Halloween party ideas 2015



Para pembaca sekalian, saya mohon maaf bila saya tidak menulis setiap hari di blog ini. Sejak awal memang saya punya tekad, menulis 4 tulisan setiap bulan di blog ini. Itu berarti satu tulisan setiap minggu. Tekad itu dibuat sejak blog ini dibuat pada 2 tahun silam.

Kini setelah 2 tahun ternyata saya bisa menulis setiap hari. Itu saya lakukan di blog saya yang lain yakni di kompasiana. Maklum sekarang saya tidak kuliah lagi. Beda dengan 2 tahun silam, saya masih sibuk dengan kuliah sehingga hanya bisa menulis satu tulisan setiap minggu.

Kini blog kompasiana itu macet. Saya hampir pusing membukanya. Oleh karena itu saya berhentikan saja untuk sementara menulis di blog itu. Semoga dengan itu, saya bisa menulis setiap hari di blogspot ini. tentu agar saya semangat menulis, pembaca juga mesti memberi komentar dan atau mengunjungi blog saya ini sesering mungkin.

Di kompasiana saya menulis setiap hari karena ada pembacanya. Semoga di sini ada juga pembaca yang berkunjung setiap hari. Mari kita tularkan dunia menulis kepada banyak orang. Mari kita ramaikan dunia maya dengan kegiatan menulis yang bermanfaat bagi banyak orang.

PA, 15/10/2012
Gordi Afri

gambar dari google

Bulan Oktober sangat istimewa dalam kalender Liturgi orang Katolik. Mengapa demikian? Bulan Oktober dikenal sebagai bulan rosario. Bulan di mana orang Katolik mengadakan doa rosario setiap malam. Coba bandingkan dengan bulan Mei yang dikenal sebagai bulan Maria. Pada saat itu juga orang Katolik berdoa rosario. Hanya saja konteksnya berbeda.

Doa rosario menjadi tradisi dalam Gereja Katoilik. Doa ini mulai dikenal pada abad 12 dan berkembang pada abad 15. Adalah Santo dominikus yang berjasa mengembangkan doa ini melalui khotbahnya. Dominikus hidup pada abad 13 (1221).

Ada pula kisah yang menceritakan bahwa doa ini bermula dari pengucapan 50 kali Salam Maria. Pada waktu itu di sebuah biara, ada anggota biara yang tidak mahir membaca Kitab Mazmur dalam bahasa Latin. Pada saat doa mereka mendaraskan doa Salam Maria.

Demikian cerita yang beredar. Entah itu sungguhan atau ada yang dipoles oleh sejarawan, tidak menjadi soal bagi kita. Kita hanya menjalankan tradisi yang menjadi sebuah kekayaan. Lebih dari menjalankan—yang bisa juga jatuh dalam rutinitas—doa ini sangat berguna bagi umat Katolik. Doa ini praktis dibuat. Bisa dilakukan di mana saja. Di jalan, di bis, pesawat, kapal laut, ruangan kelas, dan sebagainya.

Umat Katolik boleh bersyukur atas tradisi ini. di bulan Oktober ini kita diajak untuk kembali menyediakan waktu setiap hari untuk berkumpul dan mendaraskan doa Salam Maria. Di beberapa daerah umat Katolik berkumpul pada malam hari. Mereka mengadakan doa rosario bersama.

Ini juga yang saya alami waktu kecil dulu. Kini, saya dan teman-teman di komunitas mengadakan doa rosario sebanyak 3 kali dalam seminggu. Bukan berarti kami malas. Kami mempunyai doa lain pada malam-malam yang lain. Tetapi kami memberi porsi yang besar untuk berdoa rosario pada bulan ini dibandingkan pada bulan lainnya. Biasanya kami berdoa rosario bersama minimal 2 kali seminggu.

Doa rosario bisa dibuat secara pribadi. Maka, tak ada salahnya kita menjadikan doa ini sebagai salah satu doa yang melekat dalam diri kita. Dengan doa ini kita merenungkan peristiwa, lahir, hidup, karya, wafat, dan bangkitnya Tuhan kita Yesus Kristus. Saya secara pribadi mendaraskan doa ini kapan saja.

PA, 14/10/2012
Gordi Afri




foto oleh hanifahonlineshop
Kain batik menjadi tren di Indonesia akhir-akhir ini. Sejak pemerintah Malaysia berencana mengklaim hak cipta batik beberapa tahun lalu, Indonesia gencar mempromosikan batik. Baik untuk masyarakat lokal maupun internasional. Bahkan di Jakarta hari Jumat dijadikan sebagai hari batik. Hari di mana semua masyarakat diwajibkan untuk memakai batik. Mulai dari pekerja kantoran hingga sopir dan kenek bus trans-jakarta.

Batik di Indonesia berasal dari beberapa daerah seperti Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan. Tiga daerah ini menjadi kota terkenal sebagai kota perajin batik di Indonesia. Nah, bagaimana membedakan batik Solo, Yogya, dan Pekalongan?

Saya sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Bagi saya batik ya batik. Entah dari Yogya, Solo, atau pun Pekalongan. Tak bisa membedakan asal-usul batik dari segi motifnya. Wong saya jarang memakai batik juga. Waktu kecil saya hanya melihat batik yang dijadikan kain untuk menggendong adik-adik saya. Selain itu ada juga kain atau baju batik yang dipakai bapak saya. Bapak saya hobi mengoleksi dan memburu batik bagus. Saya ingat persis, dia hobi membeli baju batik Solo. Dia memang pecinta batik. Cinta produk lokal gitu lhooo.

Tadi siang saya bertemu dengan seorang sahabat yang adalah pengrajin batik. Saya bertanya kepadanya perihal membedakan batik dari ketiga daerah penghasil batik ini. Dia memang pengrajin batik sehingga tahu membedakan motif dari berbagai jenis batik.

Pembedaan pertama yang dia jelaskan adalah soal model batik. Batik Solo dan Pekalongan biasanya dibuat dengan cara cap. Setelah menggambar motif, motif itu dibuat dalam bentuk semacam stempel. Stempel itu lah yang ditancapkan pada kain batik. Dengan ini proses pembuatannya cepat.

Dia juga menunjukkan cara untuk membedakan batik hasil cap dan hasil bukan cap. Bagian pinggirnya terlihat jelas. Ada pembatas yang memisahkan bagian satu dengan lainnya. Beda dengan batik tulis yang bagian pinggirnya rapi.

Batik Yogya dikenal sebagai batik tulis. Batik Yogya dihasilkan dengan menggambar langsung di kain batik. Motifnya asli. Bukan hasil cap. Bagian pinggirnya rapi.

Jangan heran kalau proses pembuatan batik Yogya cukup lama. Harganya juga agak mahal dibanding batik Solo dan Pekalongan. Batik Yogya dijual di tempat-tempat tertentu saja karena harganya mahal. Beda dengan batik Solo dan Pekalongan yang bisa ditemukan di mana-mana.

Pembedaan berikutnya adalah soal motif. Batik Yogya memiliki motif khas seperti gambar manusia atau hewan, burung, dan sebagainya. Batik Pekalongan mempunyai motif pesisir. Ada gambar laut, nelayan, dan sebagainya. Batik Solo hampir berdekatan dengan motif batik Yogya. Ada gambar wayang.

Demikianlah hasil perbincangan yang saya tangkap dari sahabat saya ini. Terima kasih untuk ceritanya. Saya dapat pengetahuan baru. Kalau tidak, saya tidak bisa membedakan batik dari ketiga daerah ini.

PA, 26/9/2012
Gordi Afri
Powered by Blogger.