Posted by : Gordi Afri Apr 8, 2012


Ada satu kebiasaan dalam Gereja Katolik khususnya pada hari Kamis Putih. Setelah misa, ada doa bersama di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan di luar tabernakel. Inilah yang dinamakan tuguran. Apa makna tuguran ini?

Saya bertanya karena sudah lama berada dalam kebingungan. Sebagai makhluk berasio tentu saya bertanya tentang praktik hidup yang saya jalankan. Ini bukan mengada-ada. Ini merupakan bentuk pencarian. Kalau toh tidak ada jawaban yang memuaskan atau tidak ada jawaban sama sekali, tidak apa-apa. Itu menjadi tugas besar bagi saya untuk menemukannya.

Malam ini, saya juga ikut dalam rombongan besar menuju gereja paroki. Jumlah kami yang berjalan bersama sekitar 30-an orang. Jarum jam menunjukkan pukul 10.45. Kami membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di gereja. Ketika sampai di gereja masih ada kelompok doa yang mengadakan tuguran. Menurut jadwalnya, kelompok kami merupakan kelompok terakhir untuk doa-tuguran.

Pukul 11, kami mulai berdoa. Ada petunjuk berupa selembar kertas dengan 2 halaman. Di dalamnya ada urutan dan keterangan doa. Petunjuk ini dibuat di Keuskupan Agung Jakarta. Jadi, boleh jadi ketika kami mengikuti tuguran di gereja Katolik mana saja di Jakarta ini, petunjuk inilah yang digunakan dan selalu sama. Ada nyanyian, doa, dan sembah sujud. Bagian terbesar adalah doa hening.

Menurut petunjuk itu, doa tuguran memang merupakan doa hening. Nyanyian dan doa yang ada dalam petunjuk hanyalah selingan. Kami mengikuti petunjuk yang ada dan selesai pukul 11.30. Petugas gereja datang dan mengumumkan bahwa, masih ada waktu 30 menit untuk melakukan doa hening. Kami belum diperbolehkan pulang karena akan menunggu berkat penutup sekaligus pentahtaan kembali sakramen mahakudus ke sakristi (tempat persiapan imam dan petugas liturgi lainnya sebelum masuk ke gereja).

Saat tuguran, sakramen mahakudus ditahtakan di sudut kiri altar. Di Gereja Paskalis Cempaka Putih, tempat pentahtaan itu berada di bawah kaki patung Bunda Maria.

Beginilah kami melakukan tuguran pada hari Kamis Putih tahun 2012 ini. Saya jadi tahu bahwa bagian terpenting dari tuguran itu adalah saat hening. Masih menurut petunjuk yang ada, tuguran merupakan bentuk partisipasi kita dalam doa bersama Yesus di Taman Getsemani. Di taman itu Yesus berdoa sebelum nyawanya disiksa oleh serdadu Yahudi. Pantas kiranya di situ ada suasana hening.

Menjelang pukul 12, seorang pastor datang dan memberkati kami dengan sakramen mahakudus ini. Setelahnya, sakramen itu dibawa ke sakristi lalu kami pulang. Masih dalam rombongan besar, kami menyusuri jalan pulang. Malam ini suasana jalan agak sepi. Memang waktunya hampir tiba untuk pergantian hari. Kami sudah melewati beberapa menit di hari Jumat. Hari sengsara dalam tradisi Kristiani. Meski hari sengsara, kami tetap menyebutnya hari Jumat Agung. Tentang hal ini lebih baik dilanjut besok saja.***

CPR, 6/4/2012
Gordi Afri


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Life is Beautiful - Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -