Halloween party ideas 2015

Aku ini perempuan terjerat. Memang aku terjerat dalam kamar berukuran 3x4 meter. Aku tak tahu bagian luarnya kamar ini. Aku hanya tahu bagian dalam. Selain perabot untuk tidur, juga ada kamar mandi. Setiap hari aku ada di sini. Pekerjaanku hanya memerhatikan yang ada di kamar ini. Karena seringnya dan lamanya aku berada di kamar ini, aku ingat semua yang ada di sini. Dari langit-langit kamar, dinding, lantai, hingga kaca jendela.

Tentang kaca jendela ini, aku punya cerita menarik. Melalui kaca ini aku melihat dunia luar. Ya hanya beberapa saja yang terlihat. Langit-langit dan bercak gerimis air hujan. Aku tak melihat hijaunya daun. Aku hanya melihat dua warna langit, biru dan putih. Jika cerah akan keluar biru, dan jika mendung, akan ada putih atau abu-abu atau hitam. Hanya itu yang ada di jendela ini. Satu-satunya penghibur bagiku adalah melihat jendela ini. Jendela yang kadang-kadang ditutup kain gorden.

Kain gorden ini hanya sebentar saja berfungsi. Jika ada teman yang masuk, aku biasanya berpasrah total. Temanku biasanya menutup gorden ini. Kaca tak terlihat apalagi langit biru dambaanku. Aku diam dan menerima perlakuan temanku dalam ruang mungil ini. Aku tak bisa memberontak terutaam jika merasa sakit. Aku hanya bisa melayani dia. Aku tak ingat siapa-siapa temanku ayng datang ‘menjengukku’ di sini. Setiap hari bergantian. Aku hanya ingat sahabat yang selalu menjenguk dan membawakan makanan untukku.

Dia ini sangat sopan. Dia memberiku makanan tiga kali sehari. Dia juga kadang-kadang menungguiku saat makan. Saat itulah dia bercerita tentang kehidupannya. Dia juga membagikan informasi seputar kehidupan sosial, ekonomi, dan politik negeri ini. Darinya, aku peroleh informasi. Aku tak punya alat komunikasi. Hp tidak punya. TV, radio, pemutar musik tidak ada. Betapa aku terhibur jika ia menungguiku menyelesaikan makan. Aku melahap makanan yang ia bawa sambil memerhatikan dengan saksama mimik mukanya saat bercerita. Selain dia, praktis, tak ada teman yang aku ingat.

Aku ingin sekali bebas dari jerat ini. Betapa hidupku merana, sakit fisik, sakit hati, sakit jiwa, tinggal di kamar ini. Aku terdampar di kamar ini secara tiba-tiba. Aku diantar dua pemuda dan memberi kunci. Mereka memasukkan aku di kamar ini kemudian berpesan, tinggal di sini selamanya. Aku mulai gugup dengan kata-kata selamanya ini. Betapa sedih aku membayangkan, selamanya aku hidup hanya di kamar menyeramkan ini. Hidup tak akan bahagia jika dijalani dalam kamar seperti ini. Bukankah paru-paruku juga ingin menghirup udara lain selain yang ada dalam kamar ini?

Aku ingin menghirup udara di kampungku. Aku ingat aku bernagkat dari kampungku atas bujukan sahabatku. Dia mengimpikan kehidupan yang mewah. Ia ingin agar aku menikmati kemewahan itu. Ia memberi sejumlah uang pada orangtuaku. Orangtuaku mengizinkan aku pergi. Aku pergi bersamanya. Aku ditempatkan di kamar besar bersama puluhan wanita seusiaku. Aku tak nyaman tinggal bersama di ruang ini. Aku mendambakan kebebasan. Dan, satu per satu, jika tiba gilirannya, satu di antara kami akan menikmati kebeasan di luar ruang besar ini.

Aku pun senang ketika tiba giliranku. Aku mendambakan aku akan hidup tenang tanpa tekanan. Aku merasakan yang lain sekarang. Rupanya aku hidup lebih susah ketimbang hidup di ruang besar itu. Aku ditempatkan di ruang kecil nan menyeramkan ini. Aku pun menjadi wanita tak berdaya. Menerima perlakuan tamu lelaki yang merenggut kebebasanku. Aku menderita. Aku berontak tetatpi tidak ada jalan lain untuk keluar.

Aku ingin keluar dari kamar jerat ini. Aku ingin kesempatan itu akan datang segera. Sungguh aku ingin menghirup kebebasan. Aku bertanya-tanya, mengapa aku ditempatkan di kamar derita ini? Betapa aku ini sengsara, dijerat, bak anak ayam di depan mulut singa, siap diterkam. Setiap hari aku siap diperlakukan semaunya saja oleh temanku yang datang mengunjungi aku. Aku ingat bosku memaksaku meanggil dan menganggap semua yang datang sebagai teman. Aku tahu, sesungguhnya sebutan itu tak pantas.

Mereka itu sesungguhnya bukan teman tetapi lelaki hidung belang. Lelaki yang mencari kepuasan seksual. Entah berapa biaya yang mereka berikan pada bosku. Aku tak pernah tahu jumlahnya. Aku pun tak pernah menerima sejumlah kecil pun. Uang tak berarti lagi bagiku. Yang berarti bagiku adalah pembebasan. Aku ingin bebas segera. Tuhan, cukup sudah penderitaan ini. Aku lelah menghadapi semua ini.

*jeritan perempuan dalam kurungan kamar derita

PA, 8/6/13
Gordi



Post a Comment

Powered by Blogger.