

Malam tahun baru 2012. Lewat beberapa menit dari akhir tahun 2011. Kami menyalakan api unggun dan munculah bara api besar. Bara itu kami gabungkan dengan bara api hitam yang sudah disiapkan. Bara itu pun bergabung dan mengeluarkan warna merah. Suhunya panas. Woao….ini cocok untuk membakar jagung muda.

Beberapa teman sudah menyediakan sekarung jagung muda. Anggota regu bakar jangung sigap membuka kulit jagung lalu ditusuk dengan tusukan mirip tusuk sate dan memasukkan ke alat panggang jagung. Alat bakar jagung yang dibuat malam ini mirip dengan tempat membakar sate. Ada bagian bawah seperti tungku api, tempat bara api memerah. Bagian atas ada kawat melintang tempat memanggang jagung muda itu.

Sambil menunggu jagung itu, kami yang lain menghibur dengan bergoyang. Iringan musik disko, dangdut, poco-poco diputar seperlunya saja. Kami semua bergoyang mengungkapkan kegembiraan di tahun yang baru. Di awal tahun sebaiknya kami mempunyai harapan yang menjadi pegangan di tahun baru. Ada harapan untuk berhasil dalam studi, harapan untuk mahir dalam satu keahlian khusus, dan sebagainya. Nah…harapan itu hendaknya dijalankan dengan suasana ceria. Makanya, kami bergoyang. Goyang penuh ceria.

Sepuluh menit kemudian, kami mulai mencicipi racikan tangan para regu bakar jagung. Kelompok pertama memberi komentar…woao… uuenaknya jagung ini. Ah..teriakan itu membuat air liur kami yang lain menetes pelan.. Namun kami tetap menunggu dengan sabar. Semuanya mendapat bagian nanti. Kelompok kedua hingga terakhir merasakan muanisnya jagung bakar muda ini. Lembut di gigi, manis di tenggorokan, puas di mulut. Itu kira-kira deskripsi rasa jagung muda bakar. Maaf, saya tak pandai mendeskripsikan rasa. 

@@@@@@

Keceriaan ini membuat saya melihat kembali awal keceriaan ini tadi. Sebelum pergantian tahun, kami berkumpul di kapel. Pastor yang membawakan renungan akhir tahun mengangkat tema tentang Waktu. Dalam waktu, ada Tuhan. Begitu kira-kira inti pembicaraannya. Dalam waktu setahun, kita banyak melakukan kegiatan. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan akhirnya setahun. Apakah kita sibuk dengan kegiatan itu? Apakah kita senang dan bahagia dengan kegiatan itu?

Kembali ke masing-masing pribadi. Ada beragam tanggapan tentunya. Kami mencoba merekam kegiatan kami dalam kronik komunitas. Kronik itulah yang dibacakan menjelang detik-detik pergantian tahun. Pikiran dan ingatan kami seolah-olah diputar kembali ke belakang, sejak 1 januari tahun 2011. Ya…sebentar lagi kami akan merayakan setahunnya peristiwa awal tahun itu.

Kronik itu tercipta dalam waktu. Berapa orang yang merasakan kehadiran sang empunya waktu dalam setahun itu? Tak ada yang tahu. Yang jelas, Dia-lah sang empunya itu, Tuhan. Dalam renungan malam ini, pastor mengatakan Tuhan hadir dalam setiap waktu baik disadari atau tidak. Nah…. Di siniilah letak persoalannya. Ada yang mengingat Tuhan, sang empunya waktu ketika sadar akan kehadiran-Nya. Ada yang yakin TUHAN hadir setiap waktu termasuk ketika ia tidak menyadari kehadiran-Nya. Ada pula yang sama sekali tak pernah peka akan kehadiran-Nya.

Semuanya terjadi dlam waktu. Mereka yang merasakan kehadiran Tuhan sama seperti menikmati jagung bakar muda nan manis malam ini. Ada rasa di mulut, tenggorokan, dan gigi ketika menguyahnya. Mereka yang tidak adalah mereka yang makan jagung bakar ini dengan dorongan nafsu, kelaparan. Makan sepuasnya demi memuaskan nafsu makan. Mereka yang kurang peka adalah mereka yang makan jagung bakar muda nan manis seperti menikmati makanan lainnya. Tak ada kekhasannya. Padahal tidak setiap saat jagung ini dimakan.

Ini bukan renungan atau khobah. Saya bukan pengkhotbah di akhir dan awal tahun. Saya hanya penikmat jagung bakar muda nan manis di awal tahun. Saya ingat momen ini amat istimewa. Momen mesra antara kami dan waktu. Makanya, kami menyanyi lagu KEMESRAAN INI sambil bergandengan tangan menjelang detik-detik pergantian tahun. 

Sepuluh, sembilan, delapan, dan seterusnya hingga teriakan SELAMAT TAHUN BARU muncul. Kami berhasil melewatkan tahun 2011 dan kini memasuki wilayah (tahun) 2012. Tak ada kata lain selain kata terindah…Selamat Tahun Baru sambil berjabatan tangan kepada teman-teman di awal tahun ini.

CPR, 3/1/2012
Gordi Afri


Sumber gambar di sini
Masih ingat dalam benak kita, sejak masa adven kemarin hingga perayaan Natal, kisah kelahiran Yesus Kristus. Dalam Injil diceritakan bahwa peristiwa itu dimulai ketika malaikat Gabriel bertemu gadis Galilea, Maria. Maria kelak akan menjadi Ibu Yesus. Malaikat itu membawa kabar yang mengejutkan, “Salam hai engkau yang terberkati, engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki….” Demikian kutipan teks ucapan malaikat Gabriel.
Jika kita perhatikan, malaikat Gabriel di sini berperan sebagai perantara Allah dan manusia. Dalam beberapa tradisi dan keyakinan, definisi ini diakui. Perantara di sini erat kaitan dengan pembawa kabar. Lewat malaikatlah Allah menyampaikan pesan kepada manusia.
Tentang malaikat, ada banyak pertanyaan tentang identitasnya. Kalau dia perantara, seperti apakah wujudnya? Dia bukan Allah dan bukan manusia. Lalu? Malaikat memang tidak masuk dalam kategori keduanya. Boleh dibilang malaikat itu unik. Keunikannya tampak dalam perannya. Sebagai pembawa kabar dari Allah, ia tentu berhubungan dengan Allah. Ia berkomunikasi dengan Allah. Kemudian, ketika bertemu manusia, ia berkomunikasi dengan bahasa manusia. Sampai di sini, kita bisa mengerti bahwa malaikat mengerti dua bahasa sekaligus, bahasa manusia dan bahasa Allah.
Lalu seperti apakah malaikat itu? Untuk memahaminya mesti perlu sumber bacaan banyak. Saya sendiri hanya membayangkan malaikat seperti interprestasi atas tulisan dalam Kitab Suci. Selain itu, buku Jostein Gaarder, bisa membantu kita memahami malaikat. Buku itu memang bukan buku ilmiah. Saya kira malaikat di luar kategori ilmu pengetahuan yang menekankan metode ilmiah. Oleh karena itu, seperti Jostein Gaarder, kita hanya membayangkan jasa, tanpa tahu dengan jelas seperti apakah malaikat itu.
Dalam buku ini, dipaparkan dialog manusia, Cecilia, dan malaikat Ariel. Dialog mereka seperti dialog antar-manusia. Bedanya, dialog itu terjadi pada malam hari, saat manusia tertidur. Dikisahkan bahwa, Cecilia sedang sakit. Dia selalu pamit kepada keluarganya untuk tidur. Keluarganya merelakan dia tidur. Saat itulah malaikat datang melalui celah-celah kecil di jendela, dan bertemu lalu berdialog dengan Cecilia.
Setahu saya, dalam buku ini dialog itu tidak pernah terjadi siang hari. Ketika mentari hampir naik, mereka berpisah. Dalam perbincangan itu, malaikat dan Cecilia membicarakan banyak hal termasuk alam raya ini. Juga membicarakan perbedaan manusia dan malaikat. Kalau manusia terdiri atas daging, malaikat tidak. Itulah sebabnya malaikat tidak mengenal tua-muda dalam hal fisik.
Ada perbedaan cara berpikir manusia dan malaikat. Manusia bisa lupa akan sesuatu sehingga membutuhkan waktu dan usaha untuk mengingatnya. Tidak demikian dengan malaikat yang meski lupa akan sesuatu, sesuatu itu akan datang dengan sendirinya. “Tapi, cara kami berpikir memang tak sama dengan manusia. Kami tak perlu ‘menimbang-nimbang’ untuk menemukan jawaban. Semua yang kami tahu dan semua yang bisa kami tahu, tampak di hadapan kesadaran kami secara serentak. Tuhan mengizinkan kami memahami sekeping amat kecil dari rahasia akbar-Nya, tetapi tidak semuanya. Jadi, kami harus diam tentang segala sesuatu yang tidak kami pahami.” (hlm. 137) Pengetahuan manusa bisa bertambah dan berkurang, sedangkan pengetahuan malaikat tetap saja.
  Jostein Gaarder, penulis Dunia Sophi dan beberapa buku  lainnya,  berhasil membuat dialog yang menarik untuk dibaca.  Dialog yang tidak sekadar dialog tetapi mempunyai pesan agar pembaca bisa memahmi perihal malaikat. Sebagai novel, buku ini bisa mengembangkan imajinasi pembaca. Sedangkan sebagai buku bacaan lain, buku ini bisa menambah wawasan untuk memahami malaikat. Meskipun pada akhirnya, kita manusia tidak memahami malaikat secara keseluruhan.  Yang jelas, malaikat berjasa untuk manusia yakni menyampaikan pesan Allah.
CPR, 30/12/2011
Gordi Afri
 Penulis: Jostein Gaarder
Judul: Cecilia & Malaikat Ariel, Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi,  
Penerbit: Mizan, Bandung
Tahun terbit: 2008.

Powered by Blogger.