Halloween party ideas 2015

foto ilustrasi oleh boltron-
*catatan tentang facebook dan penggunanya

Facebook atau face to face?
Facebook, media yang kini kerap dikunjungi jutaan orang di seantero dunia. Media sosial ini masih di atas media lain misalnya Twitter. Facebook memang menawarkan beragam kemudahan. Ada pesan alias message, percakapan alias chatting, dan sebagainya. Semua isi perasaan tertumpah di media ini. 

Layaknya facebook dijadikan teman curhat (curahan hati), dan curper (curahan perasaan). Tak jarang ada olokan, seruan, ajakan, maki-makian, kata-kata kotor sebagai ekspresi marah, dan sebagainya. Meski demikian, di facebook pula orang mengumpulkan teman-tetamnnya menolong sesama. Singkatnya baik buruk ada di media ini. Media ini netral, manusialah yang mengubahnya sebagai tempat menanam kejahatan dan menanam kebaikan.

Dari dunia maya ke dunia nyata, mungkinkah? 
Di facebook hal ini mungkin dan bisa terjadi. Orang berkenalan di facebook lalu berlanjut dalam pertemuan di dunia nyata. Bertemulah kedua pribadi. Bukan lagi facebook tetapi face-to-face. Asal saja tak ada maksud jahat dibalik face-to-face itu. Kalau ini yang terjadi, facebook tetap tercoreng sebagai media yang kerap salah digunakan.
Facebook beralih ke face-to-face dalam bentuk lain adalah sapaan. Sapaan tidak berhenti di dinding facebook atau di kotak pesan. Sapaan itu mesti berlanjut di dunia nyata, menyapa di dunia nyata. Itulah sebabnya, orang bilang kalau Anda berkelana di dunia maya, jangan lupa mendarat di daratan. Daratan tetap menjadi habitat asli kita. Jangan sampai kita menyapa teman di seberang sana, sementara teman di samping kita abaikan. Ya…facebook layaknya menjadi awal menuju face-to-face.

Mari bersahabat dengan menggunakan media facebook sebagai ajang face-to-face. Face-to-face itulah realitas kita sebagai manusia yang bertubuh. Dalam facebook, tak ada manusia bertubuh. Yang ada hanyalah manusia berperasaan. Itulah salah satu perbedaan manusia dalam dunia maya dan dunia nyata. Filsuf Emanuel Levinas (1906-1995), pernah mengatakan orang lain adalah penampakan, epifani. Epifani berarti orang lain yang menampakan diri di hadapan saya. Penampakan orang lain menjadi sebuah panggilan bagiku untuk bertindak. Dalam relasi face-to-face ada tuntutan etis dan objektif. Orang lain adalah tanggung jawab saya.

CPR, 6/12/2011
Gordi Afri

Post a Comment

Powered by Blogger.