Halloween party ideas 2015

Baru saja tiba dari Jakarta. Yogyakarta sedang terlelap saat saya tiba. Maklum masih pukul 4.30 pagi. Suasana di sekitar terminal Jombor, Sleman, masih sepi. Yang ada hanya tukang ojek, sopir taksi, dan sopir bis yang membawa penumpang dari Jakarta.

Perjalanan selama 12 jam dari Jakarta tak terasa. Saya hanya ingat pukul 16.30, kami keluar dari terminal Rawamangun. Saya masih bisa menikmati pemandangan di sekitar jalan tol sampai ujungnya di daerah Bekasi. Setelah itu, saya tertidur. Tidak ingat lagi suasananya.

Saya sadar lagi pas makan malam di daerah Pamanukan. Waktu menunjukkan pukul 19.35. Kami keluar dari bis dan menuju warung makan. Saat itu juga saya sempat buang air kecil. Biar aman tidur dalam bis. Daripada berdiri-duduk ke kamar kecil di bis. Kami memberikan kupon makan yang disertakan dalam tiket, lalu mengambil makanan.

Tak lama di sini. Ya namanya makan dalam perjalanan, tak perlu berlama-lama. Begitu selesai, langsung kembali ke bis. Dan, kru bis juga melihat, kalau sudah masuk semua, bis jalan lagi. Di sini memang bukan makan untuk kenyang atau makan untuk bersantai. Makanannya sedikit atau pas untuk menu jalanan. Variasi lauknya juga sedikit. Meski demikian penumpang tidak punya pilihan lain kalau mau gratis. Kalau mau keluarkan duit tambahan dari uang saku dan membeli menu yang lain boleh juga.

Saya mengambil menu yang disediakan. Jadi, tak perlu biaya tambahan. Kalau penumpang lain mengambil yang itu ya berarti menu ini memang cocok juga untuk saya. itulah sebabnya saya tidak mengambil yang lain.

Setelah semua penumpang dalam bis, kami berangkat lagi. Saya masih terjaga selama lebih kurang 1,5 jam setelah makan. Masih bisa melihat kendaraan lain di samping kiri-kanan kendaraan kami. Ada sesama bis penumpang, ada mobil barang, ada truk barang, truk alat berat, dan sebagainya.

Malam makin larut dan saya pun tertidur. Tak terasa lagi, posisi kami sekarang. Saya hanya ingat suasana dalam bis. Suhu makin dingin. Para penumpang mengenakan selimut. Tidak banyak yang bersuara. TV dalam bis yang dari tadi menyala kini dimatikan.

Hanya ada suara seorang anak balita yang merengek. Dia meminta bapaknya tidak duduk di kursi. Sehingga dia bisa tidur. Tentu tidak bisa. Akhirnya sang bapak mengalah, dia hanya memakai sebagian kecil dari kursi itu untuk menyangga pantat. Selebihnya digunakan sang anak.

Menjadi bapak atau ibu memang harus bisa berkorban. Terutama demi anggota keluarga. Ini yang sering tidak mudah. Ada juga orang tua yang menghindari pengorbanan seperti ini. Lantas, saat bepergian, mereka meninggalkan anak yang seharusnya tidak boleh ditinggalkan. Mereka lebih asyik sendiri tanpa direpotkan sang anak. Anak dibiarkan diasuh sang baby sitter. Padahal sang anak semestinta merasakan kasih sayang, ciuman, pelukan, dan kehangatan dari orang tuanya.

Saya merasa kami semua tertidur karena saya tidak mengingat lagi, tak merasakan lagi, tak emndengar lagi. Semuanya mati total. Kami tertidur tetapi masih ada yang tidak tidur. Pak sopir tidak tidur. Dialah satu-satunya manusia yang menjaga kami, membiarkan kami terlelap dalam bis ini. Saya yakin selain dia, ada juga Tuhan yang menyertai perjalanan kami. Entah bagaimana peran Tuhan dalam perjalanan ini. Tidak bisa dibuktikan secara indrawi. Tetapi saya yakin Dia hadir dan membantu sopir mengarahkan perjalanan kami.

Ini keyakinan saya. Tuhan tidak tidur. Tentu dengan gampang orang yang tidak meyakini Tuhan mengatakan bukan Tuhan yang mengarahkan sopir dalam perjalanan ini. Boleh-boleh saja. Toh sopir juga sudah terbiasa, terlatih, untuk membawa penumpang sampai tujuan. Tanpa Tuhan pun sopir bisa mengendalikan bis ini.

Lalu mengapa saya tetap yakin Tuhan tidak tidur? Karena saya yakin bahwa Tuhan menyertai kami dalam perjalanan ini. Keyakinan ini yang menguatkan saya untuk membiarkan sang sopir bekerja tanpa kami tahu. Kami tertidur tetapi dia tidak tidur. Kalau dia tidur tentu bis tidak jalan. Tetapi, menurut saya, sopir tidak sendiri. Ada Tuhan yang menemani dia. Saya pun percaya diri untuk tidur, tidak berjaga, seperti sopir. Saya memilih untuk tidur karena Tuhan menyertai kami. Saya yakin selamat sampai tujuan.

Dan, pukul 4.30, kami tiba di terminal Jombor, Sleman, Yogyakarta. Di sinilah saya sadar lagi. Setelah keluar dari bis, saya tunduk sebentar mengucapkan terima kasih pada Dia yang menyertai kami dalam perjalanan ini. Setelah menunggu sekitar 10 menit, datang tukang ojek dan menawarkan diri mengantar saya. setelah harga disepakati kami keluar dari terminal dan menuju rumah saya. terima kasih Tuhan untuk lindungan-Mu.

PA, 21/5/2013
Gordi


Post a Comment

Powered by Blogger.