Halloween party ideas 2015

foto oleh Alit Apriyana
Jarum jam menunjukkan pukul 5.30 sore. Suasana di kompleks kami masih gerimis. Baru saja turun hujan lebat. Sungai di sebelah rumah kami meluap. Beberapa ruas jalan tergenang air. Pengguna jalan berebut bagian jalan yang tidak tergenang air. Pengguna sepeda motor menyingkir dari jalan raya, mencari jalan tikus yang tidak tergenang air. Mobil angkutan dan mobil pribadi merelakan bagian bawahnya tersiram air berwarna kuning pekat. 

Aku berjalan kembali ke rumah. Jalanan masih basah. Telapak kakiku basah hingga terasa amat dingin. Ujung bawah sandal tertempel tanah cokelat. Langkah kaki terasa berat gara-gara sandal itu melengket kuat di jalan. Di pinggir jalan berdiri seorang gadis. Tampaknya dia baru saja pulang dari kantornya. Dia berdiri tepat di pinggir jalan tak bertrotoar. Di tangannya ada ponsel yang digenggamnya amat erat. Tas kecil berwarna hijau kusam dijinjingnya. Entah dia sedang menunggu teman cowoknya yang menjemputnya dengan sepeda motor suzuki ninja. Atau juga sedang menunggu bis metromini nomor 47.

Di seberang jalan berdiri juga seorang cewek ber-rok mini dan sepatu hak tinggi. Dia menyeberang jalan sambil melambaikan tangannya pertanda isyarat untuk berjalan pelan kepada pengemudi mobil dan sepeda motor. Di telinganya melekat earphone besar berwarna hitam. Hampir saja tidak terlihat daun telinganya. Dia juga berdiri entah sedang menunggu taksi atau mobil jemputan khusus. Sesekali tangannya memencet tombol di layar ponsel-nya. Entah mengatur volume musik atau mencari lagu favorit atau juga membalas pesan singkat dari pacarnya.

Aku melangkah pelan melewati dua cewek cantik ini. Senja makin mendekat. Jalanan mulai padat dengan kendaraan roda 2, 3, dan 4. Selokan di depan rumah hampir penuh. Kubuka pintu gerbang dan sekali lagi melihat kedua gadis itu. Mereka masih berdiri di pinggir jalan itu. Kapankah mereka akan pergi?

*****

Aku pamit hendak mandi kepada dua sahabatku. Mereka membaca pesan singkat itu lalu memberi komentar sebagai jawaban.

“Mandi……”, demikian bunyi pesan yang dibuat dalam waktu kurang dari satu menit itu. Entah mereka mengertinya seperti apa. Aku hanya bermaksud untuk pamit. Mungkin mereka akan mengabaikannya atau malah menanggapinya. Mungkin mereka sudah mandi atau belum, aku tak tahu. Aku hanya ingin mandi sekarang. Sebentar lagi senja berakhir.

“Gak, aku mau keluar sebentar, membeli makanan cemilan. Lagian, aku gak seperti kamu, mandi gak mandi tetap wangi…..” demikian balasan seorang temanku.

Aku tertawa membacanya. Aku dan dia sama-sama manusia. Aku dan dia sama-sama berkeringat. Aku dan dia sama-sama bekerja, mengeluarkan energi. Aku dan dia sama-sama wangi sekaligus bau setelah keringat mengucur. Mengapa dia tetap wangi? Bukankah dia juga bisa berkeringat? Ataukah dia menyiram tubuhnya dengan parfum wangi, cairan deodorant di ketiaknya, dan polesan bodylotion di kulitnya???? Kalau pun demikian, dia tetaplah akan bau setelah semuanya ini dikalahkan oleh kucuran keringat yang mengguyur seluruh tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

Ahh… dia hanya mengejekku. Aku tak yakin dia tetap wangi. Memang dia cantik dan memesona. Namun itu hanya tampilan luar yang kadang menipu. Hatinya bisa saja ceroboh, bobrok, kotor, dan penuh daya tipu muslihat. Aku ingin membalas pesan pendek itu.

