Halloween party ideas 2015


Kamis, 25 Oktober 2012. Hari bersejarah bagi saya. Tentu ada peristiwa penting hari ini.

Saya mengendarai mobil sejauh lebih kurang 100 kilo meter. Jarak yang cukup jauh bagi saya. Selama ini saya membawa mobil. Hanya saja tidak sejauh itu. Paling-paling ruang lingkupnya hanya dalam kota Yogyakarta saja. Hari ini betul-betul cukup jauh.

Bagi mereka yang memiliki mobil dan bisa menyetir sendiri, jarak ini belum apa-apa. Saya pernah mendengar cerita seorang bapak yang mengendarai mobil pribadinya dari Jakarta ke Medan, Sumatera Utara. Bayangkan berapa jauhnya? Atau juga dari Jakarta ke Surabaya yang jaraknya lebih kurang 793 kilo meter?

Ini jarak yang cukup jauh. Dan, saya kira wajar. Sebab, mereka memiliki mobil sendiri dan sudah mahir menjadi sopir. Bandingkan saya yang baru saja menjadi sopir. Di satu sisi jarak ini cukup jauh. Namun dengan jarak ini, saya dilatih untuk menempuh jarak jauh dan ini membanggakan bagi saya. Apalagi perjalanan kemarin lancar dan kami tiba dengan selamat.
Bagaimana pun perjalanan hari ini cukup menyenangkan bagi saya. Dari kota Yogyakarta ke Muntilan lalu ke arah Sendangsono. Kemudian kembali lagi ke Magelang dan menuju Candi Borobudur.

Rute menantang saya alami dalam perjalanan ke Sendang Sono. Ada satu tanjakan yang cukup curam. Saya nekat naik dengan gigi satu kemudian mau ofer ke dua. Mobil bisa naik. Hanya saja di tengah tanjakan ada truk macet sehingga kami harus mundur. Dari bawah saya naik lagi dengan gigi satu. Tanjakan pun bisa dilewati. Saya tahu sekarang di tanjakan itu pasang gigi satu. Mobil bisa naik dengan baik, kuat, tanpa merasa tidak bisa terdorong lagi untuk maju.

Ini perjalanan menangtang. Menantang rute tanjakan dan turunan serta rute yang jauh. Kiranya besok ada yang lebih jauh lagi, saya sudah berani dan penuh percaya diri. Terima kasih Tuhan untuk perjalanan kami hari ini.

PA, 26/10/2012
Gordi Afri

BELAJARLAH UNTUK MAKIN BANYAK MEMBERI

FOTO

Film Laskar Pelangi. Film yang menarik banyak penonton di dalam dan luar negeri. Malam ini saya menonton film ini untuk kedua kalinya. Gak ada maksud apa-apa selain ingin menonton saja. Kebetulan ada kasetnya.

Ternyata ada inspirasi yag menarik di dalam film ini. Salah satu kalimat yang menjadi inspirasi di situ adalah belajarlah untuk makin banyak memberi dan bukan makin banyak menerima.

Memberi di sini maksudnya bukan memberi uang. Boleh jadi memberi non-materi seperti bantuan dan perhatian. Kalimat ini ditujukan untuk anak-anak sekolah yang mempunyai masa depan.

Pesan ini kiranya perlu didengungkan kembali untuk semua rakyat negeri ini. sudahkah kita mempunyai semangat memberi? Apa saja yang sudah kita berikan untuk negeri tercinta ini? apa yang sudah kita lakukan untuk negeri tercinta Indonesia ini?

Jangan-jangan kita hanya menagih janji dari pemerintah. Jangan-jangan kita hanya mengeruk dan mengambil hasil tambang negeri ini.jangan-jangan kita hanya menunggu raskin dari pemerintah. Jangan-jangan kita hanya menunggu cairan dana bantuan dari pemerintah.

Kalau demikian, kapan kita memberi? Bagaimana mau memberi kalau kita hanya menunggu? Kapan memberi kalau kita hanya berusaha?

Mulai skearang cobalah berusaha. Ingat pesan dalam film ini…belajarlah atau berlatihlah untuk makin banyak memberi dan bukan makin banyak menerima. Dengan usaha yang kecil, kita akan berkembang. Bisnis bertambah dan kalau bisa berilah sebagiannya untuk mereka yang memerlukan. Kita memberi dari hasil usaha. Usaha menjadi jati diri kita.

Penangkapan tersangka koruptor di negeri kita menjadi rambu bahwa negeri kita sedang dilanda demam menerima. Menerima apa saja termasuk sogokan dari teman. Menerima berarti hanya pasif saja. Beda dengan memberi yang di dalamnya ada keaktifan.

Memberi berarti ada usaha. Dari usaha kita memberi. Keaktifan lebih dulu muncul. Beda dengan menerima yang pasif saja menunggu. Memberi perhatian juga merupakan kegiatan yang aktif.

Pesan dari film ini mesti didengarkan oleh tersangka koruptor dan juga semua rakyat negeri ini. jika semua rakyat aktif berusaha yakinlah negeri ini jaya karena rakyatnya. Pemerintah boleh saja kurang greget tetapi rakyatnya mesti pekerja keras. Ke depan, negara kita akan kaya.

Tidak sia-sia saya menonton film ini tadi. Dikira tak ada manfaatnya lagi padahal masih ada. Dikira saya bosan menonton kedua kalinya padahal tidak. Dikira hanya iseng-iseng belakapadahal tidak.

Terima kasih laskar pelangi. Semoga kami bisa menjadi laskar negara ini.

----------------------


PA, 7/10/2012

Gordi Afri

FOTO 

Mana yang kamu pilih mau jujur tetapi siap dimarahi ATAU mau menipu biar tidak dimarahi?

Keduanya punya risiko. Kalau saya pilih yang pertama. Saya mau jujur dan siap menerima marah. Kalau saya tidak jujur saya tidak jantan. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Berani berbuat berani menanggung kesalahan. Kamu tidak akan jadi kamu yang sesungguhnya jika kamu terselimut dalam suasana aman-aman tetapi dengan daya tipu muslihat. Kamu tidak akan menjadi dirimu sendiri jika kamu berubah-ubah sesuai kebutuhan sesaat, sesuai keinginan untuk tinggal dalam zona nyaman.

Kalau saya menipu semuanya akan tampak beres-beres saja. Tampak tidak ada kesalahan. Tidak ada yang marah. Tetapi dalam hati ada pemberontakan. Apalagi kalau suatu saat baunya tercium. Hancur hatiku. Saya akan dicap sebagai penipu. Saya juga menguras energi untuk menyimpan rahasia. Saya selalu memikirkan kapan rahasia ini terkuak. Saya juga menanggung beban berat jika ketahuan.

Jadi lebih baik hidup jujur daripada menipu.

———————–

Obrolan malam, hasil bincang-bincang dengan seorang teman


PA, 4/10/2012

Gordi Afri


Powered by Blogger.