Halloween party ideas 2015



Hari ini seperti hari Anas nasional. Anas ramai dibicarakan. Di media massa nama Anas disebut-sebut. Padahal kita tahu nama itu hanya disebut dan bukan disebut-sebut.

Tetapi kalau nama Anas disebut-sebut berarti ada apanya si Anas. Sebab memang namanya tidak disebut-sebut. Disebut saja ya. Dia tokoh penting. Orang penting di partai demokrat. Wajar jika disebut.

Saya tadi pagi juga kaget. Sahabat saya yang menyapu halaman menyebut nama Anas. Dia sudah menerima koran pagi. Lalu, saya menyapanya pagi ini. Dia langsung bersahut dan menyebut nama Anas. Sahabat saya ini bukan awam media. Dia selalu membuka-buka koran setiap hari. Dia yang menerima koran pagi. Dia juga berlangganan koran pagi. Jadi dia tahu perkembangan kasus tenar di negeri ini.

Sekali lagi nama Anas disebut-sebut. Dia pernah berjanji jika mengorupsi uang akan digantung di Monas. Monas, monumen nasional di Jakarta, dulu menjadi pencakar tertinggi di Jakarta. Sekarang banyak saingannya. Andai Anas benar terbukti korupsi maka ia akan digantung di sana. Ini bukan paksaan tetapi sesuai ujarannya.

Nah, benarkah Anas mengambil sejumlah uang untuk proyek Hambalang itu? Dari KPK sudah ada sinyal ke sana. Jika sinyal ini sampai pada putusannya nanti, ujaran Anas akan terbukti. Dia digantung di Monas.

Apa kata dunia nantinya. Mana mungkin seorang tokoh partai menggantung diri? Atas ujaran sendiri dan bukan hukuman dari orang lain. Tapi benarkah Anas mau gantung? Ah itu hanya omong kosong. Boleh jadi itu hanya permainan kata-katanya saja. Dia sebenarnya takut digantung. Manusia normal mana yang mau gantung diri? Atau apakah Anas sakit jiwa sehingga harus gantung diri? Ah tidak. Dia masih sehat. Berarti dia hanya berujar saja.

Kalau nanti Anas terbukti mengorupsi uang itu, dan tidak jadi gantung, maka Anas berbohong pada rakyat. Dari media rakyat tahu, Anas pernah berujar demikian. Tetapi kalau nanti tidak gantung berarti dia berbohong. Maka, jangankan mengorupsi uang, Anas itu membohongi rakyatnya.

Rakyat tentunya belajar, ujaran akan terbukti benar dan salahnya. Tidak semua ujaran itu benar. Ada yang sekadar demi mengujar saja. Ada ujaran yang berisi. Jadi, rakyatlah menilai. Kritislah kepada tokoh politik kita.

PA, 22/2/13
Gordi


Post a Comment

Powered by Blogger.