“Kamu memang wangi tetapi tetap harus mandi supaya tubuhmu tetap wangi dan penampilanmu tetap memesona banyak cowok termasuk bapak-bapak. Ataukah kamu mau mandi malam-malam supaya menghabiskan waktu senja ini dengan bermain-main di dunia maya????” Kalimat itu kubuat dengan penuh hati-hati. Aku tak ingin melukai perasaannya.

Entah dia membalasnya bagaimana, aku tak peduli. Kalau dia bisa membuat kalimat seindah kalimat pesan pendek itu aku pun bisa. Aku dan dia sama-sama makhluk rasional yang kadang-kadang menerima sesuatu setelah ditelisik dengan rasio. Kami bukan orang yang menurut begitu saja atau mengiyakan saja kalimat yang terbaca. Kami mencernanya dengan otak kami.

“Gak kok, aku gak mandi malam-malam. Aku mau mandi juga. Kamu jangan intip ya…..???? Kalimat itu datang begitu saja.

Pikiranku melayang ke langit-langit. Andai aku ada di langit-langit kamar mandinya, apa yang akan aku lakukan?? Bagian mana yang ingin aku lihat? Apakah aku berdosa kalau melihatnya? Akankah aku ‘menginginkannya’ setelah bagian itu berhasil aku lihat? Apakah dia sadar kalau aku mengintipnya? Bagaimana reaksinya ketika tahu bahwa aku telah mengintipny? Akankah dia berteriak?

“Kalau pun aku mengintipmu, aku tak bisa melihat bagian yang aku inginkan darimu sahabat……” Aku membalasnya demikian. Jangan-jangan dia juga membayangkan hal-hal yang bukan-bukan di seberang sana.

“Aku tahu, jempol kakiku….” Katanya dalam pesan singkat yang datang belum satu menit itu.

“Bukan….,” jawabku sambil memikirkan kata-kata yang bisa melukiskan perasaanku saat ini.

“Ahh….itu jempol kakiku karena kamu gak bisa melihatnya. Jempolku tertutup kaus dan sepatu setiap hari sewaktu kuliah….”, balasnya. Kalimat ini amat panjang. Dia membawaku ke bagian yang hampir mirip dengan pikiranku.

“Bukan….sudah kubilang, aku gak akan bisa melihat bagian (tubuh) yang tersenbunyi darimu….,”

“Apakah itu? Itu hakikatnya tersembunyi mas. Kamu tidak boleh melihatnya. Kamu akan tahu nanti ketika kamu sudah saatnya mengetahui dan pantas melihatnya.”

Kaget. Aku tidak ingin melihat bagian yang dia maksudkan itu. Aku juga masih bingung dengan bagian yang dia tunjukkan itu. Aku sudah dewasa dan berkepala tiga. Apalagi yang belum pantas aku lihat???

“Kawan….aku ingin melihat telapak kakimu dan bukan jempolmu,” Surga ada di telapak kaki ibu. Kata orang seperti itu.

Bagiku telapak kaki adalah perasa paling sensitif. Namun, menjadi tidak sensitif lagi karena setiap saat dia tidak lagi bersentuhan langsung dengan tanah. Dia tidak bisa merasakan lagi runcingnya batu-batu di jalanan, dia tidak bisa lagi merasakan dinginnya lantai rumah, dia tidak lagi merasakan penderitaan yang dialami pemulung jalanan yang setiap saat menginjak lumpur dan sampah. Telapak itu tidak bisa lagi menjadi perasa untuk penderitaan manusia zaman ini. Setiap saat telapak itu menjadi tempat tersembunyi karena selalu dibalut kaus kaki pendek dan sok (kaus kaki panjang). Telapak kaki juga bisa menyembunyikan kesombongan, keserakahan, kedegilan hati manusia. Telapak kaki menjadi tempat akrab bagi penyelundupan narkoba……..Aku ingin melihat telapak kaki yang bersih dan murni, tidak tercemar antek-antek tipuan manusia zaman ini.

CPR, 17/4/2012
Gordi Afri

Post a Comment

Powered by Blogger.