Halloween party ideas 2015

foto dari flickr 
“Kebebasan adalah milik orang yg jujur..

Orang yang berbohong tak bisa bebas, karena terperangkap kebohonganya..”
Begitu tulis seorang teman facebook di statusnya pagi ini. Saya segera menyukai status ini dengan mengklik tanda jempol. Saya setuju kebebasan adalah milik orang jujur. Orang jujur bebas mengekspresikan argumennya karena dia merasa tidak ada yang menuduhnya macam-macam. Orang yang berbohong tidak bisa bebas karena kata-kata yang keluar dari mulutnya akan jadi perhatian/tuduhan banyak orang.

Lalu, bagaimana dengan bangsa Indonesia? Bangsa ini masuk dalam daftar negara yang diperhatikan secara khusus oleh komunitas internasional karena kasus korupsinya. Kita tidak bisa menutup mata dengan maraknya dugaan korupsi yang dilakukan koruptor kita. Koruptor-koruptor itu muncul dari tokoh populer politik, agamawan, akademisi yang kongkalingkong dengan pejabat terkait, dan juga dari pos-pos lain. Ada yang sudah di seret ke meja pengadilan, ada juga yang sedang diselidiki, ada yang sudah terbukti korupsi ada pula yang belum. Citra Indonesia di mata internasional pun jatuh. Ini masih satu sisi saja yakni kasus korupsi, belum kasus lainnya yang menjatuhkan citra negeri tercinta ini.

Koruptor adalah orang yang tidak jujur, yang suka berbohong, yang suka mencari-cari alasan. Kalau demikian, apakah mereka memiliki kebebasan? Mereka memiliki kebebasan karena itu hak setiap manusia. Hanya saja mereka menggunakan kebebasan itu dengan semaunya saja. Mereka menggunakan kebebasan untuk membuat keterangan palsu atas tuduhan kepada mereka. Keterangan bertele-tele membuat mereka masih bisa ngeluyuran ke mana-mana sebelum di karantina di sel penjara tahanan.

Melihat banyaknya koruptor di negeri ini dan banyaknya dugaan kasus korupsi maka bisa disimpulkan bahwa bagsa ini bangsa yang tidak bebas. Katidakbebasan ini juga merambah ke aspek lainnya seperti pelarangan pendirian tempat ibadat, pelarangan sekte agama tertentu, pelarangan diskusi buku, pelarangan aktivitas pengemis di kota, pelarangan kebeasan berekspresi, dan sebagainya. Pelarangan ini menjadi bukti dari ketidakjujuran bangsa ini.

Menjadi harapan bersama bahwa bangsa ini bisa keluar dari lumpur kebohongan. Kebohongan menggerogoti roh bangsa untuk maju mengejar kesuksesan bangsa lainnya. Kalau tidak bangsa ini semakin tua usia kemerdekaannya tetapi semakin melarat rakyatnya.
——————————————
*Ocehan di akhir pekan

CPR, 7/7/2012
Gordi Afri


Post a Comment

Powered by Blogger.