Halloween party ideas 2015

foto oleh  Gallery TNP2K
Bahasa termasuk bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang paling ampuh. Tanpa bahasa manusia tidak berarti. Modal utama dalam komunikasi adalah bahasa. Bahasa Indonesia menjadi salah satu modal utama perekat bangsa Indonesia. 


Coba bayangkan, luas negara Indonesia yang diperkirakan 1.919.440 km2, dan merupakan negara dengan luas terbesar ke-15 di dunia (data dari http://truesize.blogspot.com). Dalam lagu diringkas menjadi “Dari Sabang sampai Merauke”. Dari Sabang, kota di ujung Barat sampai Merauke, kota di ujung Timur. Bahasa Indonesia menjadi jembatan untuk menghubungkan manusia Indonesia dari berbagai pulau. Dalam hal ini bahasa Indonesia sangat berjasa.

Di tengah gempuran berbagai bahasa daerah dan bahasa asing, bahasa Indonesia tetap menjadi sarana komunikasi yang paling ampuh. Di Flores, NTT, tempat saya mengenyam pendidikan dasar dan menengah, Bahasa Indonesia sangat berjasa. Di sekolah, kami dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia. Untuk komunikasi lisan kami menggunakan bahasa ibu, bahasa daerah. Sedangkan untuk bahasa tulis wajib menggunakan bahasa nasional. Mau tidak mau dan harus berusaha. Buku pelajaran semuanya ditulis dalam bahasa Indonesia. Saya dengan susah payah mempelajari bahasa ini mengingat di rumah dan lingkungan, saya menggunakan bahasa daerah.

Memasuki usia sekolah menengah, saya sempat khawatir, bagaimana saya bisa memahami bahasa Indonesia dari teman-teman. Saya pun giat mempelajari bahasa ini. Komunikasi lisan dengan bahasa Indonesia mulai aktif ketika SMP. Kebetulan ada beberapa teman yang pindah dari kota kabupaten dan mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Saya pun sering berkomunikasi dengan teman-teman ini dengan tujuan bahasa Indonesia saja lancar.

Di SMU, saya sudah tidak khawatir lagi karena bahasa Indonesia saya sudah bagus. Bahasa lisan, yang tidak sesuai dengan standar baku, juga sudah lancar. Bahasa tulis sesuai standar baku sudah bagus. Dengan bahasa Indonesia dalam dua ragam (lisan dan tulisan) ini saya bisa menikuti pelajaran dan bergaul dengan teman-teman siswa.

Ketika selesai SMA dan keluar dari Flores, penggunaan bahasa Indonesia ini semakin sering. Keluar dari Flores dan memasuki daerah NTB, Lombok, saya berkomunikasi dengan teman-teman dari Lombok. Beda bahasa daerah, beda suku, beda kebiasaan, di dalam kapal laut jadi satu. Kami berinteraksi dengan bahasa Indonesia. Saya bayangkan kalau saya belum bisa berbahasa Indonesia, saya hanya diam saja di dalam kapal itu. Tetapi nenek moyang bangsa ini sudah memikirkan semuanya supaya kami anak cucunya bisa berinteraksi satu sama lain dengan mewarisi bahasa Indonesia.

Berjalan lagi hingga tiba di Bali, saya berbincang-bincang dengan teman di Bali. Kami bisa berinteraksi karena bisa berbahasa Indonesia. Tentu kami berbahsa sesuai kebiasaan kami. Tak jarang beberapa kalimat harus diperjelas. Ini terjadi karena keterbatasan kami mencari kata yang tepat dan juga karena sering mencampuradukkan kata bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Tetapi ini kekurangan kecil karena kami toh pada akhirnya bisa memahami pembicaraan satu sama lain.

Berjalan lagi dan tiba di Pulau Jawa, mulai dari kota Yogyakarta hingga Jakarta. Saya bertemu banyak orang, Jawa dan luar Jawa. Bertemu orang Toraja, Sulawesi Selatan, orang Menado, orang Medan, Batak, Palembang, Kalimantan, Irian, Timor, Padang, Maluku, dan beberapa daerah lainnya. Kami bisa berkomunikasi satu sama lain.

Saya merasa bangga mempunyai bahasa Indonesia. Saya merasakan betul, kekuatan bahasa Indonesia sebagai perekat kesatuan bangsa dan jembatan berkomunikasi. Andai saya tidak bisa berbahasa Indonesia, alangkah sedihnya hati ini karena tidak bisa berkomunikasi dengan teman-teman dari daerah lain.

Dengan bahasa Indonesia saya mengenal berbagai budaya bangsa ini. Berbincang-bincang dengan orang Sulawesi, membicarakan tentang budaya Toraja. Saya jadi tahu betapa uniknya budaya pesta adat orang Toraja yang mengorbankan lebih dari seekor kerbau. Satu kali upacara adat memerlukan 5-6 ekor kerbau. Ini hanya contoh bagaimana kekuatan bahasa Indonesia dalam merekat persatuan bangsa.

Saya bangga mempunyai bahasa Indonesia. Di Yogyakarta, saya bergaul dengan orang-orang Jawa. Banyak di antara mereka yang fasih berbahasa Jawa. Mula-mula saya canggung berkomuniaksi dengan mereka. Betapa kurang enak, hanya mereka sendiri yang memahami pembicaraan itu. Tetapi lama-lama saya mencoba menyapa dngan bahasa nasional, bahasa Indonesia, mereka pun sadar dan mulai menggunakan bahasa Indonesia. Ini cerita kaum muda.

Kaum tua juga punya cerita unik. Saya pernah tinggal di daerah Boro, Kulonprogo. Di sana banyak orang menggunakan bahasa Jawa. Kata mereka, kalau mau belajar bahasa Jawa, datanglah ke sini. Memang benar, beberapa orang asing datang ke sana untuk belajar bahasa Jawa. Saya pun sempat memepelajari belasan kata bahasa Jawa bersama masyarakat di sana.

Saya berjalan keliling kompleks dan bertemu kakek dan nenek yang pulang dari kebun, juga orang-orang di pasar. Mereka berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Begitu mereka tahu, saya tidak bisa berbahasa Jawa, mereka menggunakan bahasa Indonesia. Ada beberapa yang masih kaku mengucapkan kata bahasa Indonesia tetapi kalau saya omong mereka bisa mengerti. Beberapa kakek dan nenek yang sering berjumpa dengan saya sedikit demi sedikit menyapa dengan bahasa Indonesia.

Ini luar biasa. Gara-gara saya kakek dan nenek itu juga berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang mempunyai kekuatan yang bisa menembus sekat budaya, bahasa daerah, suku, dan sekat-sekat sosial lainnya. Saya bangga mempunyai bahasa Indonesia. Kendati tidak semua orang menggunakan bahasa ini dalam pergaulan sehari-hari saya amat bangga bisa berbahasa Indonesia.

Agak aneh ketika ada sebagian rakyat Indonesia tidak bangga berbahasa Indonesia. Padahal bahasa indonesia mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam memersatukan rakyat negeri ini. Ada orang asing yang berkomentar bahasa Indonesia itu mudah dipelajari karena tata bahasanya sederhana. Kata kerjanya tidak perlu diubah sesuai subyek seperti beberapa bahasa asing. Dengan komentar ini, ada orang Indonesia yang merasa minder karena bahasa sederhana mencerminkan cara berpikir pemakainya. Tentu saja faktanya tidak demikian. Toh, orang asing juga beramai-ramai memperlajari bahasa Indonesia. Dan, mereka bangga menunjukkan kepada teman-teman mereka bahwa mereka bisa berbahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia pula mereka bisa belajar budaya bangsa indonesia yang beraneka ragam ini.

Mari kita lestarikan bahasa kita. Lebih dari sekadar lestari, kita mesti mempunyai kebanggaan yang tinggi terhadap bahasa kita.

PA, 22/8/2012
Gordi Afri




Post a Comment

Powered by Blogger.