Halloween party ideas 2015

foto dari mycamerajournal.wordpress.com

Gambar kamu gak ada yah....

Demikian komentar seorang teman saat melihat album foto di facebook saya. Di situ ada puluhan foto. Foto-foto itu saya potret. Hasil potret itulah yang saya jadikan beberapa album. Di salah satu album sama sekali tidak ada gambar/foto saya. Benar saja pertanyaan teman saya ini. Rupanya dia jeli sekali memeriksa gambar itu satu per satu. 

Memang beginilah situasinya jika menjadi fotografer. Dulu di Jakarta saya mengagumi fotografer karena karya mereka. Sekarang saya menajdi fotografer amatir. Kini saya tahu satu hal unik sang fotografer adalah kurangnya publikasi gambar dirinya. Wong dia yang ambil foto?

Lihat saja fotografer-jurnalis. Jarang muncul gambar muka mereka di koran. Tetapi karya mereka selalu emngagumi pembaca.

Fotografer itu mirip Yohanes Pembaptis. Dia ini membiarkan Yesus semakin besar dan dia semakin kecil. Fotografer membiarkan karya mereka muncul dan menjauhkan potret diri mereka. Foto karya mereka dikagumi orang padahal dirinya belum tentu kagum pada fotografer. Tetapi yahhh beginilah prinsip kerja sang fotografer.

PA, 1/11/12
Gordi Afri



Buku Perang Eropa. Tiga jilid. Sering diceritakan teman saya. Dia menggebu-gebu menjelaskan tentang perang. Katanya buku ini menarik. Saya tak langsung percaya. Diceritakan terus menerus. Seperti apakah buku itu? Jadi penasaran. 

Dia berkata lagi. Saya dulu berburu buku ini sampai ke rumah seorang guru. Kebetulan baru masuk di perpustakaan sekolah. Dia mencarinya. Gurunya juga mencari. Dua orang hobi membaca saling mencari. Guru lebih dulu meminjam. Teman saya berburu sampai ke rumahnya demi mendapatkan bukunya. Dia berhasil dan akhirnya membaca buku-buku itu.

Liburan semester ganjil tahun 2011 yang lalu, saya memimnjam buku ini diperpustakaan. Saya pun membaca buku jilid pertama. Dalam tempo 1 minggu saya membacanya. Memang menarik karena bahasanya sederhana. Mudah dimengerti. Maklum ditulis oleh seorang wartawan terkemuka di negeri ini.

Saya pun mau membaca buku lanjutannya. Tetapi, tidak ada waktu lagi. Saya pun tamat kuliah dan tidak ada lagi buku itu.

Untung saja saya dipindahkan di kota Yogyakarta. Saya memburu buku itu. Saya bukan mahasiswa lagi tetapi saya punya teman mahasiswa. Saya meminta dia meminjam buku itu.

Beruntunglah dia adalah seorang yang baik hati. Dia mencari buku itu di perpustakaan kampusnya lalu meminjamkan kepada saya.

Makanya saya sudah membaca jilid dua dari buku ini dalam tempo satu minggu juga (16-23 Oktober 2012).

Saya sekarang sedang membaca buku jilid ketiganya. Selanjutnya, saya akan membaca buku Perang Pasifik  yang juga merupakan satu serial  perang dari penulis yang sama.

Terima kasih ya teman atas kebaikanmu. Tanpamu saya tidak bisa melanutkan ipian saya membaca ketiga buku ini.

PA, 27/10/2012
Gordi Afri


Saya baru saja membaca buku Perang Eropa Jilid II Karangan PK Ojong. Ini bacaan lanjutan dari buku pertama, Perang Eropa J I. 

Saya tertarik dengan salah satu kisah prajurit di dalamnya. Di situ diceritakan bahwa para prajurit disuruh menulis surat kepada keluarga, istri dan anak-anak atau orang tua. Surat itu adalah surat wasiat. Ini dibuat menjelang berangkat perang. Jadi, semacam pemberitahuan terakhir untuk keluarga.

Malam sebelum ada penyerangan ke tempat baru, para prajurit disuruh masuk barak tentara dan mulai menulis surat wasiat ini. Jika besok dalam penyerangan terjadi hal yang tidak diinginkan, maka kepala tentara mengantar pulang jenazah beserta surat itu.

Wah...ternyata demikian yah....kisah para prajurit. Memang jadi tentara itu gampang-gampang susah. Ada tentara yang kelihatan tampan, bodinya bagus dan menarik, dan sebagainya. Suatu saat pemandangan lenyap seketika dalam peperangan.

Tak ada yang tahu. Tetapi keluarga cukup terbantu dengan surat wasiat. Paling tidak itu sebagai bukti bahwa dia berkorban demi bangsanya. Dia juga tidak melupakan keluarga yang ditinggalkan.

PA, 27/10/2012
Gordi Afri
Powered by Blogger.