Halloween party ideas 2015

Ada berita Jakarta terancam kekurangan air bersih. Muncul pertanyaan benarkah itu? Apa jadinya jika Jakarta kekuarngan air bersih? Ibu kota negara kok kekurangan air bersih?

Pertanyaan akan bertambah jika mau sekadar bertanya mencari penyebabnya. Saya kira para ahli sudah tahu akan hal ini. Semua orang juga tahu, Jakarta kekurangan air bersih. Jumlah penduduk saja membludak otomatis kebutuhan air bersih meningkat.

Yang tidak jelas adalah penyelesaiannya. Belum ada isu menarik dan aktual untuk mengatasi hal ini. Ada wacana pemurnian air Ciliwung. Kelak, air itu bisa diminum setelah disaring dan dimurnikan. Air yang jijik jika dilihat itu akan menjadi air yang menghidupi warga Jakarta.

Tetapi apa gerangan, wacana itu tinggal wacana. Buktinya, isu kekuarangan air mencuat lagi. Kalau toh ada yang ahli mengurai air itu, mengapa tidak segera dilakukan? Atau masihkah berkutat dengan birokrasi yang berbelit?

Warga membutuhkan air bersih. Itu persoalan utama. Maka, sebaiknya itu yang menjadi target untuk dicapai. Bagaimana saja caranya air bersih harus sampai di rumah warga. Kalau tidak, apa pun wacannya, warga sudah bosan mendengar wacana besar-kecil tentang pengadaan air bersih.

Saya bayangkan nanti huru-haranya warga Jakarta merebut air bersih. Air dari sekitar Jakarta pun akan ditarik. Ditarik dalam arti, dijual ke Jakarta. Pengeluaran warga pun bertambah. Ini aspek sosial dan ekonominya.

Selain itu, apa jadinya penilaian warga dunia terhadap kota Jakarta? Ibu kota negara Indonesia kekurangan air bersih. Padahal Indonesia juga terkenal dengan hutan tropisnya. Mereka akan bertanya, kalau begitu kemana hutan di Indonesia?

Mereka memang tidak tahu, kalau Indonesia itu negara kepulauan. Hutan yang tersisa sedikit hanya ada di Pulau Sumatera, Jawa, dan Irian, sedangkan di Jawa, ada kekurangan air bersih. Jadi, menurut kita, tidak ada hubungannya hutan dengan kurang air.

Tetapi, warga luar menilai ini ironis. Antara hutan dan kekurangan air. Citra mereka akan Indonesia mengarah pada negatif. Kalau ibu kotanya saja—di mana ada kantor kerja presiden dan pemimpin tinggi negara lainnya—kekurangan air, apa lagi daerah lainnya. Citra ini akan memengaruhi sektor pariwisata. Mereka enggan datang ke Indonesia.

Dari semua yang dibahas ini, intinya adalah segeralah mengatasi persoalan air di Jakarta. Warga tahu, masalah ini tidak mudah ditangani. Tetapi jika ada komitmen, masalah sebesar apa pun bisa diatasi. Warga pun setuju, apa saja yang diperintahkan pemimpinnya, asal itu demi kebaikan warga, mereka akan ikut. Asal komitmen pemimpin mesti ada lebih dulu.

Saya kira Jokowi-Ahok beserta para pemimpin pemerintah lainnya di Jakarta akan mengatasi hal ini.

PA, 18/3/13

Gordi

Post a Comment

Powered by Blogger